JK Yakini Keaslian Ijazah Jokowi: Stop Perkara Ini, Tinggal Perlihatkan Ijazahnya yang Asli
JK menyayangkan polemik ijazah Jokowi tersebut masih terus bergulir. Banyak pihak dirugikan termasuk Jokowi.
Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) menyakini jika Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) memiliki ijazah asli. Hal ini disampaikan usai membuat laporan terhadap Rismon Hasiholan Sianipar di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.
"Ya sebenarnya kasus ini kan sudah 2 tahun, 3 tahun. Meresahkan masyarakat, merugikan waktu, merugikan Pak Jokowi, merugikan semua, puluhan miliar uang habis untuk apakah itu pengacara, apakah itu seperti saya ini, waktu saya hilang, dilibatkan," kata JK kepada wartawan, Jakarta, Rabu (8/4).
Menyakini ijazah milik eks Gubernur DKI Jakarta itu asli, sehingga kasus itu bisa cepat selesai dengan menunjukkan ijazah asli.
"Sebenarnya sederhana persoalannya, karena saya yakin Pak Jokowi bahwa punya ijazah asli. Ya sebenarnya kita stop lah ini perkara dengan cara tinggal Pak Jokowi memperlihatkan ijazahnya kan yang asli. Saya yakin itu, itu saja. Supaya ini habis waktu kita," ujarnya.
"Anda mungkin senang karena tiap malam ada berita kan, tapi kita waktu habis, biaya ongkosnya mahal, dan terjadi perpecahan di masyarakat. Pro kontra kan perpecahan, mati-matian di TV. Itu sifat nasional kita terganggu dengan cara itu," sambungnya.
Selain itu, JK menyakini jika mantan Wali Kota Solo tersebut mau melihatkan ijazah asli kepada masyarakat daripada harus adanya perseteruan.
JK Yakin Jokowi Alami Kerugian Sosial
"Saya yakin Pak Jokowi mengerti bagaimana kerugian sosial kita, masalah 2-3 tahun ini. Tinggal dikasih lihat, selesai. Tinggal dikasih lihat masyarakat saja selesai. Saya yakin itu Pak Jokowi akan begitu karena daripada kita berseteru," ungkapnya.
JK Yakini Jokowi Tak Ingin Perpecahan
"Ada kelompok berseteru bertahun-tahun, hilang waktu, hilang harkat sosial, hilang, nah itu lah kita harapkan. Selesai lah bulan ini menunjukkan ijazah saya," tambahnya.
Terlebih, JK juga menyakini jika Jokowi tidak ingin adanya perpecahan atau masyarakat terpecah belah.
"Saya yakin dan pasti Pak Jokowi tidak menginginkan sebagaimana Presiden tidak menginginkan masyarakatnya pecah belah karena soal kecil ini. Setuju kan," katanya.