BMKG: Potensi Hujan NTB Kategori Menengah Masih Berlanjut Hingga Akhir Maret 2026

Meskipun telah melewati puncak musim hujan, BMKG memprediksi potensi hujan NTB dengan intensitas sedang masih akan terjadi hingga penghujung Maret 2026, masyarakat diimbau waspada terhadap cuaca ekstrem.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BMKG: Potensi Hujan NTB Kategori Menengah Masih Berlanjut Hingga Akhir Maret 2026
Meskipun telah melewati puncak musim hujan, BMKG memprediksi potensi hujan NTB dengan intensitas sedang masih akan terjadi hingga penghujung Maret 2026, masyarakat diimbau waspada terhadap cuaca ekstrem. (AntaraNews)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berpotensi diguyur hujan kategori menengah. Prediksi ini berlaku hingga penghujung bulan Maret 2026, meskipun wilayah tersebut telah memasuki fase pascapuncak musim hujan.

Prakiraan ini disampaikan oleh Anggitya Pratiwi, seorang Prakirawan dari Stasiun Klimatologi BMKG NTB, pada Jumat di Mataram. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem yang dapat menyertai potensi hujan NTB.

Fenomena ini disebabkan oleh dinamika atmosfer yang masih aktif, termasuk Madden-Julian Oscillation (MJO) dan dominasi angin baratan. Kondisi ini berkontribusi pada pembentukan awan hujan di wilayah NTB dan sekitarnya.

Pada dasarian III Maret 2026, yaitu periode 21 hingga 31 Maret, BMKG memperkirakan peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian cukup tinggi. Peluang ini mencapai 40 persen hingga lebih dari 90 persen di sebagian besar wilayah NTB.

Beberapa wilayah bahkan diprediksi akan mengalami hujan dengan intensitas di atas 100 milimeter per dasarian. Peluang ini mencapai 80 hingga 90 persen di Kota Mataram, sebagian Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, dan Sumbawa.

Selain itu, sebagian kecil wilayah Lombok Utara dan Lombok Timur juga diperkirakan akan menerima curah hujan tinggi. Anggitya Pratiwi menegaskan bahwa NTB masih dalam periode musim hujan dan fase pascapuncak, sehingga potensi hujan NTB tetap perlu diwaspadai.

Hujan di penghujung Maret 2026 dipengaruhi oleh beberapa dinamika atmosfer yang masih aktif. Salah satunya adalah fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada pada fase 7 atau di wilayah Pasifik Barat.

MJO diprediksi akan terus bergerak aktif menuju fase 8 hingga akhir dasarian II Maret 2026, kemudian menjadi tidak aktif pada fase 8 di awal dasarian III Maret 2026. Pergerakan MJO ini berperan penting dalam pembentukan awan hujan.

Selain MJO, aliran massa udara di Indonesia juga masih didominasi oleh angin baratan. Kondisi angin ini sangat mendukung proses pembentukan awan hujan di berbagai wilayah, termasuk di Nusa Tenggara Barat.

Kombinasi kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini positif dan ENSO yang netral juga turut berkontribusi. Faktor-faktor atmosfer ini secara keseluruhan meningkatkan peluang terjadinya hujan NTB.

Mengingat potensi hujan NTB yang masih tinggi, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Kewaspadaan ini penting untuk mengurangi risiko dampak yang mungkin terjadi, seperti banjir atau tanah longsor.

Anggitya Pratiwi secara khusus meminta masyarakat untuk memperhatikan kebersihan lingkungan. Selain itu, masyarakat juga diminta memantau debit air di wilayah aliran air.

Langkah-langkah preventif seperti membersihkan saluran air dapat membantu mencegah genangan atau banjir. Kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem adalah kunci untuk menjaga keselamatan dan meminimalkan kerugian akibat potensi hujan NTB.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi