RI Jadi Fokus Investasi Transisi Energi Global
Indonesia dapat perhatian global dalam agenda transisi energi. Komitmen pendanaan JETP naik jadi USD 21,4 miliar untuk mendukung berbagai proyek energi bersih.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Indonesia kembali menjadi pusat perhatian global dalam agenda transisi energi.
Hal itu terlihat dari tingginya partisipasi negara mitra dalam rapat koordinasi Just Energy Transition Partnership (JETP) yang digelar di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (5/12/2025).
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan berbagai lembaga internasional, mulai dari duta besar negara anggota International Partner Group (IPG), perwakilan Uni Eropa, Glasgow Financial Alliance, hingga ADB dan Bank Dunia. Selain itu, delegasi dari Inggris, Denmark, Jepang, Jerman, Italia, Prancis, Kanada, dan UK turut hadir.
Airlangga menyampaikan bahwa kehadiran negara-negara tersebut mencerminkan meningkatnya ketertarikan global terhadap peluang investasi energi terbarukan di Indonesia.
Menurutnya, potensi Indonesia dalam pengembangan energi bersih—mulai dari geothermal, tenaga surya hingga waste to energy—menjadi daya tarik utama bagi mitra internasional.
"Ini menunjukkan kuatnya kepercayaan internasional terhadap proyek-proyek renewable di Indonesia," ujar Airlangga.
Pendanaan JETP Naik Menjadi USD21,4 Miliar
Dalam pemaparannya, Airlangga menyebut bahwa komitmen pendanaan JETP bagi Indonesia kini meningkat menjadi USD 21,4 miliar, dari sebelumnya USD 20 miliar.
Dari total tersebut, USD 11 miliar berasal dari IPG, sementara USD 10 miliar dialokasikan melalui skema Defence.
"Komitmennya USD 20 miliar dan sekarang sudah meningkat menjadi USD 21,4 miliar," jelasnya.
Airlangga menambahkan bahwa USD 3,1 miliar dari total pendanaan telah memasuki tahap mobilisasi.
Dana ini digunakan untuk menjalankan sejumlah proyek energi bersih, termasuk Green Corridor Sulawesi dan program dedieselisasi.
Selain itu, USD 5,5 miliar tengah dinegosiasikan untuk proyek lanjutan seperti pengembangan geothermal di Sumatra dan proyek waste to energy melalui kolaborasi dengan AZEC.
"Beberapa proyek yang sudah ada adalah Green Corridor Sulawesi, program dedieselisasi, kemudian program geothermal di Sumatra, kemudian dengan kombinasi AZEC juga ada proyek Waste to Energy, dan mereka meminta agar pertama prioritisasi daripada solar rooftop," pungkasnya.