Mengenal Ambachtsschool, Sekolah Pertukangan Pertama untuk Masyarakat Indo-Eropa di Hindia Belanda
Berkembangnya pendidikan di Hindia Belanda, muncul beberapa sekolah bagi golongan Indo-Eropa yaitu Ambachtsschool atau sekolah tukang pertama.
Berkembangnya pendidikan di Hindia Belanda muncul beberapa sekolah bagi golongan Indo-Eropa yaitu Ambachtsschool atau sekolah tukang pertama.
Mengenal Ambachtsschool, Sekolah Pertukangan Pertama untuk Masyarakat Indo-Eropa di Hindia Belanda
Pendidikan di Hindia Belanda tentu tidak lepas dari kebutuhan pihak pemerintahan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni atau sesuai dengan bidangnya. Sebut saja seperti HIS atau sekolah golongan bumi putera, MULO atau sekolah menengah pertama dan lain sebagainya.
Seiring berkembangnya zaman, Hindia Belanda mulai berkembang dengan keberadaan sektor industri yang membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Tak hanya itu, kebutuhan pekerja ahli ini harus berpendidikan atau memiliki ketrampilan di bidang industri. (Foto: Pixabay)
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, berdirilah Ambachtsshcool yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur. Memang kota ini pada abad ke-19 sampai 20 menjadi kota industrial. Maka dari itu, sekolah ini berdiri di tempat yang sesuai dengan kebutuhan.
Ingin tahu sejarah dari Ambachtsschool? Simak informasi lengkapnya yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber berikut ini.
Sekolah Pertukangan Pertama
Dilansir dari artikel "Ambachtsschool Surabaya Tahun 1853-1942" karta Syarifah Madjid dan Shinta Devi Ika, tepat tahun 1852 Afdeeling Surabaya mengajukan usul untuk mendirikan sekolah pertukangan.
Ide ini muncul setelah mendengarkan pidato A. Van Lakerveld. Setahun kemudian, di Kalisosok, Surabaya, didirikan sekolah pertukangan dengan nama Ambachtsschool yang pertama di Hindia Belanda. Awal berdirinya sekolah ini langsung mendapat dukungan yang cukup cepat.
Namun dalam perjalanannya sekolah ini kerap mengalami buka tutup operasional. Pada tahun 1857 Zending memutuskan untuk menutup sekolah tersebut lalu dibuka kembali pada tahun 1860. Tak hanya itu, sekolah ini juga dikaitkan dengan HBS atau Hoogere Burger School.
Tahun 1885 akhirnya sekolah ini baru bisa berdiri sendiri sebagai Sekolah Pertukangan di Hindia Belanda.
Sistem Pembelajaran
Dalam sistem pendidikan di Ambachtsschool ini terdapat mata pelajaran Bahasa Belanda dan beberapa bidang mata pelajaran lainnya, seperti: Pertukangan, Ahli Mesin, Tukang Tempa Logam, hingga Pelajaran Teori Kerja dan Menggambar.
Untuk durasi pendidikan ini kurang lebih selama 3 sampai 4 tahun. Untuk lulusan ahli mesin harus lulus pada tahun ke-4. Sementara untuk pertukangan dan bidang lainnya cukup memakan waktu 3 tahun saja.
Dalam kebijakannya, pemerintah Hindia Belanda sempat membuka sekolah pertukangan bagi golongan Bumiputera di Surabaya. Namun nyatanya, murid-murid yang sekolah di Ambachtsschool ini adalah berasal dari golongan atas yang menolak menjadi pekerja rendahan.
Pemerintah yang saat itu membutuhkan tenaga kerja untuk memajukan industri pun menjadi sulit. Banyak alumni dari sekolah tersebut cenderung memilih menjadi pengajar atau pengawas kerja.
Pecahnya Kepentingan Ambachtsschool
Pendidikan Ambachtsschool ini tak lepas dari golongan Indo-Eropa karena sekolah ini awalnya ditujukan untuk para golongan Indo. Sementara itu, jumlah anak golongan Indo semakin membengkak khususnya di Surabaya.
Perpecahan kepentingan ini bermula saat Indo Eropa Verbond atau IEV mendirikan sekolah serupa di daerah-daerah. Hal ini kemudian memecah dua kubu yang ada di dalam golongan Indo.
IEV pun mendirikan Ambachtsshool di Madiun dan Malang. Kemudian para golongan Indo cenderung membuat perpecahan dengan memilih berkelompok sesuai daerahnya masing-masing.
Seiring berjalannya waktu, Ambachtsshcool semakin sulit mengatur populasi golongan Indo. Bahkan, sekolah ini sudah tidak mendapat dukungan lagi dari pihak Zending serta beberapa penyokong dana lainnya.
Pelopor Berdirinya Sekolah Pertukangan
Meski dalam perkembangannya, Ambachtsschool mendapat pandangan pro dan kontra, namun seiring berjalannya waktu sekolah ini mulai meningkatkan kualitas lulusannya.
Dampaknya bagi dunia pendidikan adalah sekolah ini menjadi pelopor berdirinya berbagai pendidikan pertukangan, terutama di Pulau Jawa. Banyak dari lulusan sekolah ini menjadi pengawas atau mandor dan sebagian menjadi guru di sekolah pertukangan lainnya.