Venezuela Gagal Bayar Utang Sejak 2017, Aset Negara Jadi Rebutan Kreditur
Venezuela saat ini memiliki utang obligasi yang belum dibayar sebesar USD 60 miliar.
Penggulingan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, kembali menarik perhatian terhadap krisis utang yang melanda negara Amerika Latin tersebut.
Kasus ini dianggap sebagai salah satu contoh gagal bayar utang negara terbesar di dunia yang hingga saat ini belum menemukan solusi.
Dikutip dari CNBC pada Senin (5/1/2026), Venezuela secara resmi mengalami gagal bayar pada akhir tahun 2017 setelah gagal memenuhi kewajiban pembayaran obligasi internasional yang diterbitkan oleh pemerintah serta perusahaan minyak negara, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA).
Krisis ekonomi yang berkepanjangan, ditambah dengan sanksi dari Amerika Serikat (AS), telah membuat negara ini terputus dari akses ke pasar keuangan global.
Sejak saat itu, beban utang Venezuela semakin membengkak, di mana akumulasi bunga, klaim hukum, serta keputusan arbitrase internasional terkait penyitaan aset masa lalu menyebabkan total kewajiban eksternal melampaui nilai nominal obligasi yang awalnya diterbitkan.
Total Utang Tembus USD 170 Miliar
Para analis memperkirakan bahwa Venezuela memiliki sekitar USD 60 miliar obligasi yang belum dilunasi.
Namun, jika ditambahkan dengan kewajiban dari PDVSA, pinjaman bilateral, serta putusan arbitrase internasional, total utang luar negeri negara tersebut diperkirakan mencapai USD 170 miliar, yang setara dengan kurang lebih Rp 2.847 triliun (berdasarkan estimasi kurs Rp 16.750 per USD).
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa produk domestik bruto (PDB) nominal Venezuela pada tahun 2025 hanya akan mencapai sekitar USD 82,8 miliar.
Dengan demikian, rasio utang terhadap PDB diperkirakan berada di kisaran 180-200%, yang dianggap tidak berkelanjutan tanpa adanya perombakan besar-besaran terhadap skema utang yang ada.
Citgo Petroleum Aset Rebutan Kreditur
Salah satu aset terpenting dalam sengketa utang ini adalah Citgo Petroleum, sebuah perusahaan penyulingan minyak yang berlokasi di Amerika Serikat dan mayoritas sahamnya dimiliki oleh PDVSA.
Obligasi PDVSA yang jatuh tempo pada tahun 2020 dijamin dengan saham Citgo, sehingga aset ini menjadi fokus utama bagi para kreditur. Pengadilan di Delaware, Amerika Serikat, telah mencatat klaim senilai sekitar USD 19 miliar terhadap perusahaan induk Citgo, yaitu PDV Holding.
Jumlah klaim tersebut bahkan melebihi estimasi nilai total aset Citgo, yang mengakibatkan terjadinya persaingan sengit di antara para kreditur.
Siapa Saja Krediturnya?
Kebanyakan kreditur komersial Venezuela berasal dari pemegang obligasi internasional, termasuk para investor yang terlibat dalam utang bermasalah.
Di samping itu, terdapat juga perusahaan-perusahaan multinasional yang telah memenangkan gugatan arbitrase internasional setelah aset mereka disita oleh pemerintah Venezuela.
Contohnya, perusahaan energi besar ConocoPhillips dan perusahaan tambang Crystallex adalah pihak-pihak yang telah menerima putusan ganti rugi miliaran dolar dari pengadilan di AS, sehingga mereka mendapatkan hak untuk mengejar aset-aset Venezuela di luar negeri.
Selain itu, Venezuela juga memiliki kreditur bilateral yang signifikan, terutama dari Tiongkok dan Rusia, yang selama bertahun-tahun telah memberikan pinjaman kepada pemerintahan Hugo Chavez dan Nicolas Maduro.
Namun, informasi resmi mengenai nilai pasti utang bilateral ini sulit untuk diverifikasi karena Venezuela telah lama tidak merilis data utang secara transparan.
Penyelesaian Utang Bakal Rumit
Dengan banyaknya klaim hukum yang diajukan, proses pengadilan yang sedang berlangsung, serta ketidakpastian politik yang melingkupi, restrukturisasi utang Venezuela diprediksi akan menjadi proses yang panjang dan rumit.
IMF dapat berperan signifikan melalui program bantuan yang mengharuskan pengetatan kebijakan fiskal dan menjaga keberlanjutan utang.
Namun, Venezuela belum melakukan konsultasi rutin dengan IMF selama hampir dua dekade, dan akses pembiayaan dari lembaga tersebut masih terhalang. Sanksi yang diberlakukan oleh AS juga menjadi penghalang yang besar.
Sejak tahun 2017, Venezuela dilarang untuk menerbitkan utang tanpa mendapatkan izin khusus dari Departemen Keuangan AS.
Di tengah spekulasi mengenai perubahan politik, obligasi Venezuela mencatat pengembalian yang signifikan, mencapai sekitar 95% sepanjang tahun 2025.
Saat ini, obligasi tersebut diperdagangkan pada kisaran 27 hingga 32 sen per dolar. Analis dari Citigroup memperkirakan bahwa untuk mencapai keberlanjutan utang, pengurangan pokok utang minimal sebesar 50% diperlukan.
Dalam skenario dasar, nilai pemulihan yang bisa didapatkan oleh investor diperkirakan berada di kisaran 40 sen per dolar, dengan kemungkinan peningkatan jika disertai dengan mekanisme tambahan yang terhubung dengan harga minyak.
Produksi Minyak Belum Pulih
Meskipun demikian, tantangan dalam kondisi ekonomi domestik masih ada.
Produksi minyak yang belum sepenuhnya pulih, harga minyak global yang lebih rendah, dan diskon terhadap minyak mentah Venezuela mengakibatkan ruang untuk pembayaran utang menjadi sangat terbatas.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa perusahaan minyak dari Amerika Serikat siap untuk berinvestasi dalam upaya memulihkan produksi Venezuela, meskipun rincian dan jadwalnya masih belum jelas.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar dari AS yang masih beroperasi di negara tersebut.