Kopi Indonesia Kian Dikenal Dunia, Bagaimana Kesejahteraan Petaninya?
Kesejahteraan mereka sangat bergantung pada komitmen pembeli maupun pengolah kopi yang bersedia membeli hasil panen dengan harga layak.
Fenomena masyarakat 'demam' kopi ternyata masih tinggi. Menilik data Tokopedia, adanya peningkatan pada jumlah transaksi di kategori kopi pada periode kuartal III/2025 dibanding kuartal sebelumnya.
Tercatat kategori ini tumbuh 72 persen dengan wilayah transaksi tertinggi ada di Jambi, Jawa Barat, Sumatra Utara dan Riau.
Lantas, bagaimana nasib para petani kopinya?
Rainaldi, seorang prosesor sekaligus petani kopi menilai kondisi petani saat ini khususnya di Sumedang, Jawa Barat, masih berada di posisi yang dilematis.
Kesejahteraan mereka sangat bergantung pada komitmen pembeli maupun pengolah kopi yang bersedia membeli hasil panen dengan harga layak.
"Petani kopi harus dipertemukan dengan pihak yang berkomitmen jangka panjang untuk menerima hasil olahan dengan harga menarik. Itu yang menentukan kesejahteraan mereka,” katanya.
Tak sekadar harga, kesejahteraan petani tetap sangat ditentukan oleh pola pikir mereka sendiri. Rainaldi bilang, banyak petani kopi di Sumedang yang masih menganggap kopi sebagai “bonus”, mengingat masa panennya hanya 3–5 bulan per tahun.
“Rata-rata hasil panen kopi dianggap bonus. Dari 12 bulan, panen hanya 3 bulan. Sisanya 9 bulan mereka jarang merawat kebun, bahkan banyak yang bekerja sebagai buruh di tempat lain. Akibatnya, perawatan kebun kopi baru dilakukan menjelang musim panen,” jelasnya.
Padahal, menurutnya, sebagian keuntungan panen seharusnya disisihkan untuk kembali ke kebun, misalnya membeli pupuk. Dengan begitu, produktivitas bisa terus meningkat.
“Kalau ada input berupa pupuk dan perawatan, output produksinya juga pasti lebih baik. Jadi masa depan petani ada di tangan mereka sendiri,” jelasnya.
Tren Harga Kopi
Tren harga kopi saat ini relatif menggembirakan, khususnya untuk jenis Arabika dan Excelsa. Di Jawa Barat, harga Arabika berada di kisaran Rp10.000–16.000 per kilogram ceri, dengan rata-rata bersih Rp13.000–Rp15.000.
Sementara itu, Excelsa bahkan bisa mencapai lebih Rp15.000 per kilogram ceri. Kopi jenis ini disebut-sebut kini jadi primadona.
Peningkatan harga Excelsa ini gara-garanya tak lepas dari prestasi World Brewers Cup di kancah internasional, seperti Ryan Wibawa dan Bayu Pariwura yang berhasil mengharumkan kopi Excelsa. Sebelumnya, kopi jenis ini tak diminati petani karena dianggap kurang laku di pasar.
“Dulu Excelsa dianggap kopi asalan yang dicampur dengan Robusta. Sekarang banyak petani yang mulai serius mengembangkan Excelsa karena harga jualnya lebih stabil,” ujar dia.
Sebaliknya, harga Robusta masih sangat fluktuatif. Tahun ini, harganya berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram ceri, membuat petani enggan bergantung penuh pada komoditas tersebut.
Wawan, salah satu petani kopi juga mengamini kondisi tersebut. Kata dia, dua tahun lalu sulit menjual excelsa ke kedai-kedai. Ini karena belum terkenal, sementara pasar maunya Arabica.
"Sekarang harga excelsa udah jadi biji kopi atau green bean Rp80.000. Msh tinggi dibandingkan kopi lain," ujar dia.
Hal senada diungkapkan Elin Herliana. Kades Margamekar, Kabupaten Sumedang, kesejahteraan petani kopi di wilayahnya kini pelan-pelan mulai membaik. Apalagi ketika kopi jenis Excelsa ini mulai diminati pasar.
"Kalau dibandingkan sebelumnya, kondisinya biasa saja, tidak ada pergerakan yang signifikan, meskipun petani tetap menanam. Sekarang, harga cenderung lebih baik. Apalagi ditambah dengan prestasi yang diraih di luar negeri, hal itu sangat membantu meningkatkan pendapatan petani," ungkap dia.
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penghasil kopi di Indonesia dengan perkebunan arabika menjadi yang terluas, mencapai 3.707 hektar pada 2024.
Sementara perkebunan kopi excelsa terdaftar di Jawa Barat memiliki luas 88 hektar dan sisanya ditemukan tersebar di area tempat tinggal warga yang jumlahnya lebih dari 3.000 pohon.
Pemerintah Kabupaten Sumedang mencatat, Sumedang menjadi salah satu sentra kopi grade 1 di Indonesia, yang juga menghasilkan kopi excelsa, dengan beberapa areal penghasil kopi antara lain Gunung Manglayang, Gunung Beser Rancakalong, Gugusan Gunung Kareumbi, Gunung Cakrabuana, dan Gunung Tampomas.