334 Orang Tewas Akibat Banjir dan Tanah Longsor, Sri Lanka Tetapkan Status Darurat dan Minta Dukungan Global
Saat ini, Sri Lanka tengah berada dalam musim monsun, tetapi pulau ini jarang mengalami cuaca ekstrem seperti yang terjadi saat ini.
Jumlah korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor yang melanda Sri Lanka telah mencapai 334 orang, menjadikannya salah satu bencana cuaca paling parah di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
"Lebih dari 200 orang hilang dan sekitar 20.000 rumah hancur, membuat 108.000 orang mengungsi ke tempat penampungan sementara yang dijalankan negara," demikian laporan dari Pusat Manajemen Bencana Sri Lanka yang dikutip oleh BBC.
Pejabat setempat mengungkapkan bahwa sepertiga wilayah negara ini mengalami pemadaman listrik dan kekurangan air bersih saat keadaan darurat diumumkan, setelah Badai Ditwah melanda.
Presiden Anura Kumara Dissanayake menyatakan bahwa ini merupakan bencana alam yang paling sulit dihadapi dalam sejarah Sri Lanka, dengan kerusakan yang terjadi sangat besar sehingga perkiraan biaya untuk rekonstruksi pun sangat tinggi.
Di beberapa daerah, perintah evakuasi diberlakukan karena ketinggian air Sungai Kelani meningkat dengan cepat. Kematian terbanyak dilaporkan di Kandy dan Badulla, di mana banyak wilayah masih terisolasi akibat bencana ini.
Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah telah meminta bantuan internasional dan mendorong warga Sri Lanka yang berada di luar negeri untuk memberikan sumbangan demi mendukung masyarakat yang terdampak.
Badai Ditwah menghantam pesisir timur negara kepulauan ini pada hari Jumat (28/11), namun kini telah bergerak menjauh. Banjir terburuk dalam sejarah Sri Lanka terjadi pada Juni 2003, ketika 254 orang kehilangan nyawa dan ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Kali ini, Sri Lanka tidak sendiri, karena Asia Tenggara juga mengalami beberapa bencana banjir terparah yang mempengaruhi jutaan orang di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.