KIRA Perkuat Keahlian Bahasa Asing Anak Bangsa, Tingkatkan Daya Saing di Era Digital
Aplikasi KIRA berbasis AI hadir sebagai game changer untuk meningkatkan penguasaan bahasa asing anak-anak Indonesia, memperkuat daya saing mereka di tengah perkembangan teknologi pesat.
Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana, menyoroti potensi besar program KIRA. Program ini adalah aplikasi latihan bahasa Inggris berbasis Artificial Intelligence (AI) yang aman bagi anak-anak. KIRA dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan bahasa asing anak-anak Indonesia.
Yohpy Ichsan Wardana menyebut KIRA sebagai "game changer" dalam pendidikan. Aplikasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing anak-anak Indonesia. Terutama bagi mereka yang berada di daerah tertinggal, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan inovasi.
KIRA melibatkan software engineer interns dari berbagai kampus di California. Mereka dibimbing oleh mentor engineer dari Silicon Valley, Anoop Sreedhar. Program ini diharapkan dapat terintegrasi dengan inisiatif pendidikan nasional, seperti Program Sekolah Rakyat. Manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak siswa dari keluarga kurang mampu di berbagai daerah.
Potensi KIRA sebagai Game Changer Pendidikan Nasional
Yohpy Ichsan Wardana, Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di San Francisco, secara tegas menyatakan bahwa program KIRA memiliki potensi besar. Ia menyebut KIRA sebagai "game changer" untuk meningkatkan penguasaan bahasa asing anak-anak Indonesia. Hal ini sekaligus memperkuat daya saing mereka di tengah cepatnya laju perkembangan dunia yang didorong teknologi dan inovasi.
Visi KJRI San Francisco adalah agar KIRA dapat diintegrasikan ke dalam berbagai inisiatif pendidikan nasional. Salah satu contoh yang disebutkan adalah Program Sekolah Rakyat. Integrasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa manfaat pembelajaran bahasa Inggris berbasis teknologi dapat dinikmati oleh lebih banyak siswa. Terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu di berbagai wilayah Indonesia.
Penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi krusial dalam menghadapi tantangan global. Dengan adanya KIRA, diharapkan kesenjangan akses pendidikan bahasa dapat diperkecil. Aplikasi ini menawarkan solusi inovatif untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara merata.
BERCERITA: Inovasi di Balik Pengembangan KIRA
Program KIRA merupakan hasil pengembangan dari BERCERITA. BERCERITA adalah singkatan dari Bridging Educational Resources to Cultivate Equity, Resiliency, Inclusivity, Tenacity and Agency. Organisasi nirlaba ini memiliki fokus utama memperkuat akses pendidikan bagi anak-anak sekolah dasar di daerah terbelakang di Indonesia.
Ilma Chairani, salah satu Co-founder BERCERITA, menjelaskan motivasi di balik pengembangan KIRA. "Kami mengembangkan KIRA agar anak-anak bisa terus berlatih di luar kelas," katanya. Selain itu, KIRA juga bertujuan membiasakan anak-anak menggunakan AI sebagai alat belajar masa depan.
Co-Founder BERCERITA lainnya, Suliati Boentaran, menyoroti pentingnya rasa percaya diri dalam menggunakan bahasa asing. "Kami ingin anak-anak merasa percaya diri menggunakan bahasa Inggris, bukan takut salah," ujarnya. KIRA dirancang untuk membantu mereka berlatih kapan saja dengan materi relevan dan lingkungan belajar yang aman.
Fitur Unggulan dan Keamanan Aplikasi KIRA
KIRA dilengkapi dengan dua fitur utama yang mendukung proses pembelajaran. Fitur pertama adalah Quiz, yang menyediakan latihan terstruktur. Latihan ini dirancang untuk mengikuti materi pembelajaran mingguan, memastikan konsistensi dalam proses belajar.
Fitur kedua adalah KIRA GPT, sebuah fitur percakapan berbasis AI. Fitur ini memungkinkan siswa berlatih bahasa Inggris secara natural. Pengalaman berbicara dengan KIRA GPT mirip seperti berinteraksi dengan asisten digital, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang interaktif.
Sistem KIRA juga mengutamakan keamanan pengguna, khususnya anak-anak. Aplikasi ini dilengkapi dengan filter topik dan sensor keamanan yang canggih. Fitur-fitur ini memastikan bahwa setiap percakapan yang terjadi di dalam aplikasi tetap berada dalam konteks pembelajaran yang positif dan aman.
Sumber: AntaraNews