Fakta di Balik Ganasnya Penularan DBD di Jepara, Kemenkes Sampai Terjunkan Tim Khusus Amati Jenis Virus
Virus DBD di Jepara menyebar cepat. Lima belas warga sudah jadi korban. Sebelas di antaranya anak-anak
Virus DBD di Jepara menyebar cepat. Lima belas warga sudah jadi korban. Sebelas di antaranya anak-anak
Fakta di Balik Ganasnya Penularan DBD di Jepara, Kemenkes Sampai Terjunkan Tim Khusus Amati Jenis Virus
Sejak awal tahun 2024, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menyebar cepat di tengah warga Kabupaten Jepara. Bahkan dalam dua bulan terakhir, tepatnya dari 1 Januari hingga 29 Februari 2024, 15 orang meninggal akibat DBD dan 11 di antaranya adalah anak-anak.
Keadaan di Jepara kini sedang tidak baik-baik saja. Segala daya dan upaya dilakukan pihak-pihak terkait untuk menekan penyebaran virus mematikan ini.
Lalu apa saja fakta-fakta terkait penyebaran virus DBD di Jepara? Berikut selengkapnya:
Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat
Selama periode yang sama, total kasus DBD di Jepara mencapai 824 kasus. Untuk menangani hal ini, Pemkab Jepara menetapkan status tanggap darurat DBD. Dengan adanya status ini, harapannya masyarakat semakin waspada dan semua pihak ikut terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan DBD.
Empat Strategi Khusus
Untuk menangani kasus DBD di Jepara, Pemkab Jepara juga menyiapkan empat strategi khusus. Pertama, komitmen dan kepedulian semua pihak, serta penguatan kelembagaan melalui Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD. Kedua, sosialisasi dan edukasi masyarakat secara terus menerus melalui berbagai media.
Ketiga, gerakan serentak melibatkan seluruh komponen masyarakat melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk secara rutin. Dan keempat, respons cepat terhadap laporan khusus dengan melakukan penyelidikan epidemologi dan tindak lanjutnya.
Kemenkes Terjunkan Tim Khusus
Untuk menangani penyebaran cepat virus DBD di Jepara, Kementerian Kesehatan menerjunkan tim khusus. Tim tersebut mulai turun ke lapangan selama tiga hari, yaitu pada Rabu (6/3) hingga Jumat (8/3).
Dikutip dari ANTARA, tim peneliti itu mengambil sampel darah penderita DBD, kemudian mengambil sampel nyamuk dan jentik nyamuk di lima lokasi penelitian.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinkes Jepara, Eko Cahyo Puspeno, mengatakan hingga kini pihaknya masih menunggu hasil penelitian itu.
Nantinya hasil penelitian diharapkan mampu menunjukkan apakah virus itu merupakan jenis yang ganas atau tidak karena penyebarannya begitu cepat dan angka kematiannya juga begitu tinggi.