Ngeri, Begini Cara Ekstrem Perempuan Tiongkok Kuno Cegah Kehamilan
Metode kontrasepsi yang berisiko ini berasal dari catatan sejarah kuno yang ditemukan di China.
Di China, berbagai metode kontrasepsi telah digunakan selama ribuan tahun.
Namun, dalam masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh norma patriarki dan sistem feodal, pengendalian reproduksi sering kali menjadi beban bagi perempuan, bahkan dengan cara yang dapat membahayakan kesehatan mereka.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa usaha untuk mencegah kehamilan sudah ada sejak era pra-kekaisaran.
Salah satu referensi awal dapat ditemukan dalam Shan Hai Jing atau Kitab Pegunungan dan Laut, yang menyebutkan tanaman bernama Gurong sebagai ramuan yang diyakini mampu mencegah kehamilan.
Tanaman ini dikatakan memiliki rasa yang sangat pahit, dengan daun yang mirip anggrek dan akar yang menyerupai bunga balon.
Pada masa pra-Qin, masyarakat percaya bahwa mengonsumsi Gurong dapat mencegah kehamilan karena tanaman tersebut hanya berbunga tanpa berbuah.
Namun, hingga saat ini, klaim tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
Sumber medis kuno lainnya, Qian Jin Yao Fang, juga mencatat metode lain seperti meminum air rebusan akar melati ungu, yang dianggap dapat memicu keguguran, seperti yang dikutip dari SCMP pada Selasa (10/3/2026).
Kondom dari Gelembung Ikan
Selain ramuan herbal, metode fisik juga muncul selama Periode Negara-Negara Berperang. Penemuan arkeologis di makam Marquis Yi of Zeng di Provinsi Hubei menunjukkan adanya benda berbentuk tabung yang terbuat dari gelembung ikan kering.
Benda ini diyakini sebagai salah satu bentuk kondom tertua yang pernah ditemukan. Beberapa perempuan pada masa itu menggunakan gelembung ikan yang telah dibersihkan sebagai alat kontrasepsi yang sederhana.
Meskipun demikian, metode ini dianggap tidak nyaman, berbau amis, dan kurang higienis. Bahkan terdapat ungkapan slang dalam bahasa Tiongkok, tou xing, yang secara harfiah berarti "mencuri bau amis", untuk menggambarkan tindakan perselingkuhan.
Pada masa Dinasti Han, salah satu selir favorit Kaisar Cheng dari Han, yaitu Zhao Feiyan, dikatakan menggunakan pil yang terbuat dari campuran musk dan tanduk rusa.
Pil ini dioleskan pada pusar dan diyakini dapat membuat tubuh lebih ringan serta kulit lebih halus. Namun, catatan sejarah juga mencatat bahwa ramuan ini dapat menyebabkan kemandulan.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, musk dipercaya dapat memperlancar peredaran darah, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat merusak lapisan rahim.
Tekanan terhadap perempuan semakin meningkat pada masa Dinasti Wei Utara, di mana sebuah dekrit menyatakan bahwa ibu dari pangeran yang dinyatakan sebagai pewaris takhta harus dihukum mati untuk mencegah campur tangan politik dari keluarga sang ibu.
Akibatnya, banyak selir memilih untuk diam-diam menggunakan berbagai cara untuk menghindari kehamilan.
Praktik Ekstrem dan Racun
Pada era Dinasti Tang, kemakmuran ekonomi dan perdagangan yang berkembang melalui Jalur Sutra membawa masuk bahan-bahan kontrasepsi baru seperti musk dan saffron dari wilayah Barat.
Namun, bahan-bahan ini memiliki harga yang tinggi dan hanya dapat dijangkau oleh pelacur kelas atas. Sebagian besar perempuan biasa terpaksa menggunakan metode berbahaya, seperti mengonsumsi kecebong atau menelan merkuri.
Kepercayaan yang beredar di masyarakat pada waktu itu menyatakan bahwa kecebong dapat menghentikan menstruasi, sedangkan merkuri diyakini dapat mengganggu produksi hormon. Tercatat dalam Xin Tang Shu, ada ramuan yang terbuat dari musk, lintah, dan lalat kuda yang diminum oleh beberapa selir.
Ramuan ini sering kali menyebabkan sakit perut yang parah dan dapat berujung pada kemandulan permanen. Pada masa Dinasti Song dan Dinasti Yuan, pekerja rumah bordil bahkan dipaksa untuk meminum teh herbal yang mengandung musk tinggi, kadang dicampur dengan merkuri atau arsenik, untuk menghancurkan kesuburan mereka secara permanen.
Penelitian menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan pekerja rumah bordil di masa itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan populasi umum, dengan banyak yang meninggal sebelum mencapai usia 30 tahun akibat penyakit ginekologis.
Kisah Tragis dan Metode Bagi Pria
Metode kontrasepsi yang ekstrem juga tercatat pada masa Dinasti Ming. Ibu dari penulis terkenal Gui Youguang dikabarkan dibujuk untuk memakan dua siput sungai hidup setelah melahirkan, karena diyakini dapat mencegah kehamilan.
Namun, praktik tersebut justru membuatnya bisu dan ia meninggal pada usia 26 tahun. Di masa Dinasti Qing, metode kontrasepsi mulai melibatkan laki-laki. Di wilayah timur China, minyak biji kapas diketahui dapat menyebabkan kemandulan jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.
Penelitian modern menunjukkan bahwa minyak tersebut mengandung senyawa yang dapat menghambat produksi sperma, meskipun efek tersebut bisa pulih setelah konsumsi dihentikan.
Perubahan di Era Modern Begitu Signifikan
Sejumlah catatan bahkan menyebutkan praktik ekstrem di lingkungan istana, seperti menggantung perempuan terbalik dan membasuh bagian bawah tubuhnya dengan cairan tertentu untuk mencegah kehamilan jika seorang kaisar tidak ingin memiliki keturunan dari perempuan tersebut.
Saat ini, dengan kemajuan ilmu kedokteran dan meningkatnya kesetaraan gender, pilihan kontrasepsi yang lebih aman telah tersedia. Di Tiongkok modern, pengendalian kelahiran semakin dianggap sebagai tanggung jawab bersama antara pasangan.
Produk kontrasepsi yang lebih memperhatikan kenyamanan wanita mulai bermunculan, dan semakin banyak pria yang memilih untuk menjalani vasektomi sebagai bagian dari perencanaan keluarga mereka.