Perjalanan Panjang Kaloka Pottery Tembus Pasar Dunia, Mengandalkan Relasi dan Hashtag Media Sosial
Keberhasilan Kaloka Pottery sebagai tempat pembuatan keramik unik di Jogja dan berhasil menembus pasar internasional membuat BRI jatuh hati.
Di balik indahnya karya keramik artistik dari Kaloka Pottery terdapat ide besar seorang perempuan bernama Francisca Puspitasari atau yang akrab disapa Kika. Ia mengaku memulai bisnis kerajinan tembikar karena rasa penasaran.
"Awalnya karena personal reason aja, penasaran bisnis apa ya yang belum pernah khususnya di bidang kreatif ini." ungkap Kika saat ditemui merdeka.com di showroom Kaloka Pottery pada Kamis (27/02). Berbekal dari hal tersebut, Ia kemudian memberanikan diri memulai bisnis kerajinan keramik pada 2016 lalu.
Memulai Bisnis Tanpa Modal
Kika mengaku tak punya banyak modal saat memulai bisnis kerajinan tembikar. Ia hanya mengandalkan pengalaman 20 tahun bekerja di bidang kreatif desain produk dan manufaktur dan sedikit pengetahuan saat kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja.
"Kalo ditanya modalnya berapa, saat itu saya gak punya modal, beneran yang seadanya, caranya ya gimana untuk memulai bisnis dari pengalaman (bekerja) yang pernah saya jalani" jelasnya.
Saat awal berbisnis kerajinan keramik dari tanah liat, Kika mengaku tak punya studio untuk memproduksi produk sampel untuk dijual. Langkah awal yang Ia lakukan hanya membuat desain produk kemudian disetor ke studio pembuatan keramik milik orang lain.
Produk sampel yang dihasilkan kemudian dipasarkan melalui media sosial. Selain itu, Kika juga menawarkan langsung produk tersebut kepada para kolega.
Seiring berjalannya waktu, peminat kerajinan tembikar yang diproduksi dengan label Kaloka Pottery pun meningkat. Namun hal tersebut justru membuat Kika kewalahan karena saat itu Ia masih belum memiliki studio sendiri untuk memproduksi pesanan.
"Awalnya saya gak punya studio, tiap ada pesanan masuk saya pakai studio orang lain untuk produksi, tapi lama kelamaan kalau kayak gini bisnis susah berkembang karena jadwal produksi harus disesuaiin dengan kondisi studio orang lain itu." papar Kika menjelaskan kendala awal yang ditemui saat membangun bisnis kerajinan keramik.
Dengan tekad besar untuk mengembangkan usaha, Kika kemudian memberanikan diri untuk membuat studio sendiri di rumahnya. Saat itu modal yang dimiliki untuk membuka studio pun belum memadai. Tungku pertama yang digunakan untuk pembakaran dibeli dengan cara cicilan dari seorang teman.
"Tungku pertama yang saya punya itu saya beli bayarnya nyicil dari teman saya di Bandung" jelasnya.
Setelah memiliki studio sendiri, mulai muncul kendala lain yang dihadapi Kika. Dalam proses produksi, banyak keramik yang menurutnya tidak sempurna karena gagal saat melalui proses pembakaran. Padahal modal yang dikeluarkan untuk produksi cukup banyak.
Menghadapi kondisi seperti itu, Kika pun tak tinggal diam. Ia tetap menjual produk-produk yang tidak sesuai standar dan tanpa diduga, produk-produk reject tersebut justru laku keras dan memiliki pasarnya sendiri.
"Modal udah jalan, tapi hasilnya kurang maksimal. Karena butuh duit yaudah barang reject coba dijual eh ternyata laku keras. Dari situ aku percaya kalo produk kami pasti ada marketnya masing-masing." ungkap Kika mencerita lika-liku yang dihadapi saat berbisnis kerajinan tembikar.
Mengandalkan Relasi dan Media Sosial untuk Promosi
Dalam membangun bisnis, Kika mengaku banyak mengandalkan media sosial dan jejaring relasi untuk memasarkan produk. Orderan pertama yang Ia dapat dalam jumlah besar berkat networking yang selama ini Ia bangun.
"Orderan besar pertama itu ya karena networking. Kebetulan saya kenal owner perusahaan tersebut, saya tawari produk saya dari harga hingga kualitas, yaudah deal." jelasnya.
Selain networking, promosi Kaloka Pottery di media sosial hanya mengandalkan fitur hashtag #kalokadimanamana untuk ditemukan para customer. Dengan cara itu, Ia pun banjir orderan hingga pada 2016 lalu mendapat pesanan dari Qatar dan sebagai milestone Kaloka Pottery berhasil tembus internasional.
Berkat media sosial, Kika juga berhasil merangkul komunitas kopi dan teh yang menggunakan tembikar sebagai alat sarana penyajian. "Komunitas kopi teh dari Eropa seperti Polandia, Italia, dan Amsterdam itu pada pesen alat-alat (produk tableware) di sini." papar Kika
Berkat kegigihan dan ketekunan Kika untuk mengembangkan bisnis, kini Kaloka Pottery telah berkembang pesat. Produk tableware yang dihasilkan telah banyak menghiasi resto dan kafe-kafe kekinian di Jogja hingga berbagai daerah lain.
Penggemar kerajinan keramik juga bisa membelinya secara retail baik melalui e-commerce atau datang langsung ke showroom Kaloka Pottery di Jalan Bausasran DN3 NO.695, Kec. Danurejan, Kota Yogyakarta.
Kaloka Pottery di BRI EXPO(RT) 2025
Keberhasilan Kaloka Pottery sebagai tempat pembuatan keramik unik di Jogja dan berhasil menembus pasar internasional membuat Bank Rakyat Indonesia (BRI) jatuh hati. Pihak BRI mengundang Kaloka Pottery untuk berpartisipasi menjadi salah satu tenant di acara BRI EXPO(RT) 2025.
"Mereka ngundang kita, apakah berkenan ikut BRI EXPO(RT) 2025, terus kita disuruh kirim produk untuk difoto dan ikut kurasai, semua biaya pengiriman ditanggung dari BRI termasuk pas acara berlangsung" jelas Kika menceritakan pengalaman mengikuti pameran UMKM terbesar di Indonesia.
Saat mengikuti pameran BRI EXPO(RT) 2025, Kika mengaku banyak hal yang Ia dapatkan mulai Partner Gathering, Talkshow, Workshop hingga pendampingan business matching. Saat acara berlangsung potensi pelaku bisnis bertemu buyer juga cukup besar.
Program BRI EXPO(RT) menjadi bukti nyata bahwa BRI dengan serius dan konsisten mendukung UMKM kreatif untuk naik kelas dan semakin banyak dikenal. Pemeran UMKM yang diprakarsai BRI sejak 2019 ini selalu berhasil mendorong UMKM untuk semakin berkembang pesat.
Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Direktur Commercial, Small, and Medium Business BRI, Amam Sukriyanto dalam Press Conference BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di Menara Brilian, Jakarta. "DNA BRI itu adalah UMKM. Maka dari itu BRI akan terus melakukan pendampingan untuk UMKM agar bisa naik kelas," ungkapnya.
Terbukti selama acara berlangsung dari 30 Januari hingga 2 Februari telah mendatangkan lenih dari 63 ribu pengunjung. Transaksi yang terjadi selama empat hari tersebut mencapai Rp28,9 miliar dan berhasil merealisasikan business matching dengan commitment deal mencapai USD 90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Sunarso dalam dalam closing ceremony BRI UMKM EXPO(RT) yang digelar di ICE BSD Tangerang.