Pemprov Bali Petakan Potensi Perikanan Bali di Delapan Kabupaten/Kota
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali telah merampungkan pemetaan sumber daya laut di delapan kabupaten/kota. Hasil pemetaan ini mengungkap beragamnya **Potensi Perikanan Bali** yang menjanjikan, baik untuk konsumsi lokal maupun ekspor, sekaligus men
DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (KP) Provinsi Bali, telah menyelesaikan pemetaan komprehensif terhadap sumber daya perikanan laut di delapan kabupaten/kota di Pulau Dewata. Langkah ini diambil menyusul arahan langsung dari Gubernur Wayan Koster untuk mengidentifikasi dan mengoptimalkan potensi kelautan Bali. Pemetaan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran jelas mengenai kekayaan laut yang dimiliki.
Kepala Dinas KP Bali, Putu Sumardiana, menjelaskan bahwa pemetaan tersebut menunjukkan potensi perikanan Bali yang sangat besar, meskipun wilayah Bali relatif kecil. Ia menambahkan bahwa seluruh kabupaten/kota memiliki potensi laut yang signifikan, kecuali Kabupaten Bangli yang tidak memiliki garis pantai. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk pengembangan sektor perikanan di masa mendatang.
Dari hasil identifikasi, ditemukan beragam jenis ikan potensial di masing-masing wilayah laut, yang menjanjikan baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun untuk pasar ekspor. Data terakhir tahun 2024 menunjukkan produksi perikanan yang stabil, menandakan keberlanjutan potensi ini. Pemetaan ini menjadi langkah awal strategis untuk mengelola sumber daya kelautan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Ragam Komoditas Unggulan Potensi Perikanan Bali
Pemetaan sumber daya perikanan laut di Bali mengungkap kekayaan jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan di setiap kabupaten/kota. Di Kabupaten Karangasem, ikan tongkol krai menjadi primadona dengan produksi mencapai 20.475,34 ton per tahun, menjadikannya jenis ikan tangkapan terbesar di wilayah timur Bali. Potensi perikanan Bali di Karangasem sangat dominan pada jenis ikan ini.
Sementara itu, Kabupaten Jembrana dikenal kaya akan ikan lemuru dengan produksi 22.501,33 ton. Di Buleleng, tongkol abu-abu mendominasi tangkapan dengan 4.785,25 ton per tahun. Klungkung memiliki potensi tongkol komo sebanyak 2.172,07 ton, dan di Tabanan, ikan layur kepala besar menjadi tangkapan tertinggi meskipun dengan jumlah 74,24 ton.
Kota Denpasar mencatat produksi cakalang sebesar 7.501,64 ton per tahun, sedangkan Badung memiliki banyak tembang garis kuning dengan produksi 2.282,58 ton. Kabupaten Gianyar juga memiliki lemuru sebagai tangkapan dominan, meskipun dengan produksi 183,06 ton. Data produksi ini merupakan data terakhir tahun 2024 dan cenderung stabil setiap tahunnya, menunjukkan konsistensi potensi perikanan di wilayah tersebut.
Mengoptimalkan Potensi Ekspor dan Budidaya Perikanan
Selain ikan tangkap, potensi perikanan Bali juga merambah ke sektor budidaya dan ekspor. Di Buleleng, bibit ikan bandeng atau nener menjadi komoditas ekspor yang sangat menjanjikan bagi kelompok nelayan. Sebelumnya, nelayan kerap mengekspor satu juta ekor bibit bandeng ke Filipina dengan nilai Rp2 per ekor.
Namun, dengan upaya budidaya, nilai jual bibit bandeng dapat meningkat drastis menjadi Rp3.000 per ekor atau Rp25.000 per kilogram, meskipun membutuhkan waktu beberapa bulan untuk panen. Inisiatif ini menunjukkan langkah maju dalam meningkatkan nilai tambah produk perikanan lokal. Selain itu, ikan kerapu dari Jembrana juga memiliki potensi ekspor yang tinggi.
Untuk jenis ikan lainnya, Pemprov Bali berupaya mengoptimalkan untuk konsumsi lokal di Bali maupun di tingkat nasional, guna mewujudkan kedaulatan pangan. Contohnya, ikan tongkol dan cakalang yang banyak ditemukan di Gianyar atau Karangasem, dapat diolah menjadi ikan pindang yang sentra-sentranya sedang dipetakan. Ini merupakan strategi penting untuk memastikan ketersediaan pangan dan mendukung ekonomi lokal.
Tantangan dan Harapan bagi Nelayan Bali
Meskipun potensi perikanan Bali sangat besar, sektor ini tidak luput dari tantangan. Putu Sumardiana mencatat bahwa saat ini ada 27.033 nelayan aktif di Bali yang tergabung dalam berbagai kelompok. Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah perubahan iklim, yang seringkali menyebabkan nelayan tidak dapat melaut pada bulan-bulan tertentu, mengakibatkan paceklik.
Di samping potensi ikan laut, Pemprov Bali juga menyisir potensi ikan budidaya. Banyak tambak di seluruh kabupaten/kota di Bali berhasil membudidayakan berbagai jenis ikan seperti lele, udang vaname, nila, kerapu macan, ikan mas, gurami, patin, hingga lobster. Ini menunjukkan diversifikasi sektor perikanan yang menjanjikan.
Hasil pemetaan ini akan segera disampaikan kepada Gubernur Koster untuk menunjukkan betapa besarnya kekayaan laut Bali dan potensi pengembangannya. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi perikanan Bali diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan nelayan dan perekonomian daerah secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews