UEFA Kecam Italia, Hanya 3 Stadion Serie A Layak Penuhi Standar Elite Eropa
Hanya ada tiga stadion di Serie A yang memenuhi standar tertinggi di Eropa, di antaranya stadion milik Juventus dan Udinese.
Kondisi infrastruktur sepak bola di Italia kembali menjadi perhatian serius setelah kritik tajam dari Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, pada hari Selasa lalu. Dalam wawancara dengan SportMediaset, Ceferin mengungkapkan bahwa keadaan stadion di Italia saat ini "sangat buruk" dan menyebut situasi tersebut sebagai sebuah aib. Ia juga menegaskan bahwa Italia memiliki infrastruktur terburuk dibandingkan dengan negara-negara besar lainnya dalam dunia sepak bola.
Masalah ini bukanlah isu baru bagi Italia. Negara ini telah lama menghadapi tantangan dalam upaya membangun stadion baru maupun merenovasi stadion-stadion tua seperti Stadio Giuseppe Meazza (San Siro), Stadio Olimpico di Roma, dan Stadio Diego Armando Maradona di Napoli. Proyek-proyek tersebut sering kali terhambat oleh berbagai masalah, termasuk birokrasi yang rumit, proses perizinan yang berlarut-larut, serta masalah pendanaan yang belum terselesaikan.
Stadion Serie A yang Sesuai dengan Standar Eropa
Meskipun beberapa stadion di Serie A telah memenuhi syarat untuk mendapatkan status Kategori 4 UEFA, yang merupakan kategori tertinggi untuk menggelar pertandingan fase gugur Liga Champions atau turnamen besar seperti Euro, laporan dari media Italia, Tuttomercatoweb (TMW), menyatakan bahwa hanya ada tiga stadion di liga utama Italia yang benar-benar setara dengan fasilitas yang dimiliki oleh negara-negara Eropa terkemuka. Ketiga stadion tersebut adalah:
- Allianz Stadium yang dimiliki oleh Juventus di Turin
- Bluenergy Stadium milik Udinese di Udine
- Gewiss Stadium milik Atalanta di Bergamo, yang baru saja selesai direnovasi
Menarik untuk dicatat bahwa satu stadion dari Serie B, yakni Stadio Benito Stirpe milik Frosinone, juga telah memenuhi standar tertinggi Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa modernisasi stadion dapat dilakukan oleh klub-klub di luar Serie A, asalkan terdapat kemauan politik dan investasi yang tepat untuk mewujudkannya.
Proyek renovasi
Fiorentina menjadi salah satu klub Serie A yang berkomitmen untuk mengejar ketertinggalan yang ada. Saat ini, mereka sedang melaksanakan proyek renovasi besar untuk Stadio Artemio Franchi, yang tahap pertama direncanakan akan selesai pada tahun 2026. Proyek ini diperkirakan akan sepenuhnya rampung pada tahun 2029. Di sisi lain, AC Milan dan Inter Milan masih menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan San Siro. Selama bertahun-tahun, wacana untuk membangun stadion baru atau merenovasi yang lama telah muncul, namun hingga kini belum ada solusi yang jelas.
Situasi serupa juga dialami oleh klub-klub di ibu kota Italia. AS Roma dan Lazio berkeinginan untuk meninggalkan Stadio Olimpico dan mendirikan stadion baru yang terpisah dari kompleks olahraga Foro Italico. Sayangnya, seperti halnya San Siro, rencana tersebut belum terwujud. Selain itu, klub-klub lain seperti Como dan Empoli juga mengungkapkan niat untuk memperbarui stadion mereka, yaitu Stadio Sinigaglia dan Stadio Castellani. Sementara itu, Bologna dan Parma berharap dapat merenovasi stadion mereka agar lebih modern dan layak digunakan. Kritik dari Ceferin menjadi sebuah peringatan serius bagi sepak bola Italia. Jika infrastruktur ini tidak segera diperbaiki, ketertinggalan tersebut dapat semakin menjauhkan Serie A dari tingkat kompetitif Eropa yang semakin menuntut fasilitas kelas dunia.
Sumber: Football Italia