Mana Lebih Dulu Ada, Vampir atau Dracula? Begini Kata Sejarawan
Rasa takut terhadap orang mati yang tidak tenang muncul bahkan sebelum manusia mengenal tulisan
Jauh sebelum sosok Dracula menguasai kisah-kisah horor modern, peradaban Mesopotamia kuno telah mencatat ketakutan terhadap “mayat hidup” yang diyakini bisa bangkit dan mengganggu manusia.
Dikutip dari ScienceAlert, Rabu, (26/11/25) peneliti sejarah, John Blair, dalam bukunya Killing the Dead Vampire Epidemics from Mesopotamia to The New World, mengungkap bahwa tradisi vampir ternyata memiliki akar ribuan tahun lebih tua dari yang selama ini diperkirakan.
Blair menjelaskan bahwa rasa takut terhadap orang mati yang tidak tenang muncul bahkan sebelum manusia mengenal tulisan. Temuan arkeologi dari era prasejarah menunjukkan praktik penguburan yang sengaja dirancang untuk mencegah mayat bangkit mulai dari memenggal tubuh hingga mengikat jasad di bawah batu besar.
Akar “Mayat Hidup” dari Dunia Kuno
Namun bukti tertulis pertama baru muncul pada periode Neo-Asyur sekitar abad ke-7 SM di wilayah Mesopotamia merupakan wilayah yang kini dikenal sebagai Irak, Suriah, Turki, dan Iran. Beberapa teks keagamaan pada masa itu memberi panduan kepada pendeta tentang cara mengatasi mayat yang dianggap bangkit dan menjadi ancaman spiritual.
Kepercayaan Mesopotamia kuno menilai bahwa kematian yang tidak wajar terutama yang terjadi mendadak meninggalkan “kekuatan hidup” yang belum tuntas. Energi ini diyakini membuat arwah sulit tenang dan berpotensi kembali mengganggu manusia. Konsep ini kemudian menjadi salah satu fondasi psikologis kemunculan mitologi vampir di berbagai budaya.
“Orang-orang yang meninggal sebelum waktunya dianggap masih menyimpan kekuatan hidup yang terperangkap dalam tubuh,” ujar Blair.
Perempuan Muda Paling Ditakuti
Salah satu temuan menarik adalah keyakinan bahwa perempuan muda yang usianya 15 hingga 25 tahun merupakan kelompok yang paling berisiko menjadi “orang mati berbahaya”. Faktor sosial dan biologis menjadi pemicu, seperti tingginya kematian saat melahirkan atau kematian sebelum menikah, yang dianggap meninggalkan “urusan belum selesai”.
Hal ini terlihat dalam sosok-sosok mitologis seperti Lilitu dan Lamashtu, dua figur perempuan berbahaya dalam kepercayaan Mesopotamia. Lilitu digambarkan memangsa bayi, sementara Lamashtu ditakuti karena mengancam ibu hamil.
Meski bukan vampir dalam pengertian modern, kedua figur ini mencerminkan ketakutan terhadap kehidupan yang terputus di tengah jalan.
Penyebaran Mitos ke Dunia Barat
Pengaruh budaya Mesopotamia meluas ke banyak peradaban, termasuk Yunani dan Romawi. Kisah lamiae dalam mitologi Yunani merupakan monster perempuan yang membunuh anak-anak untuk memiliki kemiripan kuat dengan mitos Mesopotamia. Manuskrip magis Helenistik bahkan berisi mantra untuk mencegah orang mati kembali ke dunia.
Pada akhirnya, gagasan tentang revenant dan vampir yang dikenal dalam cerita rakyat Eropa abad pertengahan merupakan evolusi panjang dari ketakutan paling purba dalam masyarakat manusia.
Lintas generasi
Menurut Blair, konsistensi cerita tentang mayat hidup di berbagai budaya menunjukkan bahwa ketakutan tersebut berakar pada pengalaman manusia terhadap kematian mendadak dan retaknya struktur sosial yang ditinggalkan.
“Jauh sebelum fiksi gothic hadir, para pendeta Mesopotamia telah mencatat apa yang harus dilakukan dengan mayat-mayat yang tidak terkendali,” kata Blair.
Kini, temuan ini membuka perspektif baru bahwa vampir bukan hanya tokoh horor dalam budaya populer, melainkan bagian dari ketakutan kuno yang diwariskan lintas generasi.
Reporter Magang: Ahmad Subayu