Kemendes PDT Dorong Peningkatan Literasi Desa Hadapi Perubahan Iklim
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) berkomitmen meningkatkan literasi desa guna membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang kian nyata dan esensial.
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) bertekad kuat untuk meningkatkan literasi masyarakat desa. Upaya ini bertujuan agar desa-desa di Indonesia memiliki kemampuan adaptasi dan ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Inisiatif ini menjadi krusial mengingat kerentanan wilayah pedesaan terhadap dampak lingkungan.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, mengakui bahwa tingkat pemahaman masyarakat desa mengenai ketangguhan terhadap perubahan iklim masih tergolong rendah. Oleh karena itu, Kemendes PDT akan mencari sistem dan cara konstruktif untuk memastikan desa-desa memahami dan berperan aktif sebagai pelaku utama. Hal ini penting untuk mengawal dan menghadapi perubahan iklim secara mandiri.
Pernyataan tersebut disampaikan Yandri Susanto di Jakarta pada Senin malam, 19 Januari 2026, setelah membuka acara Workshop Global Knowledge Exchange on Community-Driven Approaches for Resilience. Lokakarya ini diselenggarakan oleh Kemendes PDT bekerja sama dengan Bank Dunia. Acara ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang bermanfaat.
Peningkatan Pemahaman Literasi Iklim di Pedesaan
Mendes PDT Yandri Susanto menekankan bahwa peningkatan literasi merupakan kunci utama agar desa dapat menjadi garda terdepan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Ia berharap rekomendasi yang dihasilkan dari lokakarya bersama Bank Dunia ini dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan. Kebijakan tersebut akan berfokus pada penguatan ketangguhan desa secara menyeluruh.
Perubahan iklim saat ini menuntut masyarakat untuk lebih tangguh, khususnya bagi mereka yang tinggal di wilayah pedesaan. Yandri Susanto mencontohkan, pada akhir tahun 2025 lalu, ribuan desa di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat terdampak bencana. Bahkan, beberapa desa dilaporkan hilang sama sekali akibat dampak ekstrem tersebut. Ini menunjukkan urgensi peningkatan literasi desa.
Dampak perubahan iklim, seperti bencana alam, paling dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat tentang mitigasi dan adaptasi menjadi sangat krusial bagi kelangsungan hidup dan keberlanjutan pembangunan di tingkat desa. Kemendes PDT berupaya keras untuk menjangkau setiap desa dengan informasi yang relevan dan program yang tepat sasaran.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Desa Tangguh Iklim
Mendes PDT Yandri Susanto juga mengingatkan pentingnya optimalisasi upaya membangun ketangguhan desa dalam menghadapi perubahan iklim melalui kerja sama seluruh pihak. Kolaborasi ini melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga partisipasi aktif dari masyarakat desa itu sendiri. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang mendukung.
Melalui kesempatan bekerja sama dengan Bank Dunia ini, Kemendes PDT bertekad memastikan bahwa informasi dan kesadaran mengenai tanggung jawab bersama dalam menghadapi perubahan iklim tersampaikan secara efektif. Program-program yang digulirkan tidak hanya bersifat seremonial, melainkan benar-benar sampai dan memberikan dampak nyata di lapangan. Ini merupakan langkah konkret.
Keterlibatan aktif dari semua elemen masyarakat, mulai dari tingkat individu hingga lembaga, sangat diperlukan untuk mencapai tujuan Desa Tangguh Iklim. Dengan demikian, setiap program yang dirancang dapat mengakomodasi kebutuhan spesifik desa. Hal ini juga memastikan keberlanjutan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di masa mendatang demi kesejahteraan bersama.
Sumber: AntaraNews