Sri Mulyani Hadiri Pertemuan IMF-World Bank dan G20, Soroti Risiko Perang Dagang Global
Indonesia memiliki keprihatinan yang sama dengan negara lain terhadap potensi meningkatnya proteksionisme global.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menghadiri rangkaian Pertemuan Musim Semi (Spring Meeting) Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) yang berlangsung pada 21–25 April 2025 di Washington, D.C., Amerika Serikat. Dalam kunjungan tersebut, Menkeu juga mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (FMCBG).
Dalam konferensi pers APBN KiTa yang digelar di Jakarta pada Rabu (30/4), Sri Mulyani menjelaskan bahwa dirinya bertemu dengan berbagai investor serta menghadiri sejumlah pertemuan bilateral dan multilateral di New York dan Washington D.C.
"Pertemuan ini membahas isu-isu global seperti kenaikan tarif impor Amerika Serikat yang dapat berdampak signifikan pada perdagangan global dan stabilitas ekonomi dunia," kata Menkeu.
Sri Mulyani menyampaikan bahwa Indonesia memiliki keprihatinan yang sama dengan negara lain terhadap potensi meningkatnya proteksionisme global. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi regional, khususnya di kawasan ASEAN, untuk memperkuat integrasi perdagangan, pengembangan rantai pasok, dan penguatan jaring pengaman keuangan regional.
Dalam pertemuan FMCBG, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral membahas tantangan globalisasi yang dinilai semakin tidak sehat dan tidak berkelanjutan. Beberapa negara disebut berusaha mengurangi defisit perdagangan dengan mempertahankan tarif tinggi, sementara negara lain memperkuat konsumsi domestik dan menolak proteksionisme.
"Kerja sama internasional untuk mereformasi World Trade Organization (WTO), memperkuat sistem perdagangan multilateral, dan menghindari eskalasi perang tarif menjadi semakin penting," tegas Menkeu.
Pada sesi Early Warning Exercise (EWE) IMF, Sri Mulyani juga memaparkan prospek perdagangan global tahun 2025 yang dinilai penuh tantangan, seperti fragmentasi ekonomi dan proteksionisme yang dapat memicu ketidakpastian serta volatilitas pasar keuangan.
Ia menyerukan perlunya kerja sama multilateral yang inklusif untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Globalisasi harus dirancang agar tidak menciptakan pengangguran, ketimpangan, atau beban utang yang tidak berkelanjutan bagi negara berkembang,” ujarnya.
Selain itu, Menkeu turut hadir dalam pertemuan sarapan tahunan IMF Committee (IMFC Breakfast). Dalam forum tersebut, ia menyoroti bahwa manfaat globalisasi belum dirasakan secara merata, yang menyebabkan ketimpangan dan keresahan sosial di berbagai negara.
“Ini menjadi tantangan politik global, bagaimana menyeimbangkan antara tuntutan globalisasi dan perlindungan terhadap pekerjaan lokal serta identitas budaya,” tambahnya.
Di sela-sela rangkaian pertemuan, Sri Mulyani juga melakukan sejumlah pertemuan bilateral, termasuk dengan Presiden Bank Dunia Ajay Banga, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Presiden European Investment Bank Nadia Calvino, serta Ratu Maxima dari Belanda. Ia juga bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi seperti Menteri Keuangan Jerman Jorg Kukies dan Sekretaris Keuangan AS Scott Bessent.