Kinerja Pabrik Korea Selatan Tertekan, Pesanan Baru Anjlok Imbas Perang Dagang
Industri manufaktur Korea Selatan memasuki Mei dalam kondisi yang tidak stabil.
Aktivitas manufaktur Korea Selatan kembali menyusut pada Mei 2025, mencatat kontraksi selama empat bulan berturut-turut. Hal ini disebabkan oleh lemahnya permintaan domestik dan dampak negatif dari tarif perdagangan Amerika Serikat, menurut survei yang dirilis oleh S&P Global pada Senin (2/6).
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur naik tipis ke angka 47,7 pada Mei dari 47,5 pada April. Namun, angka ini tetap berada di bawah level 50, batas antara ekspansi dan kontraksi, sejak Februari.
“Industri manufaktur Korea Selatan memasuki Mei dalam kondisi yang tidak stabil,” kata Usamah Bhatti, ekonom dari S&P Global Market Intelligence. Ia menambahkan bahwa perusahaan menyebut stagnasi ekonomi dalam negeri dan tarif AS sebagai penyebab utama penurunan.
Pesanan baru tercatat menurun paling tajam sejak Juni 2020, sementara output atau produksi menyusut pada laju tercepat dalam lebih dari dua setengah tahun terakhir. Kondisi ini memperburuk situasi ekonomi Korea Selatan yang sebelumnya telah mengalami kontraksi tak terduga pada kuartal pertama 2025.
Bank Sentral Korea (Bank of Korea) merespons dengan memangkas suku bunga untuk keempat kalinya dalam siklus pelonggaran saat ini. Prospek pertumbuhan ekonomi tahun ini juga direvisi turun menjadi 0,8%, menjelang pemilihan presiden pada 3 Juni.
Survei juga mencatat penurunan backlog pekerjaan untuk bulan kedua berturut-turut, dengan tingkat penurunan terdalam dalam hampir lima tahun, seiring lemahnya pesanan baru.
Meski begitu, sentimen produsen terhadap masa depan menunjukkan sedikit optimisme setelah sebelumnya negatif pada April, sebagian dipicu oleh harapan perbaikan ketegangan perdagangan global. Namun, tingkat kepercayaan masih terbatas karena kekhawatiran atas dampak lanjutan dari tarif AS.