Hendropriyono: Bersatu Lawan Intelijen Internasional
Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono dan sejumlah akademisi, praktisi, dan pemerhati intelijen dari berbagai negara resmi mendeklarasikan Manifesto Internasional.
Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono dan sejumlah akademisi, praktisi, dan pemerhati intelijen dari berbagai negara resmi mendeklarasikan Manifesto Internasional (Terbuka) Filsafat Intelijen di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Deklarasi ini menjadi seruan global untuk mengembalikan fungsi intelijen sebagai instrumen etis demi kemaslahatan umat manusia dan kelestarian lingkungan.
Dalam pembukaan manifesto, para penggagas menyoroti maraknya fenomena proxy war yang bersenjata hoaks, disinformasi, dan rekayasa realitas (simulakra).
Mereka menilai kondisi tersebut tidak hanya merusak tatanan geopolitik, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap institusi, hukum, dan kebenaran itu sendiri.
Lima Pokok Seruan Manifesto
Manifesto tersebut memuat lima pilar utama:
1. Paradigma Intelijen untuk Kemaslahatan Manusia dan Lingkungan
Intelijen sejati tidak hanya berurusan dengan keamanan negara, tetapi juga dengan keamanan hidup umat manusia dan kelestarian lingkungan. Paradigma intelijen yang kami usung adalah paradigma yang humanis, etis, dan berorientasi pada masa depan, yang mengutamakan kehidupan damai dan keberlanjutan ekologis.
2. Etika Universal sebagai Landasan Intelijensia
Etika universal harus menjadi fondasi dari seluruh kegiatan intelijen. Intelijen, pada hakikatnya, adalah panca indera setiap bangsa yang berfungsi mengamati, menganalisis, dan memperingatkan. Tanpa etika, intelijen mudah tergelincir menjadi alat penindasan dan kebohongan. Dengan etika, intelijen menjadi pelindung kebenaran dan penegak keadilan.
3. Penolakan terhadap Praktik Intelijen yang Tidak Jujur
Kami menolak segala bentuk praktik intelijen yang tidak jujur-yakni yang cenderung tidak benar (inaccurate) dan tidak tepat (inappropriate)-yang mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi umat manusia. Intelijen yang menyesatkan adalah pelanggaran moral terhadap tanggung jawab kemanusiaan.
4. Pemajuan Filsafat Intelijen sebagai Disiplin Ilmu
Kami menyerukan kepada seluruh perguruan tinggi di dunia untuk memberlakukan Filsafat Intelijen sebagai disiplin filsafat yang beroperasi dalam ranah intelijen. Disiplin ini akan menjadi pilar akademik yang mengajarkan moralitas, epistemologi, dan ontologi dalam praktik intelijen, sekaligus menjadi benteng terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
5. Komitmen Kolektif
Manifesto ini adalah komitmen bersama untuk:
● Menghentikan penggunaan intelijen sebagai alat proxy war berbasis hoaks dan simulakra.
● Membangun tata kelola intelijen yang akuntabel, transparan, dan etis.
● Mengembangkan riset intelijen yang berpihak pada kebenaran dan kesejahteraan global.
● Menumbuhkan generasi intelijensia yang memiliki integritas, kecerdasan moral, dan kepekaan ekologis.
Dukungan Akademisi dan Praktisi
Manifesto ditandatangani oleh sejumlah tokoh terkemuka, antara lain Prof. A.M. Hendropriyono (Sekolah Tinggi Intelijen Negara), Dr. Saifur Rohman (Universitas Negeri Jakarta), Prof. Mustari Mustafa (UIN Alauddin), serta sejumlah profesor UGM, seperti Prof. Djoko Suryo, Prof. Soejadi, Prof. Mukhtasar Syamsuddin, dan Prof. Siti Murtiningsih.
Selain itu, dukungan juga datang dari kalangan internasional, termasuk akademisi Al-Azhar University, Kairo, Mesir, serta tokoh pertahanan seperti Prof. Amarulla Octavian (Universitas Pertahanan).
Dalam penutupnya, para penggagas menegaskan bahwa manifesto ini bersifat terbuka. Akademisi dan pihak lain yang sejalan dengan prinsip-prinsipnya dipersilakan turut menandatangani. Dengan demikian, daftar pendukung manifesto dapat terus bertambah seiring waktu.
“Intelijen yang berlandaskan filsafat adalah kunci untuk mewujudkan dunia yang damai, adil, dan berkelanjutan,” demikian pernyataan resmi dalam manifesto.