Desainer Wignyo Rahadi Hadirkan 'Exotica', Keindahan Kain Tarakan di Parade Wastra Nusantara 2025
Salah satu aspek yang paling menarik dari koleksi Exotica adalah cara Wignyo mengintegrasikan motif-motif khas Tarakan ke dalam desain busana kontemporer.
Desainer senior Wignyo Rahadi kembali memikat perhatian publik dalam acara Parade Wastra Nusantara (PWN) 2025. Melalui koleksi terbarunya yang berjudul Exotica, pelopor tenun ATBM modern ini menghadirkan busana modest yang memadukan batik dan tenun khas Tarakan, Kalimantan Utara dengan pendekatan desain kontemporer yang sangat khas dari Wignyo.
Nama Wignyo Rahadi sudah sangat dikenal dalam industri fashion Indonesia. Sejak mendirikan Tenun Gaya pada tahun 2000, ia telah konsisten mengolah kain tradisional, khususnya tenun, menjadi busana yang sesuai dengan selera masa kini. Salah satu prestasi paling bersejarahnya adalah ketika karyanya dikenakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang kemudian dikenal luas sebagai 'kemeja tenun SBY'
"Awalnya saya memilih tenun karena karakternya yang sangat beragam dari satu daerah ke daerah lain. Materialnya juga beragam, dan ketika dipegang, terasa hidup. Itu yang membuat saya jatuh cinta pada tenun sejak 1995," ungkap Wignyo dalam wawancara eksklusif dengan Fimela. Kini, dua dekade setelah mendirikan labelnya, Wignyo mendapatkan tantangan menarik dari Parade Wastra Nusantara untuk mengolah wastra Tarakan yang kaya akan warna dan motif.
Didukung oleh Pemerintah Kota Tarakan dan Dekranasda Kalimantan Utara, Wignyo telah menyiapkan koleksi yang berisi tujuh busana wanita dan satu busana pria. Koleksi tersebut akan ditampilkan oleh enam model profesional serta dua muse spesial: Walikota Tarakan Dr. Khairul, M.Kes dan Ketua Dekranasda Tarakan Ibu Siti Rujiah Khairul.
Kombinasi antara Kekuatan Lokal dan Gaya Global
Koleksi bertema Exotica ini merupakan perayaan dari kekuatan visual wastra Kalimantan Utara, menampilkan motif yang besar dan berani serta warna-warna kontras seperti merah, kuning, dan biru cerah. Yang menarik, Wignyo berhasil menyeimbangkan kesan "ramai" dari kain-kain tersebut dengan penggunaan palet monokromatis dan dominasi warna hitam, serta siluet busana yang bersih dan elegan.
"Tantangannya justru di situ. Gimana caranya supaya motif dan warna yang sudah kuat ini tidak jadi 'berisik' saat dikenakan," ungkapnya. Ia banyak memadukan kain tenun gaya dan menambahkan elemen kulit kayu dari Kalimantan Utara untuk memberikan aksen yang earthy dan eksotis. Busana yang ditampilkan mencakup long dress, blouse, rok, outer, hingga cape, dilengkapi dengan aksen obi belt dari kulit kayu, list warna kontras, serta detail lipit yang memberikan kesan feminin dan trendy.
Potongan modest yang nyaman menjadi kekuatan utama koleksi ini, menunjukkan bahwa wastra tidak hanya cocok untuk acara adat atau formal, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya sehari-hari. Dengan pendekatan ini, Wignyo berhasil menciptakan koleksi yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga fungsional untuk berbagai kesempatan.
Filosofi Di Balik Motif Wastra Tarakan
Salah satu aspek yang paling menarik dari koleksi Exotica adalah cara Wignyo mengintegrasikan motif-motif khas Tarakan ke dalam desain busana kontemporer. Setiap motif tidak hanya memiliki daya tarik visual, tetapi juga menyimpan narasi budaya yang kaya makna:
Motif Imbaul, yang berarti "campuran", menggabungkan elemen ukiran kayu, tanaman pakis, dan buah dari tanaman bakau/mangrove. Warna-warna yang digunakan juga mengandung filosofi yang mendalam:
Kuning: Melambangkan kehormatan
Hijau: Menandakan kedamaian
Merah: Mewakili keberanian dan kemuliaan
Biru: Simbol persaudaraan
Hitam: Melambangkan kekuatan
Motif Gedabang atau Sa'ung terinspirasi dari topi tradisional suku Dayak dan Tidung yang sering dipakai saat bertani atau melaut. Desainnya dipadukan dengan ornamen rumah bangsawan, menciptakan kesan yang tradisional namun tetap elegan.
Motif Semandak Gedabang menggambarkan kisah seorang gadis yang berusaha membuat anyaman topi dalam semalam demi cintanya. Motif ini menggabungkan kekuatan cerita rakyat dengan simbol ketekunan dan harapan.
Motif Kapah diambil dari bentuk kerang besar yang ditemukan di pesisir Tarakan, melambangkan kekayaan alam laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.
Motif Tabur Bintang menggambarkan ornamen berbentuk bintang yang ditaburkan seperti hiasan dari potongan logam atau kain, melambangkan kesucian serta tujuan yang mulia.
Motif Batug Semandak, di mana "Batug" berarti anyaman dan "Semandak" adalah gadis muda, sering terlihat pada tikar tradisional dan dimaknai sebagai simbol masa depan yang cerah.
Motif Pakis atau Kujau, yang memiliki bentuk simetris terinspirasi dari pakis yang tumbuh subur di Tarakan, menciptakan kesan keseimbangan, keakraban, dan keharmonisan dalam kehidupan.
Semua motif ini merupakan bagian dari usaha Wignyo untuk menjawab tantangan desain: bagaimana menggabungkan kekayaan lokal dengan sensitivitas fashion global.
Narasi Budaya Bertahan Di Tengah Gempuran Mode Global
Keterlibatan Wignyo dalam PWN bukan hanya sekadar untuk menunjukkan kreativitas. Ini merupakan bagian dari misi yang lebih luas: mempertahankan keberadaan wastra Indonesia di tengah gempuran mode global.
"Wastra itu bisa dibagi dua. Ada yang harus dipakai sesuai pakem, seperti motif sakral untuk acara adat. Tapi ada juga yang bisa jadi inspirasi dalam industri fashion. Sebagai pelaku usaha, saya melihatnya dari sisi kreatif: gimana caranya wastra bisa relevan, tetap punya nilai budaya, tapi juga bisa dipakai ke mall, bukan cuma ke kraton," ungkap Wignyo.
Wignyo juga menyoroti potensi besar wastra Tarakan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Salah satu penyebabnya adalah lokasi yang terpencil, serta kurangnya promosi dan keterlibatan tokoh lokal dalam mengenakan kain tersebut, sehingga eksistensinya tidak sekuat wastra dari Jawa atau Bali.
"Kalau wastranya pengen dikenal, pemimpin daerahnya dulu yang harus pakai. Baru deh masyarakat ikut. Anak muda juga jangan ditinggal, bikin desain yang sesuai gaya mereka, libatin mereka dalam prosesnya. Kalau perlu ajak public figure muda pakai juga. Branding dan promosi itu kuncinya," ujarnya.
Regenerasi dan Kolaborasi
Selama lebih dari dua dekade, Wignyo telah menyaksikan perubahan signifikan dalam industri wastra. Dulu, hanya sedikit desainer yang berminat untuk mengolah kain tradisional, tetapi kini semakin banyak yang tertarik. Ia menekankan bahwa kolaborasi antar sektor sangat penting agar wastra dari daerah seperti Tarakan mendapatkan perhatian yang layak. "Saya berharap desainer muda jangan cuma eksplor kain yang itu-itu aja. Di Indonesia masih banyak banget kain-kain yang belum tersentuh dan sebenarnya menarik sekali. Tantangannya memang ada, dari bahan yang tebal, motif ramai, sampai minimnya promosi. Tapi kalau semua pihak mau turun tangan, pasti bisa," katanya dengan penuh optimisme.
Melalui koleksi Exotica, Wignyo tidak hanya memperkenalkan keunikan Kalimantan Utara, tetapi juga menunjukkan bahwa wastra dapat tampil eksotis tanpa mengorbankan kenyamanan, serta dapat terlihat modern sambil tetap mempertahankan akar budayanya. Parade Wastra Nusantara 2025 menjadi ajang yang ideal untuk menampilkan hal tersebut, sebagai perayaan warisan Indonesia yang dikemas dalam bahasa mode yang universal.
Desainer tenun terkenal, Wignyo Rahadi, mempersembahkan tujuh tampilan eksklusif dari koleksi Exotica yang menonjolkan keindahan wastra Tarakan, Kalimantan Utara. Koleksi ini ditampilkan secara khusus dalam acara Parade Wastra Nusantara 2025, hasil kolaborasi antara FIMELA dan Indonesian Fashion Chamber (IFC) pada hari Minggu, 10 Agustus 2025, di Grand Atrium, Kota Kasablanka.