Wamentan Pastikan Harga Sapi Hidup Terkendali Jelang Natal dan Tahun Baru 2025/2026
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan stok dan harga sapi hidup di tingkat produsen tetap stabil dan terkendali menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025/2026, bahkan di bawah harga acuan pemerintah, menjamin ketersediaan pangan bagi.
Stabilitas Harga Sapi Hidup Terjamin Jelang Nataru
Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025/2026, masyarakat dapat bernapas lega terkait ketersediaan dan harga daging sapi. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono secara tegas memastikan bahwa stok dan harga sapi hidup di tingkat produsen tetap terkendali. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-3 Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) yang diselenggarakan di Bogor.
Menurut Sudaryono, harga sapi di kandang peternak saat ini terpantau berada di bawah batas acuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kondisi ini memberikan jaminan stabilitas pasokan dan harga di pasar, sehingga konsumen tidak perlu khawatir akan lonjakan harga yang signifikan.
Wamentan juga menjelaskan bahwa stok sapi saat ini cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar selama periode libur akhir tahun. Dengan demikian, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen, memastikan ketersediaan pangan yang merata dan terjangkau.
Harga Acuan dan Kondisi di Lapangan
Wamentan Sudaryono merinci bahwa harga sapi hidup di tingkat produsen saat ini berkisar antara Rp52 ribu hingga Rp53 ribu per kilogram bobot badan. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan harga acuan pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, HAP sapi hidup di tingkat produsen ditetapkan antara Rp56.000 sampai dengan Rp58.000 per kilogram bobot badan. Kondisi harga yang lebih rendah dari acuan menunjukkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.
Stabilitas harga ini tidak hanya menguntungkan konsumen, tetapi juga memberikan kepastian usaha bagi para peternak. Dengan harga yang terkendali, peternak dapat merencanakan produksi mereka dengan lebih baik, tanpa khawatir fluktuasi harga yang ekstrem.
Peran Program Makan Bergizi Gratis dalam Menjamin Pasar
Stabilitas harga sapi hidup juga didukung oleh implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah. Program ini berfungsi sebagai jaminan pasar yang kuat bagi produk peternakan, termasuk daging sapi dan susu.
Sudaryono menekankan bahwa MBG memberikan kepastian penyerapan hasil produksi peternak. Ia mencontohkan, “Dulu orang pelihara sapi perah, ada yang masih belum diserap susunya. Sekarang MBG semua rebutan, tidak ada peternak sapi perah yang susunya tidak akan diserap.” Hal ini menciptakan ekosistem usaha yang lebih menjanjikan bagi para peternak di seluruh Indonesia.
Jaminan pasar melalui MBG ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi dan kualitas produk peternakan. Dengan adanya kepastian off-taker, peternak akan lebih termotivasi untuk mengembangkan usahanya, berkontribusi pada swasembada pangan nasional.
APPSI Sebagai Mitra Strategis Pemerintah
Dalam kesempatan yang sama, Wamentan Sudaryono mengajak Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) untuk berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah. Kerja sama ini penting dalam upaya mewujudkan swasembada pangan, khususnya untuk komoditas daging sapi.
Sudaryono meminta APPSI menjadi “mata, telinga, dan corong” pemerintah, melaporkan kondisi di lapangan secara cepat dan akurat. Laporan mengenai gangguan produksi, penyakit hewan, atau masalah tata niaga sangat dibutuhkan agar pemerintah dapat merespons dengan sigap dan terukur.
Ketua Umum APPSI, Ahmad Muzani, yang juga Ketua MPR RI, mengapresiasi kedekatan asosiasi dengan Kementerian Pertanian. Ia menyatakan bahwa kerja sama ini telah memberikan banyak manfaat nyata bagi peternak, termasuk bantuan pemerintah dan peningkatan derajat peternak melalui berbagai program.
Potensi Pengembangan Sapi Perah dan Unggas
Ahmad Muzani juga menyoroti besarnya potensi pengembangan sapi perah dan unggas dalam kerangka program MBG. Program ini tidak hanya memberikan kepastian penyerapan hasil produksi, tetapi juga membuka peluang usaha yang lebih menjanjikan bagi peternak domestik.
Dengan adanya jaminan pasar dari MBG, peternak sapi perah dan unggas memiliki insentif kuat untuk meningkatkan skala dan efisiensi produksi mereka. Ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat sektor peternakan nasional.
Pengembangan sektor ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan kemandirian pangan Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan peternak menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan tersebut.
Sumber: AntaraNews