BMKG: Tren Hujan Lebat di NTB Melandai Awal Januari 2026, Waspada Banjir Lokal
BMKG memprediksi tren hujan lebat di Nusa Tenggara Barat melandai pada awal Januari 2026, namun masyarakat tetap diimbau waspada potensi banjir lokal.
BMKG: Tren Hujan Lebat di NTB Melandai Awal Januari 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan tren hujan lebat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) akan perlahan melandai pada dasarian I Januari 2026. Prakiraan ini berlaku untuk rentang tanggal 1 hingga 10 Januari 2026, menunjukkan perubahan pola cuaca di wilayah tersebut.
Afriyas Ulfah, Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB, menjelaskan bahwa peluang terjadinya hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian kini hanya sekitar 30 hingga 40 persen. Penurunan ini menandai pergeseran signifikan dari kondisi cuaca sebelumnya yang lebih ekstrem.
Meskipun demikian, masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai potensi banjir lokal, terutama di beberapa area yang masih berisiko tinggi. Peringatan ini disampaikan untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak cuaca yang tidak terduga.
Prakiraan Curah Hujan Awal Januari di NTB
Pada awal Januari 2026, wilayah Pulau Lombok bagian utara dan selatan masih berpotensi diguyur hujan lebat. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus dari warga yang tinggal di daerah tersebut untuk mengantisipasi segala kemungkinan.
Peluang terjadinya hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 70 hingga 90 persen. Intensitas ini mencakup seluruh Pulau Lombok dan sebagian besar wilayah Kabupaten Sumbawa Besar, menunjukkan cakupan area yang cukup luas.
BMKG terus memantau perkembangan cuaca di NTB untuk memberikan informasi terbaru kepada masyarakat. Informasi ini sangat penting agar warga dapat mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.
Penurunan Curah Hujan Sejak Akhir 2025
Tren penurunan hujan di NTB sebenarnya sudah teramati sejak dasarian III Desember 2025, yaitu dari tanggal 21 hingga 31 Desember. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola cuaca yang berkelanjutan.
Pada periode tersebut, curah hujan secara umum bervariasi dari kategori rendah (0-50 milimeter per dasarian) hingga tinggi (201-300 milimeter per dasarian). Sifat hujan pada akhir tahun 2025 secara umum berada pada kategori Bawah Normal hingga Normal, menandakan kondisi yang tidak terlalu ekstrem.
Pos hujan Maluk di Kabupaten Sumbawa Barat mencatat curah hujan tertinggi sebanyak 342 milimeter per dasarian. Sementara itu, Hari Tanpa Hujan terpanjang terjadi di pos hujan Puyung (Kabupaten Lombok Tengah) dan Sakra Barat (Lombok Timur) selama empat hari berturut-turut pada Dasarian III Desember 2025.
Faktor Iklim Global Penyebab Perubahan Cuaca
Penurunan curah hujan pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 dipengaruhi oleh pelemahan faktor iklim global. Faktor-faktor ini sebelumnya memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
Salah satu faktor utama adalah indeks Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada nilai minus 0,83 dan diperkirakan kembali menuju kondisi netral. Ketika IOD melemah, suplai uap air dari Samudra Hindia ke wilayah tengah Indonesia, termasuk NTB, tidak sekuat fase negatif sebelumnya, sehingga intensitas hujan menurun.
Selain itu, anomali suhu permukaan laut Nino 3.4 menunjukkan indeks minus 0,77, menandakan kondisi La Nina lemah yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2026. La Nina lemah ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan curah hujan dibandingkan fase La Nina moderat hingga kuat.
Faktor lain yang berkontribusi adalah Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini dalam kondisi tidak aktif dan diprediksi tetap tidak aktif hingga dasarian I Januari 2026. MJO yang tidak aktif menyebabkan cuaca menjadi lebih kering, membatasi pembentukan awan konvektif berskala besar, sehingga hujan menjadi tidak merata dan bersifat lokal di NTB.
Imbauan Waspada Banjir Lokal
Meskipun potensi hujan lebat cenderung menurun, BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman banjir lokal. Hal ini penting mengingat kondisi geografis NTB yang rentan terhadap genangan air.
Afriyas Ulfah menegaskan bahwa meskipun ada pengurangan curah hujan pada akhir Desember 2025, masyarakat tetap harus mewaspadai potensi curah hujan di dasarian mendatang. Periode ini masih termasuk dalam puncak musim hujan, sehingga risiko tetap ada.
Kesiapsiagaan dan mitigasi bencana menjadi kunci untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin terjadi akibat cuaca ekstrem. Informasi dari BMKG harus selalu menjadi rujukan utama bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews