Gelombang Panas Ganggu Pasokan Air di Hungaria
Suhu ekstrem di Hungaria baru saja mencapai rekor tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gelombang panas yang sangat ekstrem di Eropa telah menyebabkan sistem distribusi air yang sudah tua di Hungaria tidak mampu memenuhi lonjakan permintaan air.
Di sebuah desa berbukit di barat laut Budapest, kakak beradik Andras dan Blanka Arki terlihat membawa sekantong wadah plastik serta botol untuk mengisi air dari mobil tangki yang terparkir di tepi jalan. Saat itu, suhu udara sudah mencapai 41 derajat Celsius. Mereka berharap dapat membawa pulang cukup air bersih untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga mereka.
"Air ini terutama untuk diminum. Kami juga harus memberi minum hewan-hewan peliharaan," ungkap Andras, seorang mahasiswa, kepada AFP.
Pria berusia 23 tahun ini menyebutkan bahwa keluarganya memelihara seekor anjing, seekor kucing, dan sekitar 10 ekor ayam. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka terpaksa bolak-balik mengambil air hingga tiga kali dalam sehari. Seperti banyak warga Desa Szada yang terletak sekitar 25 kilometer di barat laut Budapest, rumah mereka sudah hampir dua hari tidak mendapatkan pasokan air ledeng.
Pada Selasa (30/6), badan meteorologi nasional melaporkan bahwa Hungaria mencatat suhu tertinggi baru, dengan suhu di Kota Szecseny, yang terletak di utara Hungaria, mencapai 42 derajat Celsius. Rekor ini melampaui suhu tertinggi sebelumnya yang tercatat pada tahun 2007, yakni 41,9 derajat Celsius.
"Belum Pernah Terjadi Sebelumnya."
Sekitar 75% dari 6.600 penduduk Szada mengalami masalah dengan pasokan air mulai Senin pagi (29/6). Menurut Endre Marton Laszlo, anggota parlemen setempat dari Partai Tisza yang berkuasa, pasokan air diperkirakan baru akan kembali normal pada Rabu (1/7). Ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan air dengan bijak dan tidak menimbun persediaan.
Edina Fabian, seorang warga berusia 25 tahun, mengungkapkan bahwa ia dan pasangannya berusaha menghemat air yang mereka dapatkan dari mobil tangki.
"Kami memakai air sesedikit mungkin," ujarnya saat berada di ruang ganti sebuah lapangan olahraga yang digunakan sementara sebagai fasilitas mandi umum.
Edina mengaku sudah sangat ingin mandi setelah lebih dari sehari berkeringat akibat cuaca panas.
"Kamar tidur kami sangat panas. Bahkan dengan pendingin ruangan, suhunya hanya bisa diturunkan menjadi sekitar 27 hingga 28 derajat Celsius," tambahnya.
Banyak warga merasa frustrasi dengan krisis air ini karena mengganggu aktivitas sehari-hari mereka.
Claudio Pittia, seorang ekonom berusia 53 tahun, mengatakan, "Ini sangat merepotkan. Kami tidak bisa mencuci piring, menyiram toilet, atau melakukan kebutuhan sehari-hari lainnya."
Wali Kota Szada Lajos Pinter menjelaskan bahwa desa mereka hanya mengalami gangguan pasokan air sesekali pada musim panas, dan itu pun hanya berlangsung singkat di satu atau dua jalan yang terletak di kawasan lebih tinggi.
"Gangguan pasokan air yang berlangsung lebih dari setengah hari belum pernah terjadi di sini sebelumnya," ujarnya kepada AFP.
Perusahaan air minum setempat telah menempatkan empat mobil tangki air di beberapa titik di desa tersebut, dan militer Hungaria juga mengirim ribuan kantong air berukuran setengah liter untuk didistribusikan kepada warga yang rentan.
Di berbagai wilayah Hungaria, puluhan daerah juga memberlakukan pembatasan penggunaan air sebagai langkah antisipasi untuk mencegah gangguan layanan. Perdana Menteri Peter Magyar telah berulang kali mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan air dan menunda kegiatan yang tidak mendesak, seperti mencuci mobil. Ia memperingatkan bahwa jaringan distribusi air yang sudah tua berisiko kolaps jika konsumsi air tidak dikendalikan.
Di Szada, sepasang warga yang baru tiba dari Norwegia untuk mengunjungi keluarga mengaku kesulitan beradaptasi dengan cuaca yang sangat panas dan terputusnya pasokan air.
"Sebagai orang yang baru datang dari luar, kami juga tidak mengerti mengapa situasi seperti ini tidak bisa dicegah," kata Peter, seorang analis keuangan yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, kepada AFP.
"Kalau memang pasokan air sudah mulai menipis, mengapa mereka menunggu sampai benar-benar habis? Kenapa tidak menghentikan layanan lebih awal?"