PM Mongolia Mundur Setelah Anaknya Pamer Foto Liburan Mewah di Medsos
Foto-foto itu beredar luas di media sosial dan dimuat oleh media setempat.
Perdana Menteri Mongolia Luvsannamsrain Oyun-Erdene mengundurkan diri setelah anaknya pamer foto-foto mewah yang tersebar di media sosial. Unggahan tersebut memicu penyelidikan anti-korupsi serta aksi unjuk rasa massal selama beberapa pekan.
Dilansir BBC, Senin (9/6), Oyun-Erdene membantah ia melakukan pelanggaran. Ia kehilangan mosi kepercayaan dalam pemungutan suara parlemen pada Selasa (3/6).
Foto-foto yang viral itu dikabarkan menampilkan anak Oyun-Erdene bersama dengan kekasihnya tengah memamerkan tas bahu hitam merek Dior, serta beberapa kantong belanjaan saat liburan pertunangan mereka.
Aksi unjuk rasa muncul mempertanyakan bagaimana keluarga Oyun-Erdene mampu menjalani gaya hidup semewah itu. Media lokal melaporkan badan anti-korupsi negara tengah saat ini sedang menyelidiki keuangan mereka.
Salah satu foto tas Dior yang diunggah oleh kekasih anaknya, diberi keterangan “Selamat ulang tahun untukku.” Foto lainnya menampilkan pasangan tersebut sedang berciuman di kolam renang.
Kalah dalam Pemungutan Suara
Dalam pemungutan suara mosi kepercayaan pada Selasa, 44 dari 88 anggota parlemen yang ikut serta dalam pemungutan suara rahasia memilih untuk mendukung PM tersebut, sementara 38 lainnya menolak. Ia membutuhkan dukungan dari setidaknya 64 dari total 126 anggota parlemen.
“Merupakan sebuah kehormatan bisa melayani negara dan rakyat saya di masa-masa sulit, termasuk pandemi, perang, dan tekanan tarif,” ujarnya usai pemungutan suara.
Ratusan pengunjuk rasa telah turun ke jalan selama dua pekan sebelum pemungutan suara untuk menuntut pengunduran diri Oyun Erdene, kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan pemuda.
PM Mongolia tersebut membantah tuduhan korupsi dan menuduh mereka yang mengkritiknya sedang melancarkan kampanye fitnah terhadapnya.
Peringkat merosot
Menurut Transparency International, tingkat korupsi di Mongolia memburuk sejak Oyun-Erdene menjabat. Tahun lalu, Mongolia menempati peringkat ke-114 dari 180 negara dalam hal transparansi pemerintahan.
Sebagai negara bebas komunis yang terletak di antara Rusia dan China, Mongolia telah bertransisi menuju demokrasi sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an.
Korupsi merupakan masalah yang terus-menerus terjadi di negara ini. Tahun lalu, jaksa penuntut Amerika Serikat (AS) berupaya menyita dua apartemen milik mantan Perdana Menteri Mongolia Sukhbaatar Batbold di New York. Apartemen itu diduga dibeli menggunakan dana pertambangan hasil korupsi. Namun Batbold, yang menjabat dari 2012 hingga 2015, membantah tuduhan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Mongolia berupaya menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara-negara Barat, termasuk AS dan negara-negara Eropa sebagai bagian dari kebijakan luar negeri “tetangga ketiga”.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey