Perbanas: Proyeksi Kredit Perbankan 2026 Tetap Single Digit di Tengah Ketidakpastian Global
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan 2026 akan tetap berada di kisaran single digit, dipengaruhi oleh permintaan sektor riil yang belum kuat dan ketidakpastian global.
Perbanas: Proyeksi Kredit Perbankan 2026 Tetap Single Digit di Tengah Ketidakpastian Global
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2026 akan tetap berada di level single digit. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani, di Jakarta pada Selasa, 6 Januari 2026. Proyeksi ini muncul di tengah belum kuatnya permintaan dari sektor riil serta ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.
Industri perbankan cenderung bersikap konservatif dalam menyalurkan pembiayaan, dengan rata-rata proyeksi pertumbuhan sekitar 8-9 persen. Meskipun likuiditas perbankan cukup memadai, dunia usaha masih menahan diri untuk mengajukan kredit baru. Bank Indonesia (BI) sendiri menargetkan pertumbuhan kredit pada 2026 mencapai 8%-12% secara tahunan (yoy).
Sikap hati-hati ini disebabkan oleh belum adanya pemicu permintaan kredit yang signifikan, sehingga bank-bank memilih untuk tidak terlalu agresif dalam ekspansi. Kondisi ini menunjukkan tantangan yang harus dihadapi perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Tantangan Permintaan Kredit dari Sektor Riil
Aviliani menjelaskan bahwa optimisme pertumbuhan kredit baru akan terbentuk jika belanja dan aktivitas investasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali meningkat. Skala belanja dan investasi BUMN yang besar seringkali menjadi pemicu awal bagi permintaan kredit di pasar. Namun, realisasi kredit dari BUMN saat ini masih terbatas pada entitas tertentu yang proyeknya telah memasuki tahap implementasi.
Perbanas berharap agar mekanisme pengambilan keputusan investasi BUMN dapat disederhanakan pada tahun ini. Hal ini bertujuan agar pergerakan sektor riil dapat berlangsung lebih cepat dan memicu permintaan kredit yang lebih tinggi. Sementara itu, dari sisi swasta, minat terhadap kredit memang ada, tetapi belum merata. Permintaan terutama datang dari pelaku usaha dengan kepastian permintaan atau yang bergerak di sektor berprospek jangka panjang, sedangkan pelaku usaha lain masih bersikap wait and see di tengah ketidakpastian global.
Segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga belum menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit. UKM menghadapi tantangan berupa keterbatasan permintaan dan inovasi. Aviliani menekankan perlunya perbaikan model bisnis agar UKM dapat terintegrasi ke dalam rantai pasok perusahaan menengah dan besar, sehingga mampu tumbuh berkelanjutan dan meningkatkan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja.
Dinamika Kredit Investasi dan Modal Kerja
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit per November 2025 tercatat sebesar 7,74 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini didominasi oleh kredit investasi yang mencatatkan pertumbuhan double digit. Sebaliknya, kredit modal kerja masih berada dalam tren yang rendah.
Meskipun kredit investasi menunjukkan pertumbuhan yang baik, Aviliani menggarisbawahi bahwa aliran pembiayaan tersebut lebih banyak mengarah ke sektor padat modal. Sektor-sektor ini relatif minim menyerap tenaga kerja dan cenderung melakukan efisiensi. Oleh karena itu, diperlukan insentif yang mendorong penciptaan lapangan kerja untuk meningkatkan kualitas investasi.
Untuk kredit modal kerja, pada periode suku bunga tinggi, banyak pelaku usaha yang memilih menggunakan dana internal untuk mendukung operasional. Mereka juga melakukan berbagai langkah efisiensi guna menekan biaya. Aviliani berharap, seiring dengan potensi penurunan suku bunga ke depan, pelaku usaha dapat kembali memanfaatkan pembiayaan perbankan untuk modal kerja.
Sumber: AntaraNews