Mengenal Filosofi Niksen, Rahasia Orang Belanda Menjaga Keseimbangan Hidup dan Mental yaang Sehat
Niksen, filosofi hidup dari Belanda, ajarkan kita untuk diam dan tidak melakukan apa pun demi menjaga kesehatan mental.
Di tengah budaya modern yang kerap mengagungkan produktivitas tanpa henti, masyarakat global mulai menyadari pentingnya jeda dan ketenangan. Setelah populer dengan konsep Hygge dari Denmark, Lagom dari Swedia, dan Sisu dari Finlandia, kini dunia melirik sebuah filosofi hidup baru dari Belanda yang dikenal dengan sebutan Niksen.
Niksen adalah konsep sederhana yang bisa menjadi jawaban atas tekanan hidup zaman sekarang. Ia tidak menuntut pencapaian, tidak mengharuskan seseorang untuk bermeditasi dalam keheningan atau mengikuti aturan tertentu. Niksen hanya meminta kita untuk diam, untuk “tidak melakukan apa-apa.” Namun justru di balik kesederhanaannya, filosofi ini menyimpan kekuatan besar dalam menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, bahkan meningkatkan kreativitas.
"Sekadar menjadi, tanpa tujuan, tanpa target, tanpa penghakiman," demikian penjelasan tentang Niksen dari sumber aslinya di Good Housekeeping UK.
Mengapa konsep ini menjadi perbincangan hangat? Sebuah penelitian oleh David Lloyd Clubs menunjukkan bahwa 60 persen warga Inggris bahkan tak ingat kapan terakhir kali mereka benar-benar berhenti sejenak dari aktivitas. Sementara 22 persen mengaku tak tahu cara ‘mematikan’ diri dari dunia digital. Di sinilah Niksen hadir sebagai solusi sederhana namun ampuh untuk kembali menemukan keseimbangan.
Apa Itu Niksen dan Mengapa Semakin Populer?
Niksen berasal dari kata kerja dalam bahasa Belanda yang berarti “tidak melakukan apa-apa.” Namun makna yang dikandungnya lebih dalam dari sekadar bermalas-malasan. Jan P. de Jonge, psikolog kelahiran Belanda dan pakar Niksen, menjelaskan bahwa Niksen adalah waktu yang diberikan kepada diri sendiri untuk benar-benar terlepas dari kewajiban, tekanan, maupun ekspektasi.
“Berbeda dengan praktik mindfulness yang menuntut kesadaran penuh terhadap momen kini, Niksen justru mendorong kita untuk sepenuhnya larut dalam ketenangan,” ujar Jan.
Dalam praktiknya, Niksen bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak ada aturan baku, tak ada teknik pernapasan, tak perlu postur khusus. Yang dibutuhkan hanyalah niat untuk berhenti sejenak. Bisa berupa duduk diam sambil menatap hujan di jendela, menikmati secangkir teh tanpa mengakses ponsel, atau hanya berbaring sambil membiarkan pikiran melayang ke mana saja.
Anna Williamson, penulis buku terlaris sekaligus konselor dan pelatih kehidupan, menyebut bahwa Niksen adalah bentuk perawatan diri yang sangat membebaskan. “Bisa dengan membuat teh, berjalan di taman, memperhatikan nyala lilin, atau hanya menutup mata sambil mendengarkan lagu. Apa pun yang tidak menuntut pikiran atau perencanaan adalah bentuk Niksen,” ujarnya.
Berbeda dengan meditasi yang sering kali terasa seperti ‘kerja batin’, Niksen membebaskan kita dari tuntutan apa pun. Bahkan kebebasan ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang terbiasa ‘selalu sibuk’.
Manfaat Niksen: Dari Mengurangi Stres Hingga Meningkatkan Kreativitas
Dalam dunia yang penuh distraksi dan ekspektasi, Niksen muncul sebagai praktik kesehatan mental yang justru menyarankan kita untuk melambat. Sejumlah ahli menyebut bahwa manfaat Niksen tidak kalah dari praktik mindfulness. Bahkan dalam beberapa aspek, ia justru lebih fleksibel dan bisa diterapkan dengan mudah oleh siapa saja.
Dr. Sharon Grossman, seorang pakar kelelahan kerja (burnout), menekankan pentingnya mengurangi kecanduan terhadap gratifikasi instan. “Niksen membantu kita melatih otak untuk menikmati ketenangan tanpa harus selalu meraih ponsel atau menyalakan TV,” jelasnya. Dengan membiasakan diri pada keheningan, seseorang dapat menurunkan kadar stres dan memperoleh ketenangan batin.
Tak hanya itu, Niksen juga disebut mampu merangsang munculnya gagasan baru. Sebuah studi pada 2013 menunjukkan bahwa membiarkan pikiran melayang bebas (tanpa arahan atau fokus khusus) dapat memicu momen ‘Eureka’ yang sering kali dibutuhkan dalam pekerjaan kreatif.
“Niksen memberi saya izin untuk beristirahat, yang sering kali kita anggap sebagai kemewahan yang harus diperjuangkan,” kata Anna Williamson. “Dan bonusnya, praktik ini juga dapat meningkatkan kreativitas dan membantu kita menemukan solusi yang tidak muncul saat kita terus bergerak.”
Jan P. de Jonge pun menambahkan, “Niksen memungkinkan otak kita masuk ke mode istirahat aktif, di mana inspirasi dan intuisi lebih mudah muncul.” Hal ini sejalan dengan banyak laporan pengguna Niksen yang mengaku menemukan solusi atas masalah rumit setelah membiarkan pikirannya berkelana bebas.
Niksen dalam Praktik Sehari-hari: Sesederhana Menatap Jendela
Mengadopsi Niksen ke dalam kehidupan sehari-hari tidak membutuhkan peralatan khusus, waktu panjang, atau keahlian tertentu. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memberi izin kepada diri sendiri untuk beristirahat.
Salah satu penulis Good Housekeeping UK mencoba mengikuti kelas Niksen virtual yang diinisiasi oleh David Lloyd Clubs. Dalam kelas berdurasi 20 menit itu, ia dipandu oleh praktisi bernama Anna Smith. “Berbeda dengan meditasi yang mengharuskan saya untuk kembali fokus pada napas atau mantra, dalam Niksen saya hanya diminta untuk membiarkan pikiran saya mengalir bebas,” tulisnya.
Di percobaan berikutnya, ia berdiri di balkon sambil memegang secangkir teh hangat. Sambil membiarkan pikirannya berkeliling tanpa arah, ia mulai memikirkan tujuan-tujuannya tahun ini. Tak disangka, beberapa solusi atas masalah pekerjaan pun muncul begitu saja. Inilah kekuatan dari berhenti sejenak.
Meski terkesan sederhana, praktik ini bisa menjadi sangat sulit bagi mereka yang sudah terbiasa hidup dengan agenda padat. Kebanyakan orang bahkan hanya mampu bertahan enam menit sebelum merasa bosan dan kembali mencari gawai atau hiburan cepat lainnya. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa istirahat bukanlah kemunduran, melainkan bagian penting dari proses pemulihan.
Niksen sebagai Gaya Hidup: Bukan Tren Sesaat
Apakah Niksen akan menjadi tren sementara seperti banyak konsep kebugaran lainnya? Jawabannya tampaknya tidak. Justru karena sifatnya yang fleksibel dan bisa dilakukan siapa saja, Niksen memiliki potensi untuk diadopsi sebagai gaya hidup jangka panjang.
“Saya tidak akan menggantikan meditasi harian saya sepenuhnya dengan Niksen,” tulis penulis Good Housekeeping UK, “namun saya mulai menyelipkan momen-momen ‘tidak melakukan apa-apa’ di sela-sela hari saya, dan hasilnya sangat terasa.”
Kunci keberhasilan Niksen terletak pada konsistensi kecil: menjadikannya bagian dari rutinitas, meski hanya lima hingga sepuluh menit sehari. Menikmati waktu sendiri tanpa rasa bersalah. Menatap awan tanpa ponsel. Berjalan tanpa tujuan di halaman rumah. Semua itu adalah cara untuk menghidupkan kembali hubungan dengan diri sendiri.
“Niksen adalah pengingat bahwa kita berhak untuk diam,” tulis salah satu praktisi. “Bahwa tubuh dan pikiran kita perlu ruang kosong agar dapat kembali mengisi energi.”
Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu terhubung, produktif, dan tampil optimal, Niksen datang sebagai bentuk perlawanan lembut. Ia mengajak kita untuk melambat, untuk kembali pada hakikat manusia: sekadar ada.
Waktunya Memulai dengan Niksen
Menerapkan Niksen tidak memerlukan biaya atau alat. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen kecil untuk memberi ruang kosong di tengah kesibukan. Bagi siapa pun yang tengah mencari keseimbangan hidup, menurunkan tingkat stres, atau sekadar ingin merasa lebih utuh sebagai manusia, Niksen adalah jawaban yang layak dicoba.
Mulailah dari hal kecil. Cobalah duduk tanpa ponsel selama lima menit. Biarkan pikiranmu melayang. Rasakan efeknya. Mungkin, seperti banyak orang lain, kamu pun akan menemukan bahwa dalam keheningan itulah kamu benar-benar pulih.