Kamboja Ekstradisi Bandar Judi Daring Besar Chen Zhi ke China
Kamboja telah mengekstradisi konglomerat Chen Zhi, yang dituduh sebagai bandar judi daring besar, ke China. Kasus ini mengungkap jaringan kejahatan transnasional yang melibatkan penipuan siber dan pencucian uang.
Pemerintah Kamboja mengumumkan penangkapan dan ekstradisi seorang konglomerat terkemuka, Chen Zhi, ke China. Penangkapan ini dilakukan atas tuduhan menjalankan operasi perjudian daring berskala besar dan penipuan telekomunikasi. Ekstradisi ini menandai langkah signifikan dalam upaya internasional memerangi kejahatan siber transnasional.
Kementerian Luar Negeri China menyambut baik penangkapan Ketua Prince Holding Group tersebut. Juru Bicara Mao Ning menyatakan bahwa pemberantasan perjudian daring adalah tanggung jawab bersama komunitas internasional. China berkomitmen untuk bekerja sama dengan negara-negara tetangga dalam penegakan hukum.
Chen Zhi, yang berusia 38 tahun, ditangkap bersama dua warga negara China lainnya pada Selasa (6/1) lalu. Penangkapan dan ekstradisi ini dilakukan atas permintaan otoritas China. Kasus ini menyoroti dampak luas dari kejahatan siber yang melintasi batas negara.
Latar Belakang dan Tuduhan Terhadap Chen Zhi
Chen Zhi, yang lahir di Provinsi Fujian, China, digambarkan oleh media China sebagai pemimpin sindikat kejahatan perjudian dan penipuan transnasional. Meskipun sempat memiliki kewarganegaraan Kamboja, status tersebut kini telah dicabut. Tuduhan terhadapnya sangat serius dan melibatkan berbagai yurisdiksi internasional.
Jaksa penuntut di Amerika Serikat mendakwa Chen Zhi atas tuduhan menjadi dalang penipuan siber multinasional. Ia juga dituduh menggunakan bisnisnya sebagai kedok untuk pencucian uang dan melakukan kekerasan terhadap pekerja. Modus operandi kelompoknya mencakup penipuan seperti 'sha zhu pan', yakni penipuan asmara atau investasi, yang menargetkan korban yang tidak curiga.
Chen Zhi, yang tidak tamat sekolah menengah, memulai karirnya dengan mendirikan perusahaan gim daring dan terlibat dalam pembajakan server gim ilegal. Pada tahun 2010, ia melarikan diri ke Kamboja dengan hasil kejahatannya dan membangun identitas baru sebagai pengembang properti. Ia memperoleh kewarganegaraan Kamboja pada tahun 2014.
Pada tahun 2015, Chen mendirikan Prince Group yang fokus pada pengembangan properti, lalu mendirikan Prince Bank, dan bahkan maskapai penerbangan pada tahun 2020. Ia pernah menjabat sebagai penasihat sejumlah menteri dan perdana menteri Kamboja sejak 2017. Media Kamboja sebelumnya menggambarkannya sebagai dermawan yang murah hati.
Aksi Internasional Melawan Jaringan Chen Zhi
Berbagai negara telah mengambil tindakan tegas terhadap Chen Zhi dan aset-asetnya. Pihak berwenang AS telah menyita aset Chen Zhi, termasuk properti senilai setidaknya 100 juta dolar AS dan mata uang kripto senilai 14 miliar dolar AS. Chen dituduh menipu 250 warga Amerika, dengan salah satu korban kehilangan 400.000 dolar AS dalam mata uang kripto.
Di Inggris, pihak berwenang membekukan bisnis dan aset Chen, termasuk sebuah rumah mewah senilai 12 juta euro dan gedung perkantoran senilai 100 juta euro di London. Ini menunjukkan skala global dari operasi kejahatan yang diduga dilakukannya. Penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap seluruh jaringan.
Singapura juga telah melakukan penyelidikan sejak 30 Oktober, menyita aset keuangan milik Chen senilai lebih dari 150 juta dolar Singapura atau setara 114 juta dolar AS, serta satu kapal pesiar. Sementara itu, polisi Taiwan menyita 26 mobil mewah, termasuk Ferrari, Bugatti, dan Porsche, yang diduga terkait dengan Chen Zhi. Polisi Hong Kong juga telah menyita aset keuangannya.
Peran Prince Group dalam Kejahatan Daring
Prince Group, yang didirikan oleh Chen Zhi, disebut mengoperasikan lebih dari 100 bisnis di 30 negara. Jaringan pusat penipuan utama kelompok ini dilaporkan berada di Kamboja dan Myanmar. Pusat-pusat ini telah menipu banyak korban di berbagai negara, menimbulkan kerugian finansial yang signifikan.
Meskipun Prince Group sebelumnya membantah keterlibatan dalam penipuan dan mengklaim telah memutus hubungan dengan kawasan penipuan daring, media mengindikasikan hal sebaliknya. Hingga tahun 2025, Prince Group diduga mengendalikan lebih dari 10 lokasi ilegal di Kamboja. Ini menunjukkan skala dan kompleksitas operasi mereka.
Laporan menyebutkan bahwa dua lokasi saja memiliki 'peternakan ponsel' dengan 1.250 unit ponsel. Mereka juga mengoperasikan lebih dari 76.000 akun media sosial palsu yang digunakan untuk menipu korban. Hasil kejahatan ini kemudian dipindahkan menggunakan mata uang kripto, menyulitkan pelacakan oleh pihak berwenang.
Sumber: AntaraNews