Fakta Unik Garuda Shield 2025 di Baturaja: 160 Penerjun dari 3 Negara Beraksi dalam Latihan Gabungan
Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield 2025 di Baturaja, Sumatera Selatan, melibatkan 160 penerjun dari tiga negara. Simak detail aksi udara mereka!
Latihan Gabungan Bersama (Latgama) Super Garuda Shield (SGS) 2025 resmi digelar di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Acara penting ini menghadirkan total 160 penerjun payung profesional dari tiga negara sahabat. Mereka adalah personel terpilih dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang yang siap menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Kegiatan ini berlangsung sejak 25 Agustus hingga 4 September 2025, menandai komitmen bersama dalam meningkatkan kapabilitas militer. Komandan Kodiklat TNI Mayjen M Naudi Nurdika menjelaskan bahwa latihan ini bertujuan melatih kecakapan udara bagi seluruh personel yang terlibat. Selain itu, latihan ini juga untuk menguji kesiapan pasukan dalam menghadapi operasi strategis gabungan di masa mendatang.
Dalam rangkaian Latgama Super Garuda Shield 2025, Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama negara-negara sahabat melaksanakan airborne operation dan operasi udara. Seluruh aktivitas penerjunan dilakukan di drop zone Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI Angkatan Darat (AD) Baturaja. Ini adalah bagian penting dari upaya kolektif untuk memperkuat pertahanan dan keamanan regional.
Kolaborasi Udara Tiga Negara
Sebanyak 160 personel penerjun yang terlibat dalam Super Garuda Shield 2025 di Baturaja menunjukkan kolaborasi militer yang erat. Dari jumlah tersebut, 56 personel berasal dari TNI AD, 50 personel merupakan tentara Amerika (US Army), dan 54 personel lainnya dari militer Jepang. Mereka semua diterjunkan menggunakan berbagai jenis pesawat di drop zone Puslatpur TNI AD Martapura Baturaja.
Penerjunan massal ini didukung oleh lima unit pesawat angkut dari berbagai negara. Dua unit pesawat milik TNI, yaitu AU-C310 dan AU CN295, turut serta dalam operasi udara ini. Selain itu, satu unit pesawat militer Prancis CN 235 AAE juga ambil bagian, menunjukkan dukungan internasional yang luas.
Dua pesawat angkut lainnya yang digunakan adalah satu unit pesawat angkut Amerika Serikat C-130 dan satu unit pesawat angkut militer Jepang C-130. Kehadiran beragam pesawat ini tidak hanya memfasilitasi latihan, tetapi juga memperkuat interoperabilitas antarangkatan udara. Ini adalah bukti nyata dari kesiapan dan koordinasi yang tinggi di antara negara-negara peserta.
Meningkatkan Profesionalisme dan Solidaritas Regional
Latihan Super Garuda Shield 2025 tidak hanya berfokus pada peningkatan profesionalisme prajurit, tetapi juga memiliki dimensi diplomasi militer yang kuat. Komandan Kodiklat TNI Mayjen M Naudi Nurdika menekankan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan kerja sama yang baik antar negara di kawasan Asia-Pasifik. Ini adalah langkah strategis untuk membangun kepercayaan dan stabilitas regional.
Secara umum, SGS 2025 merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan dengan tujuan utama meningkatkan persahabatan multilateral antar negara. Latihan ini menjadi platform penting untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan teknologi militer. Hal ini berkontribusi pada peningkatan kapasitas pertahanan bersama di kawasan.
SGS 2025, yang berlangsung dari 25 Agustus hingga 4 September, juga menjadi simbol solidaritas multinasional dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Latihan ini menunjukkan kesiapan TNI sebagai tuan rumah yang kompeten dan partner strategis di Pasifik. Keberadaan Garuda Shield 2025 di Baturaja menegaskan peran Indonesia dalam keamanan regional.
Sumber: AntaraNews