FOTO: Warisan Bersejarah Gaza Tergerus di Tengah Konflik Berkepanjangan
Kerusakan situs-situs bersejarah di Gaza menjadi sorotan di tengah dampak luas perang yang belum sepenuhnya pulih.
Muneer Elbaz masih mengingat kegembiraan saat mengunjungi Masjid Agung Omari di Gaza bersama keluarganya. Di tempat itu, ia berdoa di ruang yang telah menjadi pusat ibadah selama berabad-abad, menyaksikan pergantian kekuasaan dan peradaban yang silih berganti. Kawasan pasar di sekeliling masjid pernah menjadi ruang pertemuan warga, tempat tradisi dan kehidupan sehari-hari menyatu dalam denyut kota tua.
Kini, bangunan bersejarah tersebut mengalami kerusakan parah setelah dua tahun konflik antara Israel dan Hamas yang baru mereda melalui gencatan senjata yang masih rapuh. Pemandangan puing dan dinding yang runtuh memperlihatkan perubahan drastis lanskap kota yang selama ini menjadi bagian penting identitas Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina tewas sejak perang dimulai. Serangan militer Israel dilancarkan setelah kelompok militan yang dipimpin Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 lainnya dalam serangan 7 Oktober 2023. Militer Israel menyatakan bahwa sejumlah lokasi budaya dan sipil digunakan untuk kepentingan militer, termasuk dugaan keberadaan infrastruktur bawah tanah di sekitar situs bersejarah.
Badan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO, dalam penilaian berbasis citra satelit, telah memverifikasi kerusakan pada sedikitnya 150 situs budaya sejak awal perang. Data tersebut mencakup 14 situs keagamaan, 115 bangunan bersejarah atau bernilai seni, sembilan monumen, serta delapan lokasi arkeologi.Kerusakan juga terjadi pada Istana Pasha, salah satu bangunan bersejarah yang menyimpan artefak dari berbagai era.
Pusat Pelestarian Warisan Budaya yang berbasis di Tepi Barat melaporkan bahwa sejumlah benda bernilai sejarah diduga hilang atau rusak, termasuk manuskrip Al Quran dari masa Ottoman, perhiasan era Mamluk, dan sarkofagus peninggalan Romawi yang kini hanya tersisa dalam fragmen. Militer Israel menyatakan telah menyerang kompleks militer Hamas dan fasilitas persenjataan di sekitar lokasi tersebut. Mereka juga menyebut adanya target militer di area masjid. Namun, tidak ada bukti yang dipublikasikan secara terbuka.
Sejumlah pejabat di Gaza membantah tuduhan tersebut. Komisi independen yang dibentuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB menyatakan belum menemukan bukti keberadaan terowongan di area masjid dan menegaskan bahwa hukum internasional melarang penargetan properti budaya.
Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat pada Oktober lalu menghentikan sebagian besar pertempuran, tetapi belum memberikan kejelasan mengenai rekonstruksi Gaza. Proses pembangunan kembali dinilai menghadapi tantangan besar, terutama jika pembatasan akses dan blokade wilayah tetap diberlakukan.
Bagi sebagian warga, kehancuran bangunan bersejarah bukan sekadar kehilangan fisik, melainkan juga hilangnya ruang memori kolektif. Situs-situs tersebut selama ini menjadi penghubung antara generasi, merekam perjalanan panjang masyarakat Gaza dari masa ke masa. Di tengah upaya bertahan hidup dan menata kembali kehidupan, pertanyaan tentang bagaimana menjaga warisan sejarah tetap menjadi bagian penting dari masa depan wilayah itu.