Krakatau Steel Tarik Utang Rp4,9 Triliun dari Danantara, Dipakai untuk Apa?
Porsi terbesar berupa pinjaman modal kerja senilai Rp4,18 triliun dengan tenor sekurang-kurangnya lima tahun.
Emiten baja nasional, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) kembali memperoleh dukungan pendanaan dari pemegang sahamnya. Kali ini, perusahaan menerima fasilitas pinjaman dari PT Danantara Asset Management (DAM) sebagai bagian dari strategi penyehatan keuangan jangka menengah.
Mengutip Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/12), kesepakatan pinjaman tersebut resmi diteken pada 19 Desember 2025 dan telah disampaikan melalui keterbukaan informasi kepada publik.
Manajemen KRAS menegaskan bahwa fasilitas ini diarahkan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Selain menopang modal kerja, pendanaan ini juga diharapkan menjaga kesinambungan operasional di tengah proses restrukturisasi yang masih berlangsung.
Tetulis total nilai pinjaman yang disiapkan DAM untuk KRAS mencapai maksimal Rp4,94 triliun atau sekitar USD 295 juta. Pendanaan tersebut dibagi ke dalam dua pos utama dengan tujuan penggunaan yang berbeda.
Porsi terbesar berupa pinjaman modal kerja senilai Rp4,18 triliun dengan tenor sekurang-kurangnya lima tahun. Dana ini akan dimanfaatkan untuk pengadaan bahan baku bagi fasilitas produksi utama, khususnya pabrik Hot Strip Mill (HSM) dan Cold Rolled Mill (CRM), termasuk mendukung kebutuhan bahan baku pabrik pipa.
Sementara itu, pinjaman senilai Rp752,81 miliar diberikan dengan jangka waktu minimal enam tahun. Dana tersebut dialokasikan untuk pembiayaan program pengunduran diri sukarela (Golden Handshake) dan penyehatan Dana Pensiun Krakatau Steel melalui skema Lump Sum Window.
Dampak Pinjaman Terhadap Kinerja KRAS
Manajemen KRAS menyebutkan bahwa transaksi ini masuk kategori transaksi material karena nilainya melampaui 20 persen dari total ekuitas perseroan. Ketentuan tersebut mengacu pada POJK No. 17/POJK.04/2020, sehingga memerlukan keterbukaan informasi kepada publik.
Langkah pendanaan ini dinilai krusial mengingat kinerja operasional KRAS belum sepenuhnya pulih, meskipun restrukturisasi telah dilakukan pada 2019 dan kembali diperkuat pada 2024. Ketergantungan produksi pada kinerja HSM membuat dukungan likuiditas menjadi faktor kunci bagi keberlangsungan usaha.
"Dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan tersebut, perusahaan memerlukan dukungan pendanaan dari DAM dalam bentuk pinjaman pemegang saham guna mendukung kelangsungan dan stabilitas kegiatan operasional perusahaan,” tulis manajemen KRAS dalam keterbukaan informasi.
Bisa Penuhi Kebutuhan Domestik
Maka melalui tambahan dana ini, KRAS diharapkan memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk menekan biaya produksi, meningkatkan output, dan memperbaiki daya saing produk baja domestik.
Di sisi lain, penguatan kinerja perseroan juga diharapkan mendukung kemandirian industri baja nasional, mengurangi impor baja, serta selaras dengan agenda pemerintah dalam percepatan hilirisasi industri dan pemenuhan TKDN proyek infrastruktur.
"Langkah ini juga sejalan dengan program prioritas pemerintah dalam percepatan hilirisasi industri," ujar manajemen KRAS.