Negara Ini Ganti Presiden 8 Kali dalam 10 tahun
Negara itu baru saja memilih seorang anggota parlemen sebagai presiden kedelapan.
Kongres Peru pada malam Rabu (18/2/2026) waktu setempat telah memilih legislator Jose Maria Balcazar (83) sebagai presiden kedelapan negara tersebut dalam satu dekade terakhir. Ia mengambil alih posisi ini setelah pemimpin sementara yang menjabat sebelumnya dilengserkan akibat tuduhan korupsi, hanya empat bulan setelah dilantik.
Menurut laporan Associated Press, Balcazar merupakan mantan hakim yang berasal dari partai kiri Peru Libre. Dalam pemungutan suara di parlemen yang terdiri dari 130 legislator, ia berhasil mengalahkan tiga kandidat lainnya dengan meraih suara mayoritas. Pergantian presiden yang terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan adanya krisis politik yang melanda Peru. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dukungan mayoritas yang kuat di parlemen bagi para pemimpin negara, sehingga posisi presiden menjadi sangat rentan.
Dalam situasi seperti ini, anggota parlemen sering kali menafsirkan secara luas pasal konstitusi mengenai ketidakmampuan moral permanen sebagai alasan untuk memberhentikan presiden yang sedang menjabat. Setelah terpilih, Balcazar, yang memiliki pengalaman hampir 30 tahun sebagai hakim dan telah pensiun dari dunia peradilan, langsung diambil sumpahnya oleh Presiden Kongres, Fernando Rospigliosi. Balcazar akan memimpin negara ini selama lima bulan sebelum menyerahkan kekuasaan kepada pemenang pemilu yang akan datang.
Rakyat Peru dijadwalkan untuk memilih presiden dan anggota legislatif baru pada tanggal 12 April. Apabila tidak ada kandidat presiden yang berhasil memperoleh lebih dari 50 persen suara, maka dua kandidat teratas akan melanjutkan ke putaran kedua yang akan diadakan pada bulan Juni.
Ujian Bagi Presiden baru
Presiden yang terpilih selanjutnya akan menghadapi peningkatan kasus pembunuhan dan pemerasan yang terus meneror pemilik usaha kecil dan pekerja. Berbagai kelompok politik juga mendesak adanya jaminan yang kuat agar pemilihan umum dapat berlangsung dengan transparan.
Dalam pernyataannya kepada para jurnalis, Balcazar menegaskan akan memastikan bahwa pemilu mendatang berjalan tanpa cacat. Ia juga menyatakan bahwa kebijakan makroekonomi dan moneter yang sehat akan tetap dijaga agar para pelaku ekonomi dapat beroperasi tanpa rasa khawatir. Selain itu, ia berkomitmen untuk mengalihkan fokus pada upaya pemberantasan kejahatan terorganisir.
Pada hari Selasa (17/2), Kongres mengambil suara untuk memberhentikan presiden sementara konservatif, Jose Jeri, setelah menjabat selama empat bulan. Sejak awal masa jabatannya pada 2021, Kongres telah memakzulkan tiga presiden, termasuk Pedro Castillo, Dina Boluarte, dan Jeri.
Pada bulan Oktober 2025, Jeri menjabat sebagai Presiden Kongres dan berada di urutan berikutnya dalam garis suksesi untuk menggantikan Boluarte, yang saat itu tidak memiliki wakil presiden. Pemberhentian Jeri terjadi setelah terungkapnya pertemuan-pertemuan yang tidak diungkapkan sebelumnya antara dirinya dan sejumlah pengusaha asal China, termasuk kontraktor milik negara. Jeri membantah adanya pelanggaran dan menyatakan bahwa pertemuan tersebut hanya bertujuan untuk mengoordinasikan sebuah festival Peru-China.
Kemudian, Kantor Kejaksaan Umum mulai melakukan dua penyelidikan awal terhadap Jeri berkaitan dengan dugaan dukungan ilegal terhadap kepentingan pribadi serta praktik perantara pengaruh yang dianggap merugikan negara. Dengan situasi yang semakin kompleks ini, tantangan bagi presiden yang baru terpilih semakin berat, terutama dalam mengatasi masalah kejahatan dan menjaga integritas pemilu.