Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam Usai Maduro Ditangkap Trump, Sekarang Jadi Segini

Meskipun demikian, Trump menekankan bahwa embargo minyak AS terhadap Venezuela tetap berlaku.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam Usai Maduro Ditangkap Trump, Sekarang Jadi Segini
Ilustrasi Migas. istimewa ©2019 Merdeka.com (@ 2023 merdeka.com)

Harga minyak mentah global mengalami kenaikan pada akhir perdagangan yang berlangsung pada hari Senin. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian politik di Venezuela setelah Presiden Nicolas Maduro dipecat melalui operasi yang didukung oleh pemerintah Amerika Serikat.

Berdasarkan informasi dari CNBC pada Selasa (6/1), harga minyak mentah AS (West Texas Intermediate/WTI) meningkat sebesar USD 1 atau 1,74 persen, sehingga ditutup pada level USD 58,32 per barel. Di sisi lain, harga minyak acuan internasional Brent juga mengalami penguatan sebesar USD 1,01 atau 1,66 persen, mencapai posisi USD 61,76 per barel.

Presiden AS, Donald Trump, menegaskan pada hari Sabtu bahwa investasi dari perusahaan-perusahaan minyak AS di Venezuela menjadi salah satu tujuan utama dari perubahan rezim yang mengusir Maduro.

"Kami akan mengirim perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat yang terbesar di dunia untuk masuk, menginvestasikan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, termasuk infrastruktur minyak," ungkap Trump dalam konferensi pers yang diadakan di kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida.

Meskipun demikian, Trump menekankan bahwa embargo minyak AS terhadap Venezuela tetap berlaku.

Venezuela sendiri merupakan negara pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, dengan jumlah sekitar 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan minyak global, menurut Badan Informasi Energi AS (U.S. Energy Information Administration).

Kenaikan harga minyak ini menunjukkan dampak langsung dari situasi politik yang tidak stabil di negara tersebut, yang berpotensi mempengaruhi pasar energi global secara keseluruhan.

Harga Minyak Melesat Usai Trump Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP © 2026 Liputan6.com

Produksi minyak Venezuela pernah mencapai titik tertinggi sekitar 3,5 juta barel per hari pada akhir tahun 1990-an. Namun, seiring berjalannya waktu, angka tersebut mengalami penurunan drastis dan kini hanya mencapai sekitar 800.000 barel per hari, menurut data dari perusahaan konsultan energi Kpler.

Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar asal Amerika Serikat yang masih beroperasi di Venezuela. Pada akhir kuartal IV 2025, Chevron dilaporkan mengekspor sekitar 140.000 barel per hari. Analis dari Goldman Sachs menilai bahwa dampak penggulingan Maduro terhadap harga minyak masih belum dapat dipastikan dalam jangka pendek.

"Produksi bisa meningkat jika pemerintah yang didukung AS terbentuk dan sanksi terhadap Venezuela dicabut," ungkap Kepala Riset Minyak Goldman Sachs, Daan Struyven.

Meskipun demikian, ia juga mengingatkan bahwa peralihan kekuasaan dapat memicu gangguan pasokan dalam waktu dekat. Dalam perspektif jangka panjang, masuknya investasi dari AS dapat berpotensi menekan harga minyak global, meskipun pemulihan produksi diperkirakan akan berlangsung lambat dan tidak sepenuhnya.

Hal ini menunjukkan kompleksitas situasi di sektor energi Venezuela yang sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dan ekonomi.

Rekomendasi