Kemiskinan Menurut Para Ahli, Ternyata Tak Melulu soal Masalah Ekonomi
Definisi-definisi ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan akses terhadap layanan dasar.
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dihadapi banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai kemiskinan, mencerminkan berbagai perspektif dan konteks sosial-ekonomi.
Menurut Hall dan Midgley, kemiskinan adalah kondisi kekurangan materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan layak. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan kekurangan finansial, tetapi juga aspek sosial yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang.
Sementara itu, Reitsma dan Kleinpenning mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan, baik material maupun non-material.
Friedman menambahkan bahwa kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakses kekuasaan sosial, termasuk aset, sumber keuangan, dan pengetahuan. Definisi ini menyoroti pentingnya akses terhadap sumber daya dalam menentukan status ekonomi seseorang.
Suparlan juga mengemukakan bahwa kemiskinan merupakan standar tingkat hidup rendah yang disebabkan oleh kekurangan materi pada sejumlah orang dibandingkan dengan masyarakat sekitarnya.
Berbagai Perspektif Tentang Kemiskinan
Levitan (1996) menjelaskan kemiskinan sebagai kekurangan barang dan pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup layak dalam masyarakat.
Sementara itu, Futurchman dan Marcelinus Moko menekankan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Definisi-definisi ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan akses terhadap layanan dasar.
Amartya Sen memberikan perspektif yang berbeda dengan mendefinisikan kemiskinan sebagai 'capability deprivation,' atau kekurangan kebebasan substansial. Menurut Sen, seseorang dianggap miskin jika ia kekurangan kemampuan untuk mencapai hal-hal yang dianggap berharga dalam hidupnya. Ini menekankan pentingnya aspek kebebasan dan pilihan dalam memahami kemiskinan.
Bank Dunia mengukur kemiskinan di Indonesia berdasarkan pendapatan per kapita, dengan kategori miskin bagi penduduk yang memiliki pendapatan di bawah sepertiga rata-rata pendapatan nasional. Garis kemiskinan yang ditetapkan Bank Dunia adalah US$1 per hari untuk negara berkembang, dan US$2-4 untuk negara berkembang lainnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia juga memberikan definisi dengan menghitung garis kemiskinan berdasarkan konsumsi pangan dan non-pangan.
Faktor Penyebab dan Klasifikasi Kemiskinan
Yacoub (2012) menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah mendasar yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup paling dasar dan merupakan masalah global. Sayogyo menambahkan bahwa kemiskinan diukur berdasarkan tingkat kehidupan di bawah standar kebutuhan hidup minimum, yang mencakup kebutuhan pokok pangan yang memungkinkan seseorang untuk bekerja dan hidup sehat.
Menurut Dowling dan Valenzuela, kemiskinan sering disebabkan oleh rendahnya modal manusia, seperti pendidikan dan pelatihan. Sementara itu, Sharp (dalam Kuncoro, 2006) mengidentifikasi tiga faktor penyebab kemiskinan dari sisi ekonomi, yaitu ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya, perbedaan kualitas sumber daya manusia, dan ketidakadilan ekonomi, sosial, atau politik.
Sumodiningrat (1999) mengklasifikasikan kemiskinan menjadi lima kelas: absolut, relatif, struktural, kronis, dan sementara. Kemiskinan absolut ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan dasar minimum dan tingkat pendapatan.
Sementara itu, Sumedi dan Supadi (2004) menjelaskan ciri-ciri masyarakat miskin, seperti tidak memiliki akses ke pengambilan keputusan dan tersingkir dari institusi utama masyarakat.