Kemenkeu Pertahankan Optimisme Ekonomi di Tengah Gejolak Global, Target Pertumbuhan 5,4 Persen

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan Optimisme Ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat, bahkan di tengah potensi gangguan rantai pasok global, dengan strategi percepatan belanja dan stimulus.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenkeu Pertahankan Optimisme Ekonomi di Tengah Gejolak Global, Target Pertumbuhan 5,4 Persen
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan Optimisme Ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat, bahkan di tengah potensi gangguan rantai pasok global, dengan strategi percepatan belanja dan stimulus. (AntaraNews)

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun ada potensi gangguan rantai pasok komoditas global. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu, dalam Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Maret 2026 di Jakarta. Kemenkeu bertekad menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.

Febrio Kacaribu menegaskan bahwa pemerintah akan mengimplementasikan strategi belanja yang merata di setiap kuartal. Tujuannya adalah untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional dan mencapai target yang telah ditetapkan. Langkah ini diambil sebagai respons proaktif terhadap kondisi ekonomi global yang dinamis, termasuk isu penutupan Selat Hormuz.

Strategi percepatan realisasi anggaran belanja negara menjadi kunci utama Kemenkeu untuk mencapai target peningkatan ekonomi 5,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga akhir 2026. Dengan realisasi belanja yang lebih cepat, diharapkan momentum pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga. Ini juga akan memperkuat fondasi ekonomi Indonesia di masa mendatang.

Kemenkeu berupaya merealisasikan anggaran belanja pemerintah dengan lebih cepat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil. Realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari target per 28 Februari lalu. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 41,9 persen secara tahunan (yoy), menandakan komitmen kuat pemerintah.

Penerimaan negara juga menunjukkan performa positif, mendukung percepatan belanja ini. Febrio Kacaribu menyebutkan bahwa pertumbuhan pajak mencapai di atas 30 persen, memberikan ruang fiskal yang cukup. Hingga akhir Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh 30,4 persen yoy menjadi Rp245,1 triliun, atau 10,4 persen dari target.

Melalui percepatan belanja ini, Kemenkeu berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 akan cukup kuat. Ini melanjutkan momentum positif dari kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39 persen yoy. Target Kemenkeu adalah mencapai pertumbuhan 5,5 persen atau lebih pada kuartal I 2026, menjaga Optimisme Ekonomi tetap tinggi.

Selain mengakselerasi belanja, pemerintah juga memberikan berbagai stimulus ekonomi untuk menggerakkan roda ekonomi dari berbagai sektor. Stimulus ini terutama difokuskan pada periode libur Idul Fitri untuk mendorong konsumsi masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan efek berganda dalam perekonomian.

Febrio Kacaribu menjelaskan beberapa stimulus yang telah diumumkan. Ini termasuk diskon tiket kereta api sebesar 30 persen dan diskon tarif dasar tiket angkutan laut sebesar 30 persen. Selain itu, ada penghapusan 100 persen tarif jasa pelabuhan untuk angkutan penyeberangan, serta diskon tiket pesawat.

Pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan berupa beras bagi 35 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari desil I hingga IV. Pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) juga telah mencapai Rp24,7 triliun hingga 10 Maret 2026. Penyaluran THR ini sangat diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi