BMKG Ingatkan Warga NTB Waspada Puncak Musim Hujan di Pertengahan Januari 2026
BMKG mengimbau masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk tetap siaga menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada pertengahan Januari 2026, berpotensi hujan ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk meningkatkan kewaspadaan. Peringatan ini disampaikan seiring perkiraan puncak musim hujan yang akan melanda wilayah tersebut pada dasarian kedua Januari 2026. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan dari warga setempat.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nindya Kirana, menyatakan bahwa NTB telah sepenuhnya memasuki musim hujan. Beberapa wilayah kini mendekati periode puncak curah hujan. Hal ini disampaikan di Mataram pada Senin (12/1).
Meskipun intensitas curah hujan sempat menurun pada dasarian pertama Januari 2026, masyarakat diminta untuk tetap berhati-hati. Potensi hujan lebat dan angin kencang masih sangat mungkin terjadi di masa mendatang.
Potensi Cuaca Ekstrem dan Imbauan Kewaspadaan
BMKG memprediksi potensi curah hujan tinggi akan merata di seluruh wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa pada periode 11 hingga 20 Januari 2026. Nindya Kirana menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, memastikan aliran air pada saluran drainase lancar juga sangat krusial.
Warga juga diimbau untuk selalu siaga terhadap kemungkinan hujan ekstrem yang datang tiba-tiba. Angin kencang juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai selama periode puncak musim hujan ini. Langkah antisipasi dini dapat meminimalisir dampak buruk.
Data BMKG menunjukkan bahwa intensitas curah hujan di NTB sempat mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi selama dasarian pertama Januari 2026, yaitu dari tanggal 1 hingga 10 Januari. Kondisi tersebut terkait dengan fenomena monsoon break, periode berkurangnya curah hujan yang umum terjadi di Asia Tenggara.
Wilayah Terdampak dan Tingkat Curah Hujan
Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Bima diperkirakan memiliki probabilitas curah hujan 70 hingga 90 persen. Intensitas curah hujan di wilayah ini diperkirakan melebihi 50 milimeter per dasarian. Ini menunjukkan potensi hujan lebat yang signifikan.
Beberapa daerah seperti Tambora, Sanggar, Pekat, dan Labuhan Badas diproyeksikan memiliki peluang 60 hingga lebih dari 90 persen. Curah hujan di lokasi ini bahkan diperkirakan melebihi 100 milimeter per dasarian. Angka ini sangat tinggi dan memerlukan perhatian khusus.
Bagian utara dan selatan Pulau Lombok juga tidak luput dari potensi hujan tinggi. Wilayah ini diperkirakan memiliki probabilitas curah hujan 50 hingga 70 persen yang melebihi 100 milimeter per dasarian. Sub-distrik Pekat di Kabupaten Dompu dan Sub-distrik Tambora di Kabupaten Bima juga masuk kategori siaga tinggi.
BMKG mencatat karakteristik curah hujan di NTB pada dasarian pertama Januari 2026 berkisar dari bawah normal hingga di atas normal. Pos pengamatan hujan Donggo O'o di Kabupaten Bima mencatat curah hujan tertinggi, mencapai 378 milimeter per dasarian.
Faktor Pendorong Peningkatan Curah Hujan
Peningkatan curah hujan ini didukung oleh beberapa faktor atmosfer yang signifikan. Salah satunya adalah anomali suhu muka laut sebesar minus 0,7 derajat Celcius. Kondisi ini mengindikasikan adanya kondisi La Nina lemah yang diproyeksikan akan bertahan hingga awal tahun 2026.
Selain itu, angin barat yang dominan terus membawa uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah NTB. Aliran uap air ini menjadi pasokan penting bagi pembentukan awan hujan. Keberadaan angin barat ini memperkuat potensi hujan lebat.
Aktivitas gelombang atmosfer juga diperkirakan tetap aktif di seluruh Indonesia. Kondisi ini akan berlangsung hingga dasarian kedua Januari 2026, termasuk di NTB. Semua faktor ini secara kolektif berkontribusi pada peningkatan intensitas curah hujan yang diwaspadai BMKG.
Sumber: AntaraNews