Banjir Bandang Desa Banjar: Delapan Orang Hanyut, Tiga Masih Dicari di Buleleng

Banjir bandang menerjang Desa Banjar, Buleleng, menyebabkan delapan orang hanyut. BPBD Bali melaporkan empat selamat, satu meninggal, dan tiga korban banjir bandang Desa Banjar masih dalam pencarian.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Banjir Bandang Desa Banjar: Delapan Orang Hanyut, Tiga Masih Dicari di Buleleng
Banjir bandang menerjang Desa Banjar, Buleleng, menyebabkan delapan orang hanyut. BPBD Bali melaporkan empat selamat, satu meninggal, dan tiga korban banjir bandang Desa Banjar masih dalam pencarian. (AntaraNews)

Bencana banjir bandang melanda Desa Banjar, Buleleng, Bali, pada Jumat (6/3) malam. Kejadian ini menyebabkan delapan orang dilaporkan hanyut terbawa arus deras. Informasi awal diterima oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali pada Sabtu (7/3) pagi.

Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana, menjelaskan empat korban berhasil ditemukan selamat. Sayangnya, satu orang ditemukan meninggal dunia dan tiga lainnya masih dalam proses pencarian intensif. Tim penyelamat terus berupaya menemukan korban yang hilang di lokasi kejadian.

Peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 20.00 Wita, berdasarkan laporan dari Perbekel Desa Banjar. BPBD Bali segera bergerak cepat untuk melakukan evakuasi dan koordinasi penanganan bencana. Gede Teja langsung menuju lokasi untuk memantau langsung operasi pencarian.

Setelah bencana banjir bandang, upaya pencarian korban terus dilakukan oleh tim gabungan. Tiga warga Banjar Ambengan masih belum ditemukan, yaitu Komang Suci (44), Putu Wini (17), dan Kadek Wahyu (12). Fokus pencarian saat ini berada di sekitar area Desa Banjar dan aliran sungai yang terdampak.

Empat korban yang berhasil ditemukan selamat berasal dari Banjar Ambengan. Mereka adalah Kadek Witana (45), Made Putra (76), Nyoman Mudra (73), dan Putu Suami (72). Para korban selamat telah mendapatkan penanganan medis awal dan pendampingan psikologis.

Sementara itu, satu korban meninggal dunia telah teridentifikasi atas nama Dewa Ketut Adi Suarjaya (55), warga Banjar Santal. BPBD Bali terus berkoordinasi dengan pihak keluarga dan aparat setempat untuk penanganan lebih lanjut. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Banjir bandang di Desa Banjar bukan satu-satunya insiden yang terjadi akibat cuaca ekstrem di Buleleng. Dalam kurun waktu 12 jam terakhir, tercatat 19 kejadian bencana di berbagai wilayah kabupaten tersebut. Kejadian ini berlangsung antara pukul 18.00 Wita hingga 06.00 Wita.

Beberapa desa lain di Buleleng juga mengalami banjir, termasuk Desa Pancasari, Desa Kayuputih, Desa Bubunan, dan Desa Dencarik. Banjir juga dilaporkan terjadi di Desa Tampekan, Desa Gobleg, Desa Pedawa, dan Desa Lemukih. Kondisi ini menunjukkan intensitas hujan yang sangat tinggi di seluruh wilayah.

Selain banjir, cuaca ekstrem juga memicu tanah longsor dan pohon tumbang. Longsor terjadi di bawah Shortcut KM 18 Desa Gitgit serta menimpa rumah warga di Desa Bestala. Jalan Raya Singaraja-Denpasar sempat tertutup longsor, dan insiden serupa terjadi di Desa Banyuseri. Kerusakan infrastruktur seperti jembatan usaha tani di Desa Bestala juga putus, serta tanggul jebol di Desa Kalianget.

Rumah warga di Desa Bestala mengalami kerusakan akibat hujan deras dan angin kencang. Jembatan Tukad Pengangkidan di Desa Pedawa juga jebol, menambah daftar kerusakan infrastruktur vital. Pohon tumbang dilaporkan terjadi di Desa Busungbiu, mengganggu akses jalan dan membahayakan warga.

Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana, menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat. Bibit Siklon Tropis 90S, 93S, dan 92P masih berpotensi memberikan dampak tidak langsung di wilayah Bali. Kondisi ini dapat memicu cuaca ekstrem yang lebih parah di masa mendatang.

BPBD Bali mengimbau seluruh warga untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dari sumber resmi. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah-langkah mitigasi bencana perlu dipahami dan diterapkan secara mandiri oleh setiap keluarga.

Pemerintah daerah bersama BPBD Bali terus berupaya meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Koordinasi antarlembaga juga diperkuat untuk memastikan respons cepat dan efektif saat terjadi bencana. Keselamatan dan keamanan warga menjadi prioritas utama dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi