Rahasia di Balik Label “Made in…” yang Sebenarnya Menyesatkan
Label "made in" diinisiasi oleh Inggris, namun berdampak terhadap tujuan dibentuk label tersebut.
Label "made in..." pada setiap produk menjadi tanda asal produk tersebut dibuat. Di pasaran, "made in China" menjadi teks yang paling sering ditemui masyarakat.
Namun, label "made in" sejatinya memiliki sejarah panjang. Diawali dari label "made in Germany".
Dilansir dari The New Yorkers, label ini diinisiasi oleh Inggris dengan tujuan untuk mempermalukan produk tiruan Jerman pada tahun 1887. Tapi siapa sangka, label itu justru menjadi lambang kualitas dunia dalam waktu kurang dari satu abad.
Awalnya, Inggris mewajibkan barang impor dari Jerman mencantumkan asalnya agar masyarakat bisa membedakan mana produk lokal dan mana yang tiruan. Namun strategi itu justru menjadi bumerang. Jerman membenahi kualitas produksinya, dan pada akhir abad ke-19, produk-produk Jerman mulai mendominasi pasar global.
Label “Made in Germany” kemudian menjadi simbol keandalan. Bahkan, produsen mobil ternama seperti Volkswagen dan Audi menjadikan warisan mereka sebagai bagian dari strategi branding global. Namun seiring waktu, industri berubah.
Satu Tas, Tiga Negara
Saat ini, sangat sedikit produk Jerman yang benar-benar diproduksi secara utuh di dalam negeri. Banyak proses produksi—mulai dari pemotongan bahan, perakitan, hingga pengepakan—telah dialihdayakan ke negara-negara berbiaya murah seperti Bangladesh, Tunisia, dan Ukraina.
Namun karena proses akhir dilakukan di Jerman, banyak produsen tetap mencantumkan label “Made in Germany.” Inilah yang mulai menjadi perhatian Uni Eropa.
UE berencana untuk memperketat aturan pelabelan asal-usul. Produsen nantinya harus mencantumkan tempat di mana “nilai tambah terbesar” dilakukan, bukan hanya di mana barang terakhir kali dirakit.
Contohnya, perusahaan tas ternama Jerman, Picard, menjual lini “Made in Germany” yang sebenarnya dirakit di Tunisia dari kulit Italia, lalu diselesaikan di Jerman. Di bawah aturan baru, tas itu mungkin harus diberi label “Made in Tunisia.”
Picard menolak keras rencana ini. “Omong kosong,” kata mereka. Tapi produsen Jerman kecil yang seluruh prosesnya dilakukan di dalam negeri justru mendukung usulan tersebut, demi transparansi dan keadilan pasar.
Globalisasi Mengaburkan Asal Usul
Di era globalisasi, satu produk bisa melibatkan tiga hingga lima negara dalam proses pembuatannya. Satu label saja tak bisa mewakili kompleksitas itu. Tapi di sisi lain, konsumen berhak tahu dari mana asal barang yang mereka beli.
Uni Eropa berpendapat bahwa pelabelan yang lebih jujur akan membantu dalam kasus penarikan produk, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan mendorong persaingan yang lebih sehat.
Namun beberapa pihak melihat ini sebagai cara lain untuk menyeimbangkan kembali kekuatan pasar Eropa dan mungkin, membatasi dominasi ekspor Jerman, yang sejauh ini sangat unggul, terutama ke negara-negara super power seperti China.
Apa pun hasil dari regulasi baru ini, satu hal jelas: label “Made in…” kini lebih merupakan alat marketing daripada indikator tempat produksi sebenarnya. Di zaman ketika satu tas bisa dibuat di tiga negara, label asal mungkin sudah tidak lagi relevan.
Bagi konsumen, pertanyaan yang muncul kini bukan hanya “bagus atau tidak?”, tapi juga: “Ini benar-benar buatan mana?”