Indonesia Peringkat 7 Dunia Gastronomi, Buku Wisata Rasa Bumi Pasundan Perkuat Posisi Global
Buku Wisata Rasa Bumi Pasundan diluncurkan Kemenpar untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi gastronomi dunia, khususnya di Jawa Barat, dengan potensi kuliner yang luar biasa.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah meluncurkan buku berjudul "Wisata Rasa Bumi Pasundan" di Bandung pada hari Minggu, 19 Oktober. Peluncuran ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi Indonesia untuk semakin kokoh sebagai destinasi gastronomi kelas dunia. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan optimismenya terhadap dampak positif buku ini.
Buku ini dirancang sebagai panduan komprehensif yang dapat dioptimalkan oleh berbagai pihak. Terutama, pelaku industri gastronomi seperti agen perjalanan, operator tur, dan pemandu wisata, bersama dengan komunitas terkait, diharapkan dapat memanfaatkan informasi di dalamnya. Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman wisata kuliner yang otentik dan berkelanjutan bagi para pengunjung.
Widiyanti menjelaskan bahwa peluncuran buku "Wisata Rasa Bumi Pasundan" merupakan langkah strategis. Ini adalah upaya nyata dalam memperkuat perkembangan pola perjalanan wisata gastronomi, khususnya di wilayah Bandung Raya, Garut, dan Tasikmalaya, sehingga wisatawan dapat menikmati kekayaan rasa dan cerita lokal.
Buku Panduan Gastronomi dan Penguatan Posisi Global
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa buku "Wisata Rasa Bumi Pasundan" bukan sekadar koleksi resep atau daftar tempat makan. Buku ini merupakan kumpulan data, spot, lokasi, dan dekorasi yang berfokus pada pengalaman berwisata gastronomi secara menyeluruh. Hal ini sejalan dengan visi untuk menjadikan setiap hidangan memiliki cerita dan setiap perjalanan meninggalkan kesan mendalam.
"Ini sekaligus menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi gastronomi dunia, tempat dimana setiap rasa memiliki cerita, dan setiap perjalanan meninggalkan kesan yang mendalam," kata Widiyanti saat peluncuran di sekitar Jalan Progo, Bandung. Panduan ini diharapkan dapat memfasilitasi pelaku pariwisata dalam merancang paket wisata yang lebih menarik dan berkarakter.
Melalui buku ini, Kemenpar berupaya untuk menyajikan informasi yang akurat dan terpercaya mengenai kekayaan kuliner di Jawa Barat. Dengan demikian, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara dapat dengan mudah menemukan dan menikmati keaslian rasa serta budaya yang ditawarkan oleh Bumi Pasundan. Inisiatif ini juga mendukung upaya promosi pariwisata Indonesia secara global.
Potensi Gastronomi Jawa Barat yang Kaya Cerita
Pemilihan Jawa Barat, khususnya kawasan Bandung, Garut, dan Tasikmalaya, sebagai fokus utama dalam buku "Wisata Rasa Bumi Pasundan" tidak terlepas dari potensi gastronominya yang luar biasa. Wilayah ini dikenal memiliki keragaman kuliner yang kaya akan sejarah dan makna. Setiap hidangan di daerah ini mampu menghadirkan narasi lokal yang mendalam.
Widiyanti mencontohkan beberapa kuliner khas yang menjadi daya tarik. "Dari gurihnya nasi tutug oncom, segarnya karedok, hingga manisnya burayot, setiap hidangan menghadirkan nasi lokal yang kaya dan bermakna," ujarnya. Melalui pola perjalanan wisata yang terstruktur, kuliner tidak hanya menjadi santapan, tetapi juga sebuah cerita yang memperkaya daya tarik destinasi pariwisata.
Kekayaan kuliner ini menjadi magnet bagi wisatawan yang mencari pengalaman otentik. Dengan adanya panduan seperti "Wisata Rasa Bumi Pasundan", diharapkan lebih banyak orang dapat menjelajahi dan mengapresiasi warisan kuliner Jawa Barat. Hal ini juga berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan dan berdampak positif pada ekonomi lokal.
Gastronomi sebagai Ekosistem Ekonomi dan Daya Tarik Wisata
Bagi Indonesia, gastronomi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kuliner; ia adalah sebuah ekosistem yang kompleks. Ekosistem ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, peternak, nelayan, pengrajin, hingga koki dan masyarakat luas. Peran mereka sangat penting dalam menggerakkan roda ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan memperkuat pariwisata berbasis kuliner.
"Dari ladang hingga meja makan, gastronomi sangat berperan penting dalam menggerakkan ekonomi. Sinergi antara kuliner dan pariwisata melahirkan pengalaman yang otentik, berkarakter dan bernilai tambah tinggi," ucap Widiyanti. Keterlibatan berbagai sektor ini menciptakan rantai nilai yang kuat dan berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi yang signifikan.
Inilah yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan berkualitas yang mencari pengalaman berwisata mendalam. Mereka tidak hanya ingin menikmati rasa, tetapi juga ingin memahami budaya dan mempelajari kisah di balik setiap sajian. Gastronomi menawarkan kesempatan untuk terhubung dengan warisan lokal dan mendukung komunitas setempat.
Pengakuan Dunia dan Program Pariwisata Naik Kelas
Gastronomi Indonesia kini mulai mendapatkan pengakuan di kancah global, seperti yang ditunjukkan oleh Publikasi Taste Atlas. Publikasi tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-7 dunia dan urutan pertama di Asia Tenggara dalam hal kuliner. Bahkan, enam kota di Indonesia, termasuk Bandung, masuk dalam daftar 100 Best Food Series.
Widiyanti menegaskan bahwa momentum pengakuan ini perlu dimanfaatkan dengan baik. Peluncuran buku "Wisata Rasa Bumi Pasundan" adalah salah satu upaya untuk mendukung pemanfaatan tersebut. Inisiatif ini juga sejalan dengan implementasi program quality tourism atau pariwisata naik kelas yang diusung oleh Kemenpar, melalui pengembangan gastronomi, wellness, dan wisata bahari.
"Pengembangan itu memperkuat rantai nilai pariwisata dari petani, pengrajin, hingga pelaku usaha dan destinasi. Serta membuka peluang besar untuk menarik lebih banyak wisatawan berkualitas yang memberi dampak ekonomi signifikan," tuturnya. Dengan demikian, pengembangan gastronomi diharapkan tidak hanya meningkatkan citra pariwisata, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews