Upaya Iran Akhiri Perang dengan Cara Bermartabat
Iran kembali menekankan bahwa mereka berada dalam posisi untuk membela diri.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan pada Minggu (19/4/2026) bahwa negaranya berkomitmen untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS) dengan cara yang "bermartabat". Ia menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki kewenangan untuk mencabut hak nuklir Iran.
Pezeshkian menyatakan, "Trump mengatakan Iran tidak boleh menggunakan hak nuklirnya, tetapi tidak menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan Iran," dalam kunjungannya ke Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran, menurut laporan dari kantor berita ISNA.
Ia juga menyerukan kepada rakyat Iran untuk tetap bersatu dan menghadapi musuh yang dianggapnya haus darah dan brutal. Menurutnya, penting bagi Iran untuk mengelola situasi saat ini agar tidak dipandang sebagai pihak yang suka berperang.
"Karena kami sedang membela diri," ujarnya.
Pezeshkian menambahkan, "Para atlet perempuan kami di Australia telah memberikan pukulan telak kepada musuh. Dua gadis yang kami kasihi, yang telah disesatkan oleh pihak musuh, selalu dipersilakan untuk kembali kapan pun mereka pulang; kami akan menyambut mereka dengan tangan terbuka," merujuk pada partisipasi Tim Sepak Bola Wanita Australia dalam Piala Asia bulan lalu dan dua pemain yang mencari suaka.
Perang antara Iran dan AS terhenti sementara sejak 8 April, ketika Pakistan berhasil memediasi gencatan senjata selama dua minggu. Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke Israel serta negara-negara regional lain yang menampung aset militer AS. Washington dan Teheran kemudian mengadakan pembicaraan di Pakistan pada 11 April untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan, dan saat ini sedang berlangsung upaya untuk mengadakan pertemuan lanjutan di Islamabad.