Habitat Satwa Kunci di Bukit Tigapuluh Menyusut, BKSDA Jambi Ungkap Ancaman Serius
Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi melaporkan penyusutan drastis habitat satwa kunci di lanskap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) akibat aktivitas manusia, mengancam kelangsungan hidup gajah, harimau, dan orangutan Sumatra.
Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mengungkapkan kondisi ekosistem kritis di lanskap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) mengalami penyusutan signifikan. Penyusutan ini disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia yang masif di wilayah tersebut.
Dampak langsung dari penyusutan ini adalah berkurangnya ruang jelajah bagi satwa kunci seperti gajah, harimau, dan orangutan Sumatra. Situasi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar, yang dapat merugikan kedua belah pihak.
Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko, menyatakan bahwa lanskap Bukit Tigapuluh merupakan area hutan dataran rendah dan perbukitan yang strategis di Provinsi Jambi. Kawasan ini mencakup Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat, dengan luas sekitar 270.000 hektar.
Ancaman Serius bagi Satwa Kunci Sumatra
Lanskap Bukit Tigapuluh memegang peranan vital dalam konservasi keanekaragaman hayati. Wilayah ini menjadi habitat penting bagi spesies kunci yang terancam punah, termasuk sekitar 10 persen populasi gajah Sumatra dataran rendah.
Selain itu, sekitar 10 persen populasi harimau Sumatra liar juga hidup di area ini. Program reintroduksi orangutan Sumatra turut berlangsung di habitat alami mereka di lanskap tersebut.
Namun, aktivitas manusia yang terus meningkat telah mengikis kapasitas alami lanskap. Akibatnya, fungsi sebagai habitat bagi spesies kunci dan ikonik Sumatra terancam serius.
Tekanan Pembangunan dan Konflik Lahan
Himawan Sasongko menjelaskan bahwa lanskap Bukit Tigapuluh juga merupakan area utama pengembangan perkebunan kayu industri. Program perhutanan sosial serta area perbatasan dengan budidaya komoditas bernilai ekonomi lainnya turut berkontribusi pada tekanan ini.
Kondisi ini menciptakan tantangan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Persaingan penggunaan lahan antara manusia dan satwa liar semakin intens.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memperbaiki tata kelola lanskap. Hal ini penting guna memastikan kawasan tersebut tetap menjadi ruang hidup bersama yang kondusif.
Langkah-langkah tersebut tidak hanya untuk melindungi satwa liar ikonik Sumatra dalam kondisi baik, tetapi juga untuk menjaga populasi yang stabil dalam jangka panjang.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Konservasi Berkelanjutan
BKSDA Jambi menekankan bahwa upaya konservasi memerlukan kontribusi positif dari berbagai pemangku kepentingan. Pihak-pihak ini meliputi pemerintah pusat dan daerah, aktivis konservasi dan sosial, akademisi, serta pengelola lahan.
Baik perusahaan swasta maupun masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar lanskap diharapkan berperan aktif. Kolaborasi ini krusial untuk mencapai tujuan konservasi yang berkelanjutan.
BKSDA Jambi juga mengapresiasi peluncuran inisiatif "Promoting Sustainability Landscape Management through Biodiversity Conservation and Forest Positive Action in Bukit Tigapuluh". Inisiatif ini didukung oleh APP Group dan Proforest, bersama mitra WWF Indonesia dan KKI WARSI.
Langkah strategis menuju pengelolaan lanskap kolaboratif ini diharapkan dapat mendorong perbaikan berkelanjutan. Terutama dalam tata kelola lanskap Bukit Tigapuluh demi masa depan ekosistem dan satwa.
Sumber: AntaraNews