Waspada, 7 Cara Membedakan Ular Berbisa dan Tidak Berbisa di Sekitar Rumah Anda
Gigitan dari ular berbisa dapat berakibat fatal, sementara gigitan ular yang tidak berbisa, meskipun tidak mematikan, tetap bisa menyebabkan infeksi.
Ular yang berkeliaran di sekitar rumah sering menimbulkan rasa khawatir bagi semua anggota keluarga. Dengan lebih dari 3.000 jenis ular yang ada di dunia, termasuk 725 jenis yang berbisa, sangat penting untuk mengetahui cara membedakan antara ular berbisa dan tidak berbisa. Gigitan dari ular berbisa dapat berakibat fatal, sementara gigitan ular yang tidak berbisa, meskipun tidak mematikan, tetap bisa menyebabkan infeksi.
Oleh karena itu, identifikasi yang tepat terhadap jenis ular sangat krusial untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai. Ciri-ciri fisik dan perilaku ular berbisa umumnya berbeda dari ular tidak berbisa. Memahami perbedaan ini dapat membantu menjaga keselamatan keluarga di lingkungan rumah.
Untuk meningkatkan kewaspadaan Anda, Merdeka.com akan membahas tujuh cara untuk membedakan ular berbisa dan tidak berbisa. Dengan memiliki pengetahuan ini, Anda dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk melindungi keluarga dari risiko gigitan yang berbahaya. Berikut selengkapnya, dirangkum Selasa (14/10).
1. Bentuk Kepala dan Leher
Disampaikan ahli reptil dari ITB Ganjar Cahyadi, di situs resmi kampus tersebut, salah satu indikator visual yang paling umum untuk membedakan ular berbisa dan tidak berbisa adalah bentuk kepalanya. Ular berbisa biasanya memiliki kepala yang lebih besar, lebar, dan berbentuk segitiga atau baji. Hal ini terjadi karena adanya kelenjar bisa di bagian belakang rahang, yang menyebabkan kepala ular berbisa tampak lebih lebar dibandingkan dengan lehernya.
Sebaliknya, ular yang tidak berbisa umumnya memiliki kepala yang bulat atau lonjong, dengan ukuran lebar kepala yang hampir sama dengan lehernya. Namun, perlu diingat bahwa beberapa spesies ular tidak berbisa dapat meratakan kepalanya untuk menciptakan tampilan segitiga saat merasa terancam. Contoh ular berbisa yang memiliki kepala bulat adalah kobra dan ular karang, sehingga ciri ini tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan.
"Cirinya adalah bagian kepala berbentuk seperti segitiga. Kalau di daun warnanya hijau dan jika di tanah warnanya kecoklatan," katanya, dikutip Merdeka.com.
2. Bentuk Pupil Mata
Karakteristik mata dan bentuk pupil ular dapat memberikan informasi penting dalam membedakan antara ular berbisa dan tidak berbisa. Ular yang memiliki bisa biasanya ditandai dengan pupil vertikal yang menyerupai celah sempit, mirip dengan mata kucing yang sedang mengintai atau dalam posisi mengancam. Pupil ini berfungsi membantu ular dalam berburu mangsa saat malam hari.
Sebaliknya, ular yang tidak berbisa umumnya memiliki pupil bulat yang mengisi seluruh area mata mereka. Namun, ada beberapa pengecualian, seperti ular mamba hitam dan kobra, yang juga memiliki pupil bulat. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pengamatan dengan hati-hati dan dari jarak yang aman untuk menghindari risiko bahaya bagi diri sendiri.
Perbedaan bentuk pupil ini berkaitan erat dengan kebiasaan aktif ular; ular yang aktif di malam hari cenderung memiliki pupil berbentuk celah, sedangkan ular yang aktif di siang hari umumnya memiliki pupil bulat. Oleh karena itu, ciri ini sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya acuan dalam identifikasi, melainkan sebagai informasi tambahan yang dapat memperkuat hasil pengamatan.
3. Adanya Lubang Peka Panas (Pit Organ)
Beberapa spesies ular berbisa memiliki organ sensorik unik yang tidak ditemukan pada ular yang tidak berbisa, yaitu lubang peka panas atau organ pit. Organ ini berfungsi untuk membantu ular berbisa mendeteksi perbedaan suhu tubuh mangsa, yang sangat berguna saat mereka berburu, terutama dalam kondisi gelap.
Ular berbisa dari jenis pit viper, seperti ular derik dan copperhead, memiliki lubang kecil yang terletak di antara mata dan lubang hidung mereka. Lubang tersebut berfungsi sebagai organ sensorik yang sangat sensitif, sehingga memungkinkan mereka untuk mendeteksi mangsa yang memiliki darah panas. Di sisi lain, ular yang tidak berbisa tidak memiliki lubang pendeteksi panas seperti ini.
Meskipun lubang peka panas ini merupakan ciri khas dari ular berbisa, sulit untuk melihatnya dari jarak yang aman. Oleh karena itu, ciri ini sebaiknya dijadikan sebagai konfirmasi tambahan setelah ciri-ciri lain teridentifikasi, dan tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya metode untuk identifikasi awal.
4. Pola Warna
Warna dan pola pada tubuh ular sering kali menjadi ciri visual yang menarik untuk membedakan antara jenis berbisa dan non-berbisa. Ular yang berbisa umumnya memiliki pola warna yang lebih cerah dan mencolok, yang berfungsi sebagai sinyal peringatan bagi predator. Contohnya, ular karang dikenal dengan warna merah, kuning, dan hitam yang khas.
Namun, tidak semua ular berbisa memiliki warna yang mencolok; beberapa di antaranya, seperti kobra, justru memiliki warna yang lebih gelap atau kalem. Di sisi lain, ular yang tidak berbisa biasanya menunjukkan pola warna yang lebih monoton atau kurang menonjol. Menariknya, beberapa spesies ular tidak berbisa dapat meniru pola warna ular berbisa sebagai strategi perlindungan diri.
"Khusus untuk ular kobra, yang mencolok adalah karena warnanya hitam legam," kata Ganjar.
5. Bentuk Sisik Perut dan Subkaudal
Pola sisik yang terdapat pada bagian perut dan di bawah ekor (sisik subkaudal) dapat memberikan informasi penting, meskipun pengamatannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan memiliki risiko tersendiri. Ular berbisa umumnya memiliki sisik tunggal yang membentang dari bagian bawah ekor hingga ke ujungnya, sedangkan ular yang tidak berbisa biasanya menunjukkan sisik ganda di area yang sama.
Ciri ini merupakan salah satu yang paling sulit untuk diandalkan, karena memerlukan pemeriksaan yang sangat teliti, yang tentunya berbahaya ketika dilakukan pada ular liar. Di samping itu, sisik ventral juga dapat menjadi petunjuk, tetapi tidak selalu dapat diandalkan untuk membedakan kedua jenis ular tersebut.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan ciri-ciri lain dan tidak hanya mengandalkan bentuk sisik untuk proses identifikasi. Mengingat adanya risiko yang terlibat, sebaiknya pengamatan ini dilakukan oleh seseorang yang berpengalaman atau seorang ahli di bidangnya.
6. Bekas Gigitan
Jika seseorang mengalami gigitan ular, pola yang ditinggalkan pada kulit dapat memberikan informasi penting untuk menentukan apakah ular tersebut berbisa atau tidak. Gigitan dari ular berbisa biasanya ditandai dengan luka tusukan yang jelas, yang sering kali terlihat berupa dua titik taring yang dalam. Dua taring ini berfungsi untuk menyuntikkan racun ke dalam tubuh korban.
Jumlah tusukan yang dihasilkan bisa berbeda-beda tergantung pada spesies ular dan kondisi saat gigitan terjadi. Sebagai contoh, gigitan dari Calloselasma rhodostoma dapat menunjukkan empat tusukan, sedangkan gigitan dari King Kobra bisa menghasilkan lebih dari tujuh tusukan. Luka tusukan yang dalam menunjukkan bahwa taring ular telah berhasil menembus kulit dan menyuntikkan bisa.
Di sisi lain, luka akibat gigitan ular yang tidak berbisa biasanya akan tampak sobek dan membentuk pola huruf 'U' atau menyerupai jejak gigi ular. Luka ini cenderung lebih dangkal dan menyebar, menunjukkan bekas gigi yang tidak dalam. Meskipun demikian, bekas gigitan dari kedua jenis ular ini bisa terlihat mirip, sehingga mengandalkan hanya pada bekas luka untuk identifikasi tidak selalu dapat diandalkan.
7. Perilaku dan Gerakan
Perilaku dan gerakan ular dapat memberikan informasi mengenai jenis ular tersebut, apakah berbisa atau tidak. Ular yang tidak berbisa biasanya akan memilih untuk melarikan diri saat didekati, karena mereka lebih suka menghindari konfrontasi. Beberapa spesies ular yang tidak berbisa bahkan dapat meniru perilaku ular berbisa dengan meratakan kepala mereka agar tampak seperti berbentuk segitiga.
Di sisi lain, ular berbisa cenderung menunjukkan perilaku defensif ketika merasa terancam. Contohnya, ular kobra akan mengembangkan lehernya sehingga membentuk tudung saat merasa terancam. Ular berbisa umumnya lebih tenang tetapi tetap waspada, sementara ular tidak berbisa cenderung bergerak lebih cepat untuk menghindari bahaya.
Ular berbisa seperti ular tanah biasanya tidak banyak bergerak dan memiliki warna yang menyerupai lingkungan sekitarnya, sehingga meningkatkan risiko gigitan karena ketidaktahuan masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami perilaku ular agar dapat mengambil langkah pencegahan yang sesuai.
"Dari perilakunya juga dapat terlihat kalau ular berbisa lebih santai dalam bergerak, tapi kalau didekati akan melakukan upaya perlindungan diri atau menyerang. Sementara ular tidak berbisa, tidak memiliki taring dan bila didekati akan kabur,” tambah Ganjar.