Gubernur Ajak Warga Perkuat Kerukunan Umat Beragama di Papua Demi Harmoni Abadi
Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri menyerukan masyarakat untuk terus menjaga dan memperkuat Kerukunan Umat Beragama di Papua, menjadikannya fondasi utama dalam menciptakan kedamaian dan persatuan yang harmonis.
Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama. Ajakan ini disampaikan dalam upaya menciptakan Papua yang harmonis dan damai secara berkelanjutan. Pernyataan tersebut disampaikannya saat peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama di Jayapura.
Acara penting tersebut berlangsung di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Jayapura, pada Sabtu lalu. Dalam kesempatan itu, Gubernur Fakhiri menegaskan bahwa kerukunan beragama adalah kekuatan besar bagi Papua. Hal ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, dari sinilah kedamaian dan persatuan di Tanah Papua dapat terus terbangun dan terpelihara. Oleh karena itu, menjaga kerukunan umat beragama menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah. Ini juga menjadi tanggung jawab kolektif setiap individu di Papua.
Peran Vital Kemenag dan Identitas Toleransi Papua
Gubernur Mathius D. Fakhiri menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Agama (Kemenag), khususnya Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Papua. Apresiasi ini diberikan atas peran aktif Kemenag dalam memelihara toleransi serta keharmonisan kehidupan beragama di Tanah Papua. Kemenag dinilai berhasil menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas sosial keagamaan.
Toleransi di Papua telah terbangun sejak lama dan menjadi identitas masyarakat yang kuat. Identitas ini harus terus dipelihara, meskipun Papua kini telah mengalami pemekaran wilayah. Kerukunan umat beragama di Papua merupakan cerminan dari nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Kondisi ini menunjukkan kematangan masyarakat dalam menyikapi perbedaan keyakinan.
Gubernur Fakhiri menekankan pentingnya merawat bersama-sama kerukunan beragama agar suasana tentram tetap terjaga. “Sejak saya menjabat Kapolda Papua hingga sekarang sebagai gubernur, saya melihat toleransi umat beragama di Papua sangat luar biasa,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa semangat ini tidak boleh melemah, justru harus semakin diperkuat di tengah dinamika perkembangan daerah.
Sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga keagamaan menjadi kunci utama. Hal ini untuk memastikan bahwa nilai-nilai toleransi terus mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. Upaya kolektif ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang damai dan saling menghormati.
Peningkatan Pelayanan Keagamaan dan Makna Harmoni Sejati
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua juga mendorong Kemenag untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan. Peningkatan ini harus menjangkau seluruh kabupaten di Papua. Tujuannya agar pelayanan dapat dirasakan secara adil dan merata oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Pelayanan keagamaan yang inklusif merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga kerukunan. Dengan akses yang merata, setiap warga negara dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang dan nyaman. Ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam memenuhi hak-hak dasar spiritual masyarakat.
Gubernur Fakhiri menjelaskan bahwa penghargaan seperti Harmony Award bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai toleransi dan kerukunan benar-benar hidup dan dirasakan masyarakat. “Yang terpenting bukan penghargaan, tetapi bagaimana suasana damai itu nyata, dirasakan, dan dinikmati oleh masyarakat Papua,” katanya.
Peringatan HAB ke-80 Kemenag ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara Pemprov Papua dan Kemenag. Sinergi ini bertujuan menjaga kerukunan umat beragama serta mendukung pembangunan daerah yang berlandaskan nilai persatuan dan toleransi. Kolaborasi ini diharapkan dapat membawa Papua menuju masa depan yang lebih cerah dan damai.
Sumber: AntaraNews