UNESCO Rekonstruksi Kembali Situs-Situs Kuno Bersejarah di Irak yang Hancur Diserang ISIS
Tidak hanya manusia yang menjadi korban, berbagai situs bersejarah, monumen, gereja, dan masjid di Irak juga mengalami kerusakan parah akibat tindakan ISIS.
Musim gugur 2014 menyimpan catatan kelam bagi Irak, saat milisi Islamic State atau ISIS melancarkan perang. Selain menimbulkan banyak korban jiwa, berbagai situs bersejarah, tugu peringatan, gereja, dan masjid di Irak juga mengalami kerusakan. Bangunan-bangunan tersebut diratakan karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama.
Laporan dari DW Indonesia yang dikutip pada Minggu (9/2) mengungkapkan, tindakan perusakan yang dilakukan oleh para militan tidak hanya menghancurkan sejarah bangsa, tetapi juga warisan budaya dunia. Banyak situs dan bangunan bersejarah di Irak yang telah terdaftar sebagai warisan dunia di bawah perlindungan UNESCO menjadi sasaran serangan ISIS.
Namun, status perlindungan itu tidak menghentikan ISIS untuk meratakan kota kuno Hatra dan Nineveh, serta menghancurkan kota metropolitan Mosul di Irak utara, merusak tempat ibadah, situs budaya, buku-buku, manuskrip langka, dan artefak dari perpustakaan serta museum.Beragam koleksi bersejarah hancur atau dijarah untuk dijual di pasar gelap.
Ketika militer Irak berhasil merebut kembali Mosul pada tahun 2017, banyak yang menyadari bahwa sedikit yang tersisa. Banyak bangunan bersejarah telah hancur, bersamaan dengan sekitar 130.000 rumah penduduk yang juga rusak. Sejak tahun 2018, UNESCO bekerja sama dengan pemerintah Irak, Uni Emirat Arab, dan Uni Eropa untuk memulihkan monumen sejarah yang hancur akibat tindakan ISIS. Proyek ini bertujuan untuk mengembalikan keragaman budaya dan agama, serta membangun kembali Kota Mosul agar dapat kembali menjadi pusat peradaban yang kaya akan sejarah.
Dari Masjid Sampai Gereja
UNESCO telah berhasil menyelamatkan sejumlah bangunan bersejarah di kota tua Mosul, termasuk Masjid Al-Nouri yang terkenal dengan Menara Al-Hadba yang miring, Biara Al-Saa'a "Bunda Maria", Gereja Katolik Suriah Al-Tahira, Masjid Al-Aghawat, serta Sekolah Al-Ekhlass. Dalam proyek ini, lebih dari 140 juta euro telah diinvestasikan untuk pemulihan situs-situs tersebut. Menurut manajer konstruksi Anas Zeyad Abdulmalek di situs resmi UNESCO, untuk rekonstruksi Gereja Al-Tahira, sebanyak 30 pekerja lokal telah direkrut. Hal ini membuat masyarakat merasa lebih terlibat dalam proses pemulihan.
Abdulmalek mengungkapkan, ia sering mendapatkan pertanyaan mengenai mengapa pembangunan gereja dan masjid diprioritaskan dibandingkan dengan pembangunan rumah tinggal dan fasilitas kesehatan.
"Nilai gereja dan masjid adalah tempat yang damai. Orang-orang berkumpul di sini untuk berdoa. Kami ingin mengembalikan kenangan dan warisan ini kepada masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan kolaborasi antara umat Kristen dan Muslim dalam memulihkan kota sangatlah penting.
"Tujuan utama proyek ini adalah rekonsiliasi dan kohesi di Mosul, dengan segala keberagamannya, baik Kristen, Yahudi, maupun Muslim, yang telah hidup bersama secara damai di sini selama berabad-abad," lanjutnya.
Biara Al-Saa'a yang terletak di pusat kota juga memiliki peranan penting dalam aspek keagamaan, budaya, dan sosial. Menara lonceng yang menjadi ciri khas biara ini merupakan satu-satunya di Mosul. Menara tersebut merupakan hadiah dari istri Napoleon III, Eugénie, kepada biarawan Dominikan yang tinggal di biara tersebut. Ini adalah menara lonceng pertama yang dibangun di Irak, dan jam menara yang dipasang pada tahun 1880 berdetak setiap jam, memberikan irama bagi kehidupan masyarakat sekitar. Proses pemugaran menara berlangsung selama sebelas bulan dan dilengkapi dengan tiga lonceng baru yang dibuat di Prancis, tepatnya di sebuah pabrik pengecoran di Normandia.
Menara Masjid
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah pemulihan Menara Al-Hadba, yang merupakan bagian integral dari Masjid Al-Nouri. Meskipun menara ini dalam keadaan miring, ia tetap berdiri kokoh selama berabad-abad tanpa pernah runtuh. Al-Hadba bukan hanya sekadar bangunan, tetapi juga merupakan simbol serta bagian penting dari identitas masyarakat Mosul.
Kehancuran bagian utama dari menara ini dianggap sebagai tragedi nasional yang menyentuh hati banyak orang. Selama pertempuran untuk membebaskan Mosul pada tahun 2017, warga setempat berinisiatif membentuk rantai manusia demi mencegah keruntuhan total menara yang bersejarah ini.
Menjelang proses rekonstruksi, pendapat warga setempat sangat diperlukan mengenai nasib reruntuhan menara. Mereka diajak berdiskusi apakah reruntuhan tersebut sebaiknya dibiarkan ataukah harus dibangun kembali.
"Sebanyak 94 persen responden ingin menara tersebut dibangun kembali -- tepat di tempat semula, dan persis seperti dulu: Dengan dekorasi yang sama, dengan kemiringan yang sama," ungkap Kepala Proyek Menara, Omar Yasir Adil Taqa, di situs web UNESCO.
Keputusan akhirnya diambil untuk membangun kembali menara di atas fondasi yang masih ada, meskipun fondasi tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah. Kini, menara tersebut telah berdiri kembali dengan teliti, disusun dari batu asli yang berhasil diselamatkan oleh tim pembangunan dari ribuan ton puing yang tersisa.
6.000 Lapangan Kerja Baru
Menurut UNESCO, restorasi yang dilakukan di Mosul telah berhasil menciptakan 6.000 lapangan pekerjaan baru. Dengan dukungan dari para ahli restorasi, lebih dari 1.300 pemuda telah dilatih dalam berbagai kerajinan tradisional, seperti menjadi tukang kayu, pemahat batu, dan pelukis.
Pada tanggal 5 Februari, Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, dijadwalkan untuk mengunjungi Mosul guna meninjau bangunan yang telah dipulihkan sebagai penutupan dari proyek konstruksi tersebut. Peresmian akan dilakukan oleh Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia Sudani, pada waktu yang akan ditentukan. Meskipun ada kemajuan, Mosul masih memerlukan waktu, dana, dan tenaga yang cukup besar untuk memulihkan infrastrukturnya secara keseluruhan. Saat ini, pembangunan fasilitas publik seperti rumah sakit masih dalam tahap perencanaan.
Sementara itu, Bandara Internasional Mosul diperkirakan akan dibuka kembali pada tahun 2025, menurut keterangan seorang juru bicara Kementerian Transportasi Irak yang disampaikan kepada kantor berita "Ina". Proses pemulihan ini menunjukkan meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi, upaya restorasi di Mosul tetap berlanjut dengan harapan untuk mengembalikan kehidupan normal bagi masyarakat setempat. Dengan berbagai inisiatif yang sedang berjalan, diharapkan Mosul dapat segera bangkit dan menjadi kota yang lebih baik bagi warganya.