UMY Gagas Desa Wisata Zero Waste di Bantul: Sampah Jadi Berkah, Bukan Beban Lingkungan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggagas Desa Wisata Zero Waste di Bantul, mengubah sampah menjadi berkah ekonomi dan lingkungan melalui edukasi dan komunitas.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara proaktif menggagas sebuah inisiatif penting di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada Minggu (21/9), UMY memperkenalkan konsep Desa Wisata Zero Waste di Dewi Kajii sebagai model percontohan. Inisiatif ini berfokus pada pengelolaan sampah berkelanjutan yang diharapkan dapat direplikasi di desa wisata lainnya.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UMY, Ratih Herningtyas, menjelaskan bahwa inovasi ini bertujuan agar desa wisata tetap menjadi sumber ekonomi yang kuat. Namun, hal tersebut harus dicapai tanpa menimbulkan beban lingkungan tambahan bagi masyarakat sekitar. Kunci keberhasilan program ini terletak pada pengelolaan sampah berbasis edukasi dan komunitas yang kuat.
Melalui program BIMA (Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat), pendekatan "zero waste" ini tidak hanya menjadi kampanye sesaat, melainkan ditargetkan menjadi budaya baru yang berkelanjutan. Dukungan penuh dari akademisi, komunitas lokal, dan tokoh agama diharapkan mampu menjadikan Desa Wisata Dewi Kajii sebagai contoh nyata. Ini menunjukkan bahwa sampah dapat diubah menjadi berkah, bukan lagi ancaman.
Inovasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan UMY
UMY, melalui tim pengabdian masyarakatnya, berkomitmen untuk menciptakan ekosistem desa wisata yang ramah lingkungan dan ekonomis. Gagasan Desa Wisata Zero Waste di Dewi Kajii, Bantul, ini merupakan manifestasi dari komitmen tersebut. Tujuannya adalah membangun model pengelolaan sampah terpadu yang dapat diadaptasi oleh desa-desa wisata lainnya di Indonesia.
Ratih Herningtyas menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan adalah prioritas utama dalam pengembangan desa wisata. Pendekatan "zero waste" ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola sampahnya sendiri. Dengan demikian, potensi ekonomi dari desa wisata dapat dimaksimalkan tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Program BIMA menjadi tulang punggung dalam implementasi gagasan Desa Wisata Zero Waste ini. Melalui program ini, UMY tidak hanya memberikan pendampingan teknis tetapi juga mendorong partisipasi aktif masyarakat. Harapannya, kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan akan tumbuh dan menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.
Edukasi dan Perubahan Pola Pikir Masyarakat
Sebagai bagian integral dari program Desa Wisata Zero Waste, UMY bersama masyarakat setempat menyelenggarakan seminar bertema 'Mengubah Sampah Menjadi Berkah: Edukasi, Ekonomi, dan Lingkungan'. Seminar ini menjadi wadah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat. Tujuannya adalah mengubah persepsi negatif terhadap sampah menjadi peluang yang berharga.
Seminar tersebut menghadirkan Ananto Isworo, yang dikenal sebagai Ustadz Sampah dan penerima penghargaan Kalpataru dari Pemerintah DIY, sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, Ananto menekankan bahwa perubahan pola pikir harus dimulai dari unit terkecil, yaitu rumah tangga. "Delapan puluh persen persoalan sampah selesai jika ada kesadaran bersama. Keluarga adalah titik awal," ujar Ananto Isworo.
Ananto juga menjelaskan perbedaan fundamental antara bank sampah dan sedekah sampah. Menurutnya, sedekah sampah tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi pengumpulnya. Namun, juga memiliki dampak sosial yang lebih luas karena hasilnya dialokasikan untuk berbagai kegiatan kemanusiaan. Konsep ini mendorong masyarakat untuk melihat sampah sebagai potensi amal dan kebaikan.
Salah satu peserta seminar, Rini Sutriasih, mengungkapkan bahwa ia mendapatkan perspektif baru setelah mengikuti acara tersebut. "Saya sadar sekarang bahwa sampah bisa jadi sarana ibadah sekaligus pemberdayaan ekonomi," kata Rini. Ia bertekad untuk mulai membiasakan anak-anaknya memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di rumah.
Sumber: AntaraNews