Jemput Ekonomi Digital, MMA Impact Indonesia 2025 Dorong Pemasaran Ikuti Zaman
Adapun ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai antara USD 210 miliar hingga USD 360 miliar pada 2030.
Marketing + Media Alliance (MMA) menggelar forum MMA Impact Indonesia 2025 di Grand Ballroom The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta pada Kamis (6/11). Forum premier ini mempertemukan Ketua Dewan dan para pelaku usaha besar, demi menjemput ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai USD 210 - USD 360 miliar di 2030.
MMA IMPACT Indonesia 2025 menegaskan kembali komitmen Marketing+ Media Alliance (MMA) untuk memberdayakan para pemasar dengan kerangka kerja berbasis bukti, serta platform kolaboratif yang mendorong inovasi, skalabilitas, dan pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua MMA Indonesia Sutanto Hartono menekankan bagaimana mandat pemasaran telah berkembang, dari membangun kesadaran menjadi memberikan pertumbuhan yang terukur dan nilai perusahaan yang berkelanjutan.
"Saat kita menavigasi gelombang pertumbuhan berikutnya, kepemimpinan pemasaran di Indonesia harus menyatukan pandangan strategis, agentic AI, dan pengalaman pelanggan yang beresonansi secara emosional untuk memberikan nilai perusahaan," ujar dia, Kamis (6/11)
"Dengan adopsi AI, kita memasuki era di mana para pemimpin harus menanamkan kecerdasan ke dalam setiap keputusan pemasaran, menyeimbangkan tujuan dengan kinerja, dan merancang pengalaman pelanggan yang membangun tidak hanya loyalitas, tetapi pertumbuhan jangka panjang," tambah Sutanto Hartono.
Adapun ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai antara USD 210 miliar hingga USD 360 miliar pada 2030. Didorong oleh inovasi fintech, adopsi AI canggih, layanan cloud, dan kerangka kerja pemerintah seperti Strategi Ekonomi Digital Nasional 2030 dan Digital Economy Framework Agreement.
Transaksi Digital Capai USD 760 Miliar
Gelombang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berikutnya akan ditandai dengan ekspansi dinamis dalam e-commerce dan keuangan digital. Dengan pembayaran real-time dan dompet digital diperkirakan mendorong volume transaksi hingga USD 760 miliar pada 2030.
Tren yang menonjol untuk 2025–2030 adalah antisipasi penggandaan pasar e-commerce Indonesia, yang diperkirakan melampaui USD 194 miliar pada 2030. Dipimpin oleh pemasaran berbasis AI, pengalaman ritel omnichannel, dan pengaruh ekonomi kreator yang semakin dalam.
Para analis memperkirakan bahwa Gen Z dan Milenial (berusia 18–34 tahun) akan menyumbang hampir 85–90 persen dari semua transaksi e-commerce digital. Terutama melalui platform mobile-first dan dompet digital, seiring penetrasi internet mendekati 80 persen secara nasional.
Konektivitas Pembayaran Digital
Selain itu, investasi berkelanjutan dari pemerintah dan industri dalam infrastruktur digital diharapkan dapat mengamankan inklusi keuangan. Menargetkan lebih dari 90 persen konektivitas dan akses universal ke sistem pembayaran digital pada 2030.
Merefleksikan misi global MMA dan dampak berkelanjutannya pada ekosistem pemasaran Indonesia, Country Head dan Direktur Dewan MMA Indonesia Shanti Tolani mencatat, para pemimpin saat ini harus melihat pada pertumbuhan kolektif dan kolaboratif, berfokus pada data, inovasi, teknologi AI sebagai mesin terpadu.
"Dengan Pasar Big Data Analytics Software Indonesia yang tumbuh pada CAGR 9,35 persen dan diproyeksikan mencapai USD 73,77 miliar pada tahun 2030, dan pasar social-commerce yang diproyeksikan mencapai sekitar USD 8,62 miliar pada tahun 2030. Kita melihat bagaimana kepemimpinan pemasaran bekerja untuk menancapkan setiap aspek guna memastikan pembangunan merek dalam ekuitas, keberagaman, dan nilai jangka panjang," tutupnya.