Jasad Anak Bojongpicung Ditemukan Mengambang di Irigasi, Diduga Tenggelam
Warga Bojongpicung, Cianjur, digegerkan penemuan jasad anak laki-laki berusia 11 tahun di saluran irigasi. Polisi masih mendalami penyebab pasti kematian Jasad Anak Bojongpicung tersebut yang diduga tenggelam.
Warga Desa Sukajaya, Bojongpicung, Cianjur, Jawa Barat, dikejutkan oleh penemuan jasad seorang anak laki-laki berusia 11 tahun berinisial F. Jasad tersebut ditemukan mengambang di saluran induk irigasi pada Minggu, 7 Juni. Peristiwa tragis ini segera dilaporkan kepada pihak berwenang untuk penanganan lebih lanjut.
Petugas dari Polsek Bojongpicung dan Tim Identifikasi Forensik (Inafis) Polres Cianjur segera bergerak ke lokasi kejadian. Mereka melakukan evakuasi jasad korban dan olah tempat kejadian perkara untuk mengumpulkan informasi. Penemuan ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban dan keprihatinan di kalangan masyarakat setempat.
Dugaan sementara menunjukkan bahwa korban meninggal dunia akibat tenggelam setelah terbawa arus saat berenang di saluran irigasi. Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi kejadian secara menyeluruh. Hal ini penting untuk mengungkap rangkaian peristiwa sebelum jasad korban ditemukan.
Kronologi Penemuan Jasad Anak Bojongpicung
Penemuan jasad F (11) pertama kali dilaporkan oleh warga yang melihatnya mengambang di aliran induk irigasi. Warga yang terkejut segera memberitahukan temuan ini kepada pihak desa, yang kemudian meneruskannya ke Polsek Bojongpicung. Laporan cepat dari masyarakat memungkinkan penanganan awal yang sigap dari aparat kepolisian setempat.
Kapolsek Bojongpicung, Iptu Muchtaromi, menjelaskan bahwa setelah menerima laporan, petugas langsung menuju lokasi. Mereka mengevakuasi jasad korban ke pinggir sungai dan membawanya ke RSUD Cianjur untuk visum. Proses ini merupakan bagian standar dari prosedur penyelidikan untuk mendapatkan informasi medis awal mengenai penyebab kematian.
Petugas kepolisian bersama Tim Inafis Polres Cianjur juga melakukan olah tempat kejadian perkara. Langkah ini bertujuan untuk mengumpulkan keterangan saksi dan bukti-bukti di lapangan. Keterangan dari saksi mata dan keluarga menjadi kunci dalam menyusun gambaran utuh mengenai peristiwa yang terjadi sebelum korban ditemukan.
Penyelidikan Awal dan Keputusan Keluarga
Berdasarkan keterangan saksi dan pihak keluarga, korban diduga tenggelam di saluran irigasi dan terbawa arus hingga beberapa ratus meter ke saluran induk irigasi. Informasi ini menjadi petunjuk awal bagi polisi dalam mendalami kasus ini. Penyelidikan terus dilakukan untuk melengkapi keterangan dan memastikan kronologi kejadian secara akurat.
Hasil pemeriksaan awal pada tubuh korban tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan. Oleh karena itu, dugaan sementara penyebab kematian adalah tenggelam setelah terjatuh ke saluran irigasi. Penemuan ini mengindikasikan bahwa insiden tersebut murni kecelakaan.
Meskipun demikian, pihak kepolisian menawarkan proses autopsi kepada keluarga untuk memastikan penyebab kematian secara medis. Namun, keluarga korban menolak autopsi dan telah membuat surat pernyataan resmi terkait keputusan ini. Dengan adanya penolakan autopsi, jasad korban kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Reaksi Warga dan Peran Pjs Kepala Desa
Penemuan jasad anak laki-laki ini sempat menggegerkan warga sekitar yang hendak berangkat ke ladang. Mereka melihat jasad mengambang dengan wajah terendam air, sebuah pemandangan yang tentu saja mengejutkan dan memilukan. Kejadian ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Bojongpicung.
Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Sukajaya, Deki Afrianto, menyatakan bahwa pihaknya langsung menuju lokasi bersama petugas Polsek Bojongpicung setelah mendapat laporan. Kehadiran Pjs Kepala Desa menunjukkan respons cepat pemerintah desa dalam menangani situasi darurat di wilayahnya.
Deki Afrianto menambahkan bahwa setelah mengevakuasi jasad, mereka berupaya mencari pihak keluarga korban. Diketahui, korban merupakan warga Kampung Ciseupan, yang berjarak sekitar dua kilometer dari lokasi penemuan. Upaya ini menunjukkan koordinasi yang baik antara aparat desa dan kepolisian dalam mengidentifikasi dan menghubungi keluarga korban.
Sumber: AntaraNews