BNN Gandeng Unud Teliti Ganja Medis, DPR Ingatkan Tetap Objektif dan Hanya Untuk Medis
Wacana ini perlu diriset secara mendalam serta penuh kehati-hatian.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Marthinus Hukom mengungkapkan sampai saat ini penelitian ganja sebagai obat atau medis masih berlangsung. Kampus yang meneliti di antaranya Universitas Udayana (Unud).
Meski tidak mendukung legalitas ganja, Marthinus menjelaskan bahwa penelitian itu dilakukan BNN dengan menggandeng Unud karena ada permintaan masyarakat melalui DPR saat menggelar RDP. Seandainya dari penelitian menghasilkan bahwa ganja dapat digunakan untuk medis, maka pendekatan yang digunakan adalah mengatur bukan melegalisasi.
DPR Dukung Upaya BNN
Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni mendukung upaya penelitian ganja medis dilakukan BNN dengan menggandeng Unud tersebut. Namun menurut Sahroni, wacana ini perlu diriset secara mendalam serta penuh kehati-hatian.
"Saya kira sikap BNN dalam membuka opsi riset ganja medis tidaklah keliru. Kita memang harus selalu terbuka dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tapi saya tegaskan, yang paling penting riset ini harus dilakukan dengan mendalam, objektif, dan tidak terburu-buru. Kita harus jujur bertanya: apakah penggunaan ganja medis memang sangat mendesak? Apakah tidak ada alternatif lain? Itu harus dijawab lewat riset yang transparan dan bertanggung jawab. Ini yang terpenting," kata Sahroni dalam keterangannya sebagaimana dikutip, Selasa (22/7).
Sahroni menekankan bahwa wacana ini semata-mata harus berada dalam koridor medis, dan tidak untuk dimanfaatkan ke arah hal lainnya.
"Yang jelas, ini hanya untuk konteks medis. Jangan sampai wacana riset ini dipelintir atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang punya agenda mendorong legalisasi ganja secara luas. Kita harus tetap hati-hati dan fokus pada tujuan utamanya. Makanya riset ini harus melibatkan banyak pihak dan lembaga. Libatkan Kemenkes, IDI, dll, agar hasilnya akurat dan kebijakan yang lahir nanti benar-benar berdasarkan kepentingan publik dan perlindungan jangka panjang," tutup Sahroni.