Satu Hari di Venus Lebih Lama dari Setahun, Ini Penjelasan Ilmuwan
Venus menarik minat para peneliti karena karakteristik uniknya.
Venus sering kali disebut sebagai saudara kembar Bumi karena memiliki kesamaan dalam ukuran, massa, kepadatan, komposisi, dan gravitasi. Planet ini sedikit lebih kecil dibandingkan Bumi, dengan massa sekitar 80 persen dari planet kita. Sebagai planet kedua dari matahari, Venus menarik perhatian para ilmuwan berkat karakteristiknya yang unik.
Selain itu, Venus dikenal sebagai planet terpanas di tata surya dan memiliki atmosfer yang mengandung gas-gas yang tidak biasa. Menariknya, satu hari di Venus lebih lama dibandingkan satu tahun di planet tersebut.
Berdasarkan informasi dari laman Space pada Senin (27/1), Venus memerlukan waktu 243 hari Bumi untuk menyelesaikan satu rotasi pada porosnya. Sementara itu, planet ini hanya membutuhkan 225 hari Bumi untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi matahari. Dengan demikian, durasi satu hari di Venus lebih panjang daripada satu tahunnya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rotasi Venus berlangsung sangat lambat. Salah satu penyebab utamanya adalah atmosfer padat yang sebagian besar terdiri dari karbon dioksida dan awan asam sulfat. Atmosfer yang tebal ini menciptakan hambatan yang signifikan, sehingga memperlambat rotasi Venus dalam skala waktu geologis. Tekanan dan suhu permukaan yang mencapai sekitar 471 derajat Celsius juga membuat rotasi Venus menjadi lebih rumit.
Selain itu, Venus memiliki pola rotasi retrograde, yang berarti planet ini berputar ke arah yang berlawanan dengan sebagian besar planet di tata surya, termasuk Bumi. Gerakan retrograde ini menghasilkan siklus siang-malam yang unik. Meskipun Venus memerlukan 243 hari Bumi untuk berotasi sekali, waktu antara terbitnya matahari (siklus siang-malam) adalah sekitar 117 hari Bumi karena arah rotasinya yang berlawanan.
Faktor Lain
Faktor lain yang memengaruhi lambatnya rotasi Venus adalah dampak gaya pasang surut yang dihasilkan oleh matahari. Ketika Venus berputar mengelilingi matahari, interaksi gravitasi menyebabkan tonjolan pasang surut di permukaannya. Selama jutaan tahun, gaya pasang surut ini dapat mengubah kecepatan rotasi. Dalam hal ini, gaya-gaya tersebut kemungkinan besar berkontribusi terhadap rotasi Venus yang sangat lambat.
Selain itu, interaksi gravitasi dengan benda-benda langit lainnya juga dapat berperan. Meskipun Venus tidak memiliki satelit alami seperti bulan, interaksi dengan planet-planet terdekat, seperti Bumi dan Jupiter, dapat mempengaruhi dinamika rotasinya dalam jangka panjang. Pengaruh gravitasi ini dapat menyebabkan perubahan kemiringan sumbu dan kecepatan rotasi, yang semakin memperumit pengaturan waktu di planet tersebut.
Permukaan Venus sangat sulit untuk diamati secara langsung karena atmosfernya yang tebal. Namun, misi antariksa seperti Magellan milik NASA telah menggunakan radar untuk memetakan permukaan planet ini. Venus memiliki banyak gunung berapi, lembah, dan dataran luas yang sebagian besar terbentuk oleh aktivitas vulkanik. Beberapa ilmuwan bahkan berspekulasi bahwa gunung-gunung berapi di Venus masih aktif hingga saat ini.
Venus tetap menjadi target eksplorasi penting dalam ilmu antariksa. Pada tahun 2021, NASA mengumumkan dua misi baru ke Venus, yaitu DAVINCI+ dan VERITAS, yang direncanakan untuk diluncurkan pada akhir dekade ini. Misi ini bertujuan untuk mempelajari atmosfer Venus secara mendalam dan memetakan permukaannya dengan lebih akurat. Selain itu, Badan Antariksa Eropa (ESA) juga merencanakan misi EnVision untuk menjelajahi evolusi geologi dan atmosfer Venus. Penelitian dari misi-misi ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang mengapa Venus berkembang sangat berbeda dibandingkan Bumi, meskipun memiliki banyak kesamaan di awal.