Antisipasi Banjir, BPBD Bali Pasang Alarm Banjir Denpasar di Enam Titik Prioritas
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mulai mengaktifkan alarm banjir Denpasar di enam lokasi rawan, sebagai langkah mitigasi setelah banjir besar pada September 2025 lalu dan antisipasi puncak musim hujan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali telah mengambil langkah proaktif dengan mulai memasang sistem alarm peringatan dini banjir di enam titik prioritas di Denpasar. Inisiatif ini merupakan respons cepat terhadap peristiwa banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada September 2025. Pemasangan alarm banjir ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi kenaikan permukaan air sungai, khususnya menjelang puncak musim hujan di awal tahun ini.
Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menjelaskan bahwa enam lokasi yang menjadi fokus pemasangan alarm ini dipilih berdasarkan tingkat kerawanan. Lokasi-lokasi tersebut meliputi Tukad Badung area Pasar Kumbasari, Jembatan Pasar Bunga Wangaya, DAM Kontrol BWS OP3 Wangaya, Jembatan Wangaya Kampung Muslim, Jembatan Tukad Badung Jalan Hasanudin, dan Jembatan Tukad Badung Jalan Pekambingan.
Pemasangan alarm banjir Denpasar ini diharapkan dapat memberikan peringatan dini yang efektif kepada warga, memungkinkan mereka untuk melakukan evakuasi atau mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan. Proyek ini merupakan hasil inovasi mandiri BPBD Bali yang didukung oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
Pemasangan dan Lokasi Prioritas Alarm Banjir Denpasar
Pemasangan alarm banjir Denpasar ini dimulai awal tahun 2026, menyusul serangkaian persiapan yang telah dilakukan sejak November 2025. Proses tersebut mencakup perancangan ide, perakitan, hingga uji coba awal sistem peringatan dini ini.
Menurut Gede Teja, pemilihan enam titik ini didasarkan pada prioritas dan ketersediaan unit alarm yang ada. “Pada enam titik itu prioritas, karena kami juga baru hanya bisa sediakan enam unit, ini disediakan BPBD Bali atas dukungan PLN dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB),” ujarnya. Inovasi mandiri ini dipilih untuk efisiensi biaya, tanpa membeli dari perusahaan penyedia.
Setelah berhasil melalui kajian lapangan dan penentuan tinggi masing-masing sensor, BPBD Bali berkoordinasi dengan PLN yang menyatakan kesiapannya untuk memberikan dukungan penuh. Kerja sama ini menunjukkan sinergi antara lembaga pemerintah dan BUMN dalam upaya mitigasi bencana di Bali.
Mekanisme Kerja dan Tahapan Peringatan Alarm Banjir
Secara teknis, sistem alarm banjir Denpasar ini bekerja dengan menempatkan sensor peringatan dini di dalam aliran sungai, mirip dengan sistem peringatan dini tsunami. Sementara itu, sirine peringatan dipasang di atas permukaan air.
Sirine akan berbunyi secara bertahap dalam tiga kali bunyi, memberikan indikasi tingkat bahaya yang berbeda. Sebagai contoh di dekat Pasar Kumbasari, peringatan pertama akan berbunyi jika air naik 30 cm dari kondisi normal.
Sirine kedua akan aktif bila air naik lagi 86 cm, dan sirine perintah evakuasi akan berbunyi jika ketinggian air kembali naik 150 cm. Ini berarti total perintah evakuasi diberikan saat air mencapai ketinggian 266 cm di Pasar Kumbasari, meskipun ketinggian ini dapat bervariasi di titik-titik lainnya.
Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat
Pemerintah daerah menargetkan penyelesaian pemasangan seluruh unit alarm banjir Denpasar pada 12 Januari 2026. Setelah pemasangan rampung, tahap selanjutnya adalah sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.
Sosialisasi akan dilakukan melalui pertemuan langsung dengan masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di radius 200-300 meter dari lokasi alarm. Tujuannya adalah agar masyarakat memahami makna dari setiap tahapan bunyi sirine peringatan.
Edukasi ini krusial untuk memastikan bahwa warga dapat merespons secara tepat dan cepat terhadap peringatan yang diberikan. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan dampak kerugian akibat banjir dapat diminimalisir secara signifikan.
Sumber: AntaraNews