Iran Tolak Tuduhan Jadi Pelaku Penyerangan Pusat Minyak Arab Saudi
Iran menyampaikan bantahan tegas terhadap tuduhan yang dilontarkan, menegaskan bahwa semua klaim tersebut tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta.
Duta Besar Iran untuk Arab Saudi, Alireza Enayati, dengan tegas membantah bahwa negaranya terlibat dalam serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi.
Ia menekankan bahwa jika Iran benar-benar melakukan serangan tersebut, mereka tidak akan bersembunyi dan justru akan mengumumkannya secara terbuka.
Pernyataan ini disampaikan oleh Enayati pada Minggu (15/3/2026) dan dikutip oleh kantor berita Reuters.
Dalam pernyataannya, Enayati tidak merinci pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, tetapi ia menegaskan bahwa Iran hanya menargetkan aset dan kepentingan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel selama konflik yang sedang berlangsung.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan terhadap berbagai aset militer milik AS dan Israel yang berada di kawasan Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Yordania, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Baru-baru ini, kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi terpaksa menghentikan operasinya setelah puing-puing dari sebuah drone memicu kebakaran kecil.
Selain itu, juga dilaporkan adanya upaya serangan di ladang minyak Shaybah, yang terletak di kawasan gurun dekat perbatasan dengan Uni Emirat Arab. Hingga kini, Kementerian Pertahanan Arab Saudi belum secara resmi menyalahkan pihak mana pun atas serangan-serangan tersebut.
Enayati juga menyebutkan bahwa ia telah menjalin komunikasi langsung dengan pejabat Arab Saudi dan menjelaskan bahwa hubungan kedua negara saat ini berkembang secara alami di berbagai bidang.
Ia mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan pihak Arab Saudi mencakup posisi resmi Riyadh yang menyatakan bahwa wilayah darat, laut, dan udara Arab Saudi tidak akan digunakan untuk menyerang Iran, meskipun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai hal tersebut.
Iran dan Arab Saudi sendiri telah kembali menjalin hubungan diplomatik pada tahun 2023 melalui kesepakatan yang dimediasi oleh China, yang menandai upaya kedua negara untuk membuka babak baru dalam hubungan bilateral mereka setelah sebelumnya mendukung kelompok-kelompok rival dalam berbagai konflik regional.
Kritik Ketergantungan ke Negara Teluk
Dalam kesempatan yang sama, Enayati menegaskan kepada negara-negara Teluk bahwa perang yang sedang berlangsung "dipaksakan kepada Iran dan kawasan" setelah serangan terkoordinasi yang dilakukan oleh AS dan Israel.
Ketika ditanya mengenai serangan yang terjadi di negara-negara Teluk, Enayati mengatakan bahwa negara-negara di kawasan tersebut adalah tetangga yang saling membutuhkan.
"Kami adalah tetangga dan kami tidak dapat hidup tanpa satu sama lain; kondisi ini perlu dikaji ulang secara serius," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa situasi yang terjadi di kawasan selama lima dekade terakhir merupakan akibat dari pendekatan yang bersifat eksklusif dan ketergantungan yang berlebihan pada kekuatan eksternal.
Enayati menyerukan agar hubungan antarnegara di kawasan diperkuat, khususnya antara enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) bersama Irak dan Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah bahwa negaranya menargetkan kawasan sipil atau permukiman penduduk di Timur Tengah.
Ia menyatakan bahwa Teheran siap membentuk komite bersama negara-negara tetangga untuk menyelidiki siapa yang bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut.
Sejauh ini, Uni Emirat Arab, yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020, disebut menjadi negara yang paling terdampak oleh serangan balasan Iran.
Berbagai pangkalan militer AS dan kilang minyak di negara itu dilaporkan menjadi sasaran serangan berat.
Meskipun semua negara yang menjadi sasaran serangan telah mengecam keras serangan rudal dan drone Iran, sumber-sumber regional mengatakan bahwa kekecewaan terhadap AS semakin meningkat.
Sebagaimana dilaporkan Reuters, mereka menilai negara-negara Teluk terseret ke dalam konflik yang tidak mereka inginkan, namun justru harus menanggung dampak terbesar dari perang tersebut.
Enayati menegaskan bahwa untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung, AS dan Israel harus menghentikan serangan mereka terhadap Iran.
Ia menyatakan pula bahwa diperlukan jaminan keamanan internasional guna mencegah terjadinya "agresi" di masa mendatang.
Sementara itu, Paul Musgrave, profesor madya di Georgetown University di Qatar, menilai bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah kehilangan sebagian besar pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.
Menurut Musgrave, AS terlibat dalam konflik yang keliru pada waktu yang tidak tepat, tanpa perencanaan yang memadai. Ia menambahkan bahwa strategi Iran saat ini tampaknya tidak lagi berfokus pada siapa yang memiliki bom atau persenjataan terbesar, melainkan siapa yang memiliki ketahanan paling tinggi dalam menghadapi tekanan dan penderitaan.