Potret Bendungan Peninggalan Belanda di Lebak, Kondisinya Memprihatinkan Padahal Dibutuhkan Warga
Petani berharap bendungan ini segera diperbaiki karena menjadi satu-satunya media pengairan bagi ratusan hektare sawah di tiga desa.
Bendungan irigasi berbentuk bedeng di Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak kondisinya memprihatinkan.
Terlihat bagian pintu air sudah tidak bisa digunakan maksimal lantaran mengalami pelapukan. Kondisi besi atap, lempengan penopang pintu air dan alat pemutar beserta roda gerigi untuk membendung kali juga sudah macet karena berkarat
Keadaan miris ini diketahui sudah terjadi selama puluhan tahun, dan dikeluhkan warga sekitar. Padahal keberadaannya sangat vital untuk mengairi ratusan hektare sawah di tiga desa, wilayah Kecamatan Cikulur.
Jika pemerintah setempat tidak segera memperbaiki bendungan, mereka terancam kesulitan menggarap lahan karena harus menunggu cuaca hujan. Berikut informasinya.
Mengaliri Ratusan Hektare Sawah di Kecamatan Cikulur
Bendungan ini diketahui memiliki dua pintu air. Masing-masingnya dahulu digunakan bergantian agar jumlah air bisa terkelola dengan baik dan sampai ke petak-petak sawah.
Keberadaan bendungan bedeng ini sangat diandalkan warga, karena mampu memenuhi kebutuhan air untuk sawah di tiga desa yakni Desa Sukadaya, Sumur Bandung dan Sukadaya.
“Ini dari dulu untuk pengairan sawah, tapi sekarang macet dan nggak berfungsi untuk susutan aliran airnya,” terang warga sekitar, Samsu, mengutip Youtube SCTV Banten, Jumat (23/8).
Dibangun 1935 dan Terakhir Diperbaiki 1990
Bendungan sebelumnya dibangun di masa penjajahan Belanda, yakni pada 1935. Kemudian, terus difungsikan sebagai penyalur air irigasi ke lahan-lahan persawahan.
Namun, bendungan sempat mengalami kerusakan dan direnovasi pada 1990. Sampai saat ini, bendungan tersebut masih belum tersentuh kendati kondisinya sudah sangat memprihatinkan.
“Dulu dibangun Belanda tahun 1935, terus terakhir direnovasi tahun 1990,” tambah Samsu.
Keberadaannya Sangat Diandalkan Warga
Di musim kemarau seperti sekarang, keberadaan bendungan menjadi kunci pengairan sawah agar bisa panen dengan hasil maksimal.
Namun, ketika irigasi tersebut tidak berfungsi petani tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya akan menanti air hujan, walau saat ini kondisinya masih masuk musim kemarau.
“Sawah-sawah di sini jadi banyak yang tidak tergarap, karena tidak ada air dan hanya mengharapkan dari sumber hujan,” ujar ketua RT setempat, Sukmadi.
Pemerintah Diharapkan Segera Memperbaiki
Warga bersama para petani setempat berharap ada perhatian khusus dari pemerintah. Sebab, jika tetap dibiarkan kondisinya akan semakin rusak.
Saat bendungan tidak bisa lagi difungsikan, bukan tidak mungkin para petani akan mengalami kerugian hingga kesulitan ekonomi lantaran tidak ada petak sawah yang dikerjakan.
“Karena airnya hanya dari sini, jadi tidak ada aliran yang lain, dan ini juga untuk membantu tiga desa, jadi sangat penting,” tambah Sukmadi.
Petani Ingin Kembali Bekerja
Para petani juga berharap agar keberadaan bendungan bisa segera diperbaiki, sehingga bisa kembali berfungsi dengan baik.